Keterwakilan Perempuan Meningkat 33 Persen di Sumsel

38

BP/DUDY OSKANDAR FGD Keterwakilan Perempuan yang dilakukan di Volum Cafe, Kamis (16/ 10).

Palembang, BP–Dibandingkan periode pemilihan anggota legislatif tahun 2014, keterwakilan perempuan di Sumatera Selatan meningkat 33 persen. Pada pemilihan legislatif 2014, terdapat 12 perempuan yang menjadi anggota legislatif (aleg) pada DPRD Sumsel.

Sedangkan pada pemilihan aleg 2019, jumlahnya meningkat menjadi l6 aleg perempuan. Persentase peningkatan terbesar dialami oleh aleg perempuan dari PDI-Perjuangan. Bila pada pileg 2014 partai berlogo banteng ini berhasil menempatkan aleg perempuan sebanyak tiga orang, maka pada pileg 2019, jumlahnya menjadj enam aleg perempuan atau meningkat sebesar 100 persen.

Merujuk pada hasil riset Keterwakilan Perempuan pada Agustus-September 2019, Kelly Mariana, Ketua KPU Sumsel, mengatakan peningkatan ini tak lepas dari sistem dan pola rekrutrnen partai politik di Sumatera Selatan. Menurut Kelly, peningkatan aleg perempuan itu masih diwarnai oleh pola rekrutmen yang meritokratis. Walau demikian, sesuai hasil riset yang dilakukan, tetap saja ketangguhan dan kejuangan dalam persaingan menjadi faktor yang paling penting. Kelly mengatakan hal ini pada forum FGD Keterwakilan Perempuan yang dilakukan di Volum Cafe, Kamis (16/10).

“Sebagai contoh, kejuangan dan ketangguhan bertarung dialami oleh RA Anita Noeringhati, aleg perempuan untuk DPRD Provinsi Sumatera Selatan,” katanya.
Anita memulai karir di trek yang benar sejak awal. Sejak bergabung di Partai Golkar Sumatera Selatan sekitar 10 tahun lalu, sebagai politisi perempuan, Anita berada di sayap organisasi partai, yaitu Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG). Di jalur inilah karir politik Anita terus menanjak, menjadi aleg dua periode, dan pada periode ketiga ini dia berhasil menjadi perempuan pertama yang menduduki kursi ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan.

Bahkan, tambah Kelly, keberhasilan perempuan Sumatera Selatan juga terlihat dari ajang kontestasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

“Betul kan, anggota DPD dari Sumatera Selatan seratus persen adalah perempuan,” kata Kelly bangga.

Sebagaimana diketahui, pada pernilihan umum serempak lalu, peraih suara terbanyak anggota DPD dari Sumatera Selatan didominasi oleh empat perempuan. Mereka adalah Eva Susanti, Amaliah, Jialyka Maharani, dan Arniza Nilawati. Tidak satu pun lanang dari Sumatera Selatan berhasil menjadi perwakilan dari Provinsi Sumatera Selatan.

Hasil riset yang dilakukan oleh KPU Sumatera Selatan, bekerja sama dengan MH Thamrin & Associates, menemukan adanya peningkatan jumlah calon legislatif perempuan di Sumatera Selatan dari tahun 2014 dan 2019. Secara persentase, jumlah peningkatan paling tinggi ada di PKB dengan jumlah calon meningkat 2.73% persen dari tahun 2014. Sementara itu penurunan (secara presentase atau bila dibandingkan dengan laki-laki) terjadi di PPP, PAN, dan PKS.

Hasil pemilu juga menunjukkan ada peningkatan calon legislatif terpilih dari tahun 2014 dan 2019. Pada tahun 2014 jumlah perempuan yang menduduki kursi anggota DPRD Provinsi ada 12 orang sementara pada tahun 2019 ada 16 orang, artinya meningkat sebesar 33,3 persen. PDI Perjuangan merupakan partai dengan jumlah anggota dewan perempuan terbanyak, disusul Golkar dengan tiga perempuan, lalu Gerindra, Demokrat, dan PKB masing-masing dua perempuan, dan Nasdem.

Sedangkan rekrutmen partai dilakukan dengan mode meritokrasi dan partisan. Artinya partai memperhitungkan basis massa serta prestasi yang dimiliki oleh kandidat anggota dewan. Selain itu kandidat perempuan umumnya memiliki kekerabatan terhadap partai terlebih dahulu sebelum bisa masuk dan mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Sehingga perekrutan perempuan cenderung bersifat pragmatis.
KPU sulit untuk melakukan terobosan dalam mendorong keterwakilan perempuan, dikarenakan tidak adanya regulasi yang secara spesifik mengatur hal tersebut. Namun semata menyandarkan pada strategi regulasi

Untuk “memaksa” peningkatan angka keterwakilan juga tidak akan efektif terutama dalam kaitan dengan peningkatan kualitas menuju keterwadahan perempuan yang lebih bersifat substantif daripada keterwakilan deskriptif.

Direktur MH Thamrin Associates Dr MH Thamrin mengatakan meningkatnya keterwakilan perempuan di kursi legislatif terjadi secara alamiah akibat makin banyaknya perempuan yang ikut dalam kontestasi Pileg 2019.

“Memang angka kenaikannya tidak terlalu besar, karena yang terpilih kebanyakan caleg perempuan yang punya track record baik,” ujarnya.

Masalah yang terjadi, kata dia, perempuan yang terpilih dan duduk di kursi legislatif belum sepenuhnya menjadi wakil dari kaum perempuan.

“Padahal banyak hal yang bisa diperjuangkan dalam kaitannya keterwakilan perempuan ini. Mungkin dengan mendengarkan aspirasi kaum perempuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan bisa menjadi faktor pemicu kenaikan keterwakilan perempuan. Kita lihat saja pengabdian ke masyarakat dari kaum perempuan yang sudah menjadi anggota legislatif di Sumsel,” katanya.

Ketua DPRD Sumsel sementara Hj RA Anita Noeringhati mengatakan, sebelum masuk dunia politik dia adalah pengacara yang banyak membantu masyarakat kecil.
Saat menjadi anggota DPRD Sumsel pertama kali tahun 2009 untuk dapil Palembang dari Partai Golkar bersama Misliha dari Partai Demokrat.
Lalu kembali menjadi anggota DPRD Sumsel dapil Palembang di periode 2014-2019 lalu periode 2019-2024 kembali masuk dewan.
“Saya sudah punya basis dari orang-orang yang saya bantu waktu jadi pengacara,“ katanya sembari mengatakan, dalam sejarah DPRD Sumsel baru sekali dipimpin Ketua DPRD dari kalangan perempuan yaitu dirinya.
Selain itu menurutnya di periode kali ini kaum perempuan banyak duduk di DPRD Sumsel terutama dari PDIP. #osk