Catatan BPS, Nilai Ekspor Sumsel Turun 10,96 Persen

3

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Endang Tri Wahyuningsih.
 

Palembang, BP

Berdasarkan catatab Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel, nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) periode Januari-September 2019 turun 10,96 persen dibandingkan dengan nilai ekspor tahun lalu.

Kepala BPS Provinsi Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, berdasarkan catatan yang dimiliki pihaknya, untuk nilai ekspor Provinsi Sumsel pada tahun ini mengalami penurunan.

“Nilai ekpsor Provinsi Sumsel untuk periode Januari-September 2019 mengalami penurunan sebesar 10,96 persen dibandingkan dengan nilai ekspor tahun lalu pada periode yang sama,” kata Endang, Rabu (16/10/2019).

Adapun nilai ekspor Provinsi Sumsel untuk periode Januari-September 2019 mencapai US$ 3.045,46 juta sedangkan untuk nilai ekspor Januari-September 2018 mencapai US$ 3.420,44 juta.

“Dengan pencapaian itu, maka adanya penurunan sebesar 10,96 persen untuk nilai ekspor pada periode Januari-September 2019 ini,” ujar Endang.

Endang menjelaskan, penurunan nilai ekspor Provinsi Sumsel ini disebabkan karena turunnya nilai ekspor nonmigas sebesar 16,52 persen yaitu dari US$ 299,37 juta menjadi US$ 249,92 juta dan nilai ekspor migas juga turun sebesar 19,91 persen dari US$ 35,17 juta menjadi US$ 28,16 juta. Beberapa komoditi utama yaitu karet, bubur kayu/pulp, dan batubara mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Seperti komoditas karet yang nilai ekspornya turun sebesar US$ 37,29 juta. Lalu, bubur kayu/pulp turun sebesar US$ 23,95 juta dan batubara turun sebesar US$6,83 juta.

“Penurunan tersebut disebabkan berbagai macam faktor, diantaranya yaitu situasi bencana Karhutlah yang melanda sebagian besar wilayah Sumsel. Hal itu menyebabkan aktifitas masyarakat menjadi terganggu. Baik petani yang melakukan penyadapan maupun transportasi yang melakukan distribusi barang,” jelas Endang.

“Selain itu, produktifitas perkebunan karet petani juga mengalami penurunan. Ketika memasuki musim kemarau beberapa waktu lalu, tanaman karet warga banyak yang terkena penyakit gugur daun. Ini membuat pabrik yang memproduksi crumb rubber kekurangan bahan baku Bokar untuk diolah dan juga munculnya sejumlah negara produsen baru yang membuat persaingan perdagangan karet dunia menjadi lebih kompetitif. Akibat penawaran yang banyak, kondisi itu membuat harga karet anjlok,” tambah Endang.

Endang menambahkan, Kondisi tersebut harus segera diatasi pemerintah daerah. Sebab, jika dibiarkan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Sumsel. Terutama dari sisi besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihasilkan. Selain itu, pengaruhnya juga bisa mengganggu pencapaian penurunan angka kemiskinan yang ingin dicapai Pemprov Sumsel menjadi dua digit.

“Karet jadi komoditas unggulan warga. Kalau harga dan produksi komoditas ini terganggu otomatis akan berimbas ke pendapatan masyarakat. Yang nantinya berimbas kepada daya beli masyarakat,” katanya. #dud