Asap Makin Pekat, BMKG: Kondisi Terekstrem Selama Berlangsungnya Karhutla

6

BP/IST Suasana kota Palembang yang ditutupi asap, Senin (14/10).

Palembang, BP–Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang. Pada Senin (14/10) pagi, kabut asap bahkan sangat tebal dan pekat.

Diberitakan sebelumnya, jarak pandang di sekitar aliran sungai Musi hanya sekitar 50 meter. Efek dari asap tersebut, belum ada speedboot yang berangkat.
Selain itu anak-anak sekolah mendadak dipulangkan dari sekolah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palembang mencatat, kabut asap yang menerpa kota Palembang, Senin, menjadi yang paling ekstrem sepanjang tahun ini.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun SMB II Palembang Bambang Beny Setiadji mengatakan angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN Tanggal 14 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

Baca:  Hot Spot Naik, Personel Karhutla Sumsel Ditambah

Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik, titik panas terbanyak pada wilayah Kab.
OKI 139 titik panas dan Kabupaten Banyu Asin 67 titik panas.

“Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrim selama berlangsungnya Karhutla dengan indikasi kwantitas dan jarak pandang yang terjadi.

Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00) dan sore hari (16.00-20.00) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, fenomena Asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari.

Baca:  OKI Masih Miliki Titik Api

Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari.

“Jarak Pandang Terendah pada pagi hari tanggal 14 Oktober 2019 berkisar hanya 50-150 m dari jam 06.30-08.30 dengan Kelembapan pada saat itu 95-96% dengan keadaan cuaca Asap (Smoke) yang berdampak 7 (tujuh) penerbangan di Bandara SMB II Palembang mengalami delay (tertunda),” katanya.

Secara Regional, melemahnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan dan masih adanya pusat tekanan rendah di wilayah tersebut mengakibatkan adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah tersebut dari wilayah Indonesia, hal ini mengakibatkan tetap menurunnya potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel 3 (tiga) hari ke depan (14-16 Oktober 2019).

Baca:  Beberapa Hari ke Depan Sumsel Alami Cuaca Kering

Kondisi angin timuran yang menuju pusat tekanan rendah di Samudera Hindia akan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menyebabkan potensi hujan di wilayah Sumsel bagian Barat-Utara (Kab. Musi Rawas, Kota Lubuk Linggau, Kab. Muba, Kab. Lahat, dan Kab. Muara Enim) pada tanggal 17-18 Oktober 2019.

Sedangkan secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang.

“BMKG Sumsel mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari (04.00-08.00) dan sore hari (16.00-20.00) seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara (asap) dan menurunnya jarak pandang,” kata Beny.#osk