Asap di Sumsel Makin Pekat, Pengamat Lingkungan: Tidak Ada Upaya Pencegahan yang Maksimal

3

BP/DUDY OSKANDAR Pengamat lingkungan hidup dari UIN Raden Fatah, Palembang, Yenrizal Tarmizi

Palembang, BP–Bencana kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia sulit diatasi termasuk di Provinsi Sumatera Selatan, lantaran salah satunya faktor pejabat daerah yang kurang peduli dengan wilayahnya yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Pengamat lingkungan hidup dari UIN Raden Fatah, Palembang, Yenrizal Tarmizi mengharapkan, kalangan media untuk mengekspose kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel yang makin pekat terutama akibat kepala daerah yang tidak ada kepedulian dengan karhutla di Sumsel atau ada yang menjadi oknum atau orang yang terlibat karhutla.

“Ya, jangan di bingkai bagus-bagus, kita sama-sama rasakan, tidak bisa berbohonglah, kita sama-sama rasakan efeknya, tadi pagi sudah kelihatan bagaimana tebalnya asap, sekarang mulai lagi, bahkan sekolah mulai di liburkan, bahkan saya dengar tadi ada yang masuk IGD gara-gara kabut asap tadi pagi,” katanya dalam diskusi yang digelar oleh IKA Fisip Unsri dan Bung FK, membahas soal Framing Politik di Media, di Volum Coffe, Senin (14/10).

Dampak kabut asap ini hingga kini dinilainya sudah sangat transparan dirasakan masyarakat.

”Kalau dari pengetahuan saya selama ini , kenapa itu terjadi, karena sebelum ini tidak ada upaya pencegahan yang maksimal,” katanya.

Baca:  Kebakaran di Gandus, 22 KK Kehilangan Tempat Tinggal

Menurutnya yang harusnya melakukan upaya pencegahan karhutla ini sebelum karhutla terjadi tidak lain adalah pemerintah daerah, karena Sumsel wilayahnya.

“Nah kalau mau pilkada, ternyata ada juga kepala daerah , misalnya yang mau mencalonkan kembali gimana keterpihakan teman-teman, nah ini tanggungjawab kita bersama nih, apakah akan karhutla lagi terus-terusan atau seperti apa,” katanya.

Menurutnya pemimpin yang peduli karhutla perlu di framing dan sebaliknya kepala daerah yang tidak peduli dengan karhutla jangan di framing untuk menjadi pemimpin daerah lagi.

Sedangkan Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel H. Nasrun Umar menegaskan segala upaya penanggulangan bencana karhutla telah dilakukan Pemprov. Sumsel termasuk menurunkan satuan tugas khusus untuk menangani karhutlah.

“Gubernur Sumsel sangat konsen terhadap karhutla dan bencana asap. Hari ini saya ditugaskan langsung untuk mendengarkan secara langsung dari BMKG apa saja penyebab kian pekatnya asap yang menyelimuti kota Palembang. Beliau sengaja memanggil Kepala BMKG untuk dimintai penjelasannya guna disampikan pada masyarakat melalui rekan wartawan seperti apa sesungguhnya yang terjadi,” kata Sekda dalam rilisnya, Senin (14/10).

Dikatakan Nasrun, Gubernur Sumsel sudah sangat reaktif menangani kasus karhutlah di Provinsi Sumsel. Melihat kondisi kabut asap yang kian pekat, Nasrun menuturkan Pemprov Sumsel telah memperhatikan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang meningkat.

Baca:  Penebalan Pasukan Karhutla Dikirim ke Kabupaten OKI

“Pak gubernur memberikan himbauan kepada masyarakat Kota Palembang untuk menggunakan masker, apabila tidak ada kegiatan yang tidak mendesak tidak usah meninggalkan rumah dan keluar kantor,” imbuh Sekda.

Nasrun kembali mengatakan, Pemprov Sumsel melalui BPBD telah membuka sejumlah titik lokasi sebagai tempat singgah bagi warga yang mengalami sesak napas terutama yang akan bepergian terutama di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tujuannya tidak lain untuk mengantisipasi apabila ada warga yang berpergian mengalami sesak napas secara mendadak.

“Masyarakat yang tiba-tiba mendadak mengalami sesak napas bisa memanfaatkan posko atau rumah singgah (safe house) yang telah dibentuk. Disana ada tabung oksigen dan sejumlah kelengkapan peralatan penanganan pertama untuk masyarakat. Di samping itu juga kita telah lakukan pembagian masker disejumlah ruas jalan di dalam Kota Palembang,” tambah Nasrun.

Sekda menegaskan, Pemprov Sumsel sudah cukup tanggap dalam mengatasi bencana karhutlah, bahkan jauh hari dari prediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Februari 2019, gubernur telah mengluarkan statemen darurat asap dan membentuk satgas khusus sebelum terjadinya musim kemarau.

“Ini adalah bencana, upaya kita sudah maksimal karena itu masyarakat juga kita ajak untuk menyikapi bencana ini dengan hati yang dingin. Jangan saling salahkan agar bencana ini segera dapat diatasi. Dan yang terpenting perbanyak berdoa agar hujan segera turun,” tandasnya.

Baca:  Si Jago Merah’ Hanguskan 107 Rumah di Kertapati

Sementara itu Kepala BMKG Stasiun Kenten, Nuga Putrantijo dalam paparannya mengatakan, pada Senin (14/10) pagi kabut asap yang menyelimuti kota Palembang memang cukup pekat jika dibanding dengan sehari sebelumnya. Namun dia menegaskan tidak ada pernyataan yang signifikan mengenai jumlah hotspot di wilayah Sumsel.

“Penyebabnya adalah arah angin, dimana angin dominan dari arah timur dan kiriman asap dari perbatasan daerah Jambi. Kondisi suhu dipermukaan lebih dingin dari udara atas, sehingga asap yang diatas turun, itu juga yang menyebabkan asap turun ke bawah,” tegas Nuga.

Ia juga mengungkapkan, kemarau pada tahun 2019 ini lebih kering jika dibanding dengan kemarau pada tahun 2018, oleh sebab itu kondisi yang ada saat ini memerlukan perhatian dari semua pihak.

“Yang kami amati adalah debu/ partikulat (PM 10) indikator dari ISPU, dibeberapa tempat PM 10 meningkat yang berhak mengeluarkan kondisiudara sehat ataupun tidak sehat adalah KLHK maupun Dinkes,” pungkasnya.#osk