Tumbuhkan Karakter Kepedulian Lingkungan Melalui Program Trash Hero Indonesia

5

Rojaki, M.Pd.

Leader of Trash Hero Indonesia-Chapter Muba

& Reading Ambassador of Muba

KITA tahu bahwa persoalan lingkungan khususnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berupa bencana kabut asap di Sumsel, Jambi, Riau dan Kalimantan masih menjadi primadona topik yang menarik untuk di perbincangkan di negeri ini. Tidak hanya Karhutla, namun isu sampah plastik pun selalu mearik atau bisa jadi bersanding dengan isu-isu politik dan praktik korupsi yang tak ada kujung habisnya. Isi ini pun menjadi isu global yang membutuhkan solusi cepat dan tepat dengan melibatkan pemerintah selaku pemangku kebijakan, pihak swasta, dan juga masyarakat. Tentunya ini masih menjadi pekerjaan besar bagi kita sebagai warga Indonesia yang menduduki nomor dua penyumbang sampah tertinggi dunia setelah negara Tiongkok, Cina.

Sampah selain menimbulkan bau, merusak keindahan, dan menimbulkan penyakit yang diakibatkan oleh racun yang terkandung pada sampah itu sendiri. Sampah pun menghabiskan lahan untuk menampungnya dan memboroskan energi dan biaya untuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA. Saat kita bicara tentang sampah, tentunya bukan sekedar bicara tentang kebersihan dan keindahan, tapi kita juga berbicara gaya hidup seseorang.

Saat ini dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah sudah sangat besar, kita lihat saja Sungai Musi yang surut di Musim kemarau belakang ini yang dipenuhi sampah baik yang tertimbun maupun tampak dipermukaan. Semetara itu, di lautan lepas pun tak lepas dari banyaknya sampah plastik. Air laut yang tercemari plastik dan sudah banyak penyakit degenerative yang timbul akibat racun-racun yang terkandung di dalam plastik, styrofoam dan juga batre. Penyakit tersebut sangat sulit untuk di obati seperti kanker, penurunan daya tahan tubuh, kerusakan syaraf dan cacat pada janin. Racun-racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara di antaranya lewat udara, makanan, dan juga melalui interaksi langsung.

Belakangan ini baik media cetak maupun televisi menyebutkan bahwa berbagai biota laut mati akibat sampah plastik yang mencemari ekosistemnya. Bahkan berita terbaru yang cukup mengejutkan adalah ditemukannya ikan paus mati dengan jumlah sampah plastik. Hewan mamalia ini mati dan di dalam perutnya terdapat sampah plastik mencapai ukuran ton. Selain itu, ada juga hewan seperti penyu yang di hidungnya tersumbat sedotan, lumba-lumba yang terperangkap oleh tali plastik yang menjadi sampah di lautan. Dan masih banyak lagi hewan-hewan di lautan yang terjerat sampah plastk dan mati. Siapakah pelakunya? Barang tentu adalah manusia.

Baca:  Fraksi Apresiasi Peningkatan APBD Perubahan Kabupaten Muba TA 2019 

Sesungguhnya tidak hanya yang terbuang di lautan sampah plastik tersebut akan membahayakan. Saat dibuang sembarangan di tanah, sampah plastik pun sebenarnya dapat menghalangi peresapan sinar matahari dan air ke tanah. Sedangkan, jika sampah plastik tersebut dibakar dan abunya memenuhi udara, akan menghasilkan dioksin yang berbahaya jika dihirup manusia.

Pertanyaannya adalah, bukankah kita semua adalah penghasil sampah? Namun tentu saja sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab kita tentunya punya peran strategis dalam memetakan peran kita sebagai masyarakat untuk mulai mengatasi persoalan sampah dan melihat solusi-solusinya. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran diri sendiri dan masyarakat untuk ikut serta melakukan perubahan budaya cara membuang sampah secara berwawasan lingkungan. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 12 UU no 18 tahun 2008 menyatakan bahwa kita wajib mengurangi dan mengelola sampah secara berwawasan lingkungan.

Sementara itu, untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan yang berperan besar bagi kesejahteraan dan kesinambungan hidup masyarakat, maka harus dibangun kesadaran bagi setiap individu. Salah satunya cara efektifnya yaitu melalui pendidikan. Pendidikan merupakan sarana pendewasaan diri. Rendahnya pemahaman dan keterampilan menjaga kelestarian lingkungan hidup, menjadikan masyarakat rentan bertindak untuk tidak memperhatikan kelestarian lingkungan tempat tinggalnya. Bukankah pendidikan lingkungan wajib diberikan oleh seluruh komponen masyarakat? Pendidikan lingkungan perlu diajarkan sejak dini agar membentuk kesadaran peduli pada lingkungan.

Baca:  Beri Dukungan Untuk Ifandi, Wabup Pesankan Tetap Semangat

Kerangka strategis pendidikan di abad 21 ini adalah pendidikan karakter, bagaimana seorang pendidik dapat mengasah beragam keterampilan siswanya. Sebenarnya bukan suatu hal yang sulit (sederhana), namun tak sedikit yang mengeluhkan bagaimana menumbuhkan kecintaan anak terhadap lingkungan di sekitarnya sehinngga bertumbuh sikap peduli terhadap kebersihan lingkungan kapanpun dan di manapun mereka berada.

 

Membangun Karakter Baik

Upaya pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan budaya bangsa tidak hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui habituasi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang terdapat dalam penumbuhan nilai-nilai karakter pada peserta didik di antaranya, yaitu: religius, jujur, peduli lingkungan, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, dan sikap tangung jawab.

Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang hal-hal yang benar dan salah, namun juga mampu merasakan terhadap nilai yang baik dan tidak baik, serta bersedia melakukannya dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah (school culture).

Kalimat Buanglah sampah pada tempatnya!’ tentu sudah sangat familier di telinga semua orang, bahkan instruksi tersebut terus dikampanyekan di hampir setiap kegiatan. Meskipun demikian, sayangnya poster-poster tersebut nyaris seperti tulisan semata yang tidak pernah diimplementasikan. Hal tersebut tentu sangat miris meng­ingat bahaya yang ditimbulkan apabila membuang sampah sembarangan terlebih sampah plastik.

Sampah plastik merupakan sampah yang sangat sulit terurai, bahkan selama puluhan tahun. Bukankah ‘Sedia payung sebelum hujan’ merupakan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pencegahan ‘bencana’ berbasis pengelolaan sampah. Namun, perilaku sebagian besar masyarakat masih hobi membuang sampah sembarangan, padahal tempat sampah yang representatif sudah disediakan.

Baca:  Pemkab Muba Ajak Kades/Lurah Sosialisasikan Pembangunan Jargas Rumah Tangga

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya ternyata lebih terkait dengan kecerdasan/kematang­an karakter, bukan kecerdasan akademik. Orang yang karakternya terdidik tentu menganggap poster untuk tidak membuang sampah sembarangan tersebut lebih dari poster semata. Itu instruksi yang harus dilaksanakan karena akan berdampak buruk apabila dilanggar. Berbeda dengan orang yang hanya cerdas secara akademik semata, mereka belum tentu memahami kalimat sederhana tersebut.

Membenahi karakter peserta didik yang juga merupakan bagian dari masyarakat masyarakat untuk sadar terhadap bahaya sampah tentu tidak bisa dilakukan dengan sekejap. Bisa jadi atau bahkan bisa dikatakan memerlukan waktu yang cukup lama. Pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini dari lingkung­an keluarga merupakan salah satu upaya untuk membentuk perilaku sadar sampah. Namun, yang lebih penting dari itu semua ialah sebelum berupaya mengubah karakter orang lain, kita harus membenahi karakter kita sendiri terlebih dahulu. Adanya karakter sadar sampah dari diri sendiri akan terefleksi secara otomatis pada orang lain.

Kegiatan penumbuhan kesadaran dan kepedulian dapat dilakukan dengan mengajak peserta didik membersihkan sampah di Sungai Musi yang sedang surut, saluran drainase dan area sekitar sekolah .Mereka secara nyata dan lansung belajar dan bertubuh rasa dan sikap kepedulian dengan melakukan mengambil sampah plastik   (Cleanup). Penulis yang juga tergabung dalam program Trash Hero Indonesia mengajak peserta didik untuk menjadi “Pahlawan Sampah” baik bagi diri sediri maupun lingkungan masyarakat. Sebuah gerakan global yang dikelola oleh relawan dengan misi mengajak masyarakat untuk secara bersama-sama membersihkan dan menghindari produksi sampah terutama sampah plastik. Semoga.