Kualitas Udara  Palembang Terburuk Nomor Dua Se-Indonesia

4

BP/IST
Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Asap membagikan 500 buah masker kepada pengunjung di kawasan  Kambang Iwak Palembang disela-sela  kegiatan car free day, Minggu (15/9).

# Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Asap Bagikan 500 buah Masker

Palembang, BP

kabut asap yang mengepung Palembang dikeluhkan bukan hanya warga Palembang, juga warga negara asing. Ironisnya,  Sabtu (14/9) jam 02.00  kualitas udara di kota Palembang terburuk nomor dua Se-Indonesia dia sudah mencapai status berbahaya dengan angka 410 partikulat PM 10, itu dibawah dari kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur di Kalimantan Tengah.

Untuk itu sejumlah pemuda yang menamakan dirinya Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Asap membagikan 500 buah masker kepada pengunjung di kawasan  Kambang Iwak Palembang disela-sela  kegiatan car free day, Minggu (15/9).

Baca:  Asap Makin Pekat di Palembang, Presiden Harus Tegur Kepala Daerah Tak Serius Tangani Asap

Aksi ini sebagai edukasi kepada warga Palembang yang terkepung asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas yang tidak di serius di tangani pemerintah daerah.

“ Kita tahu malam dini hari , Sabtu (14/9) jam 02.00  kualitas udara di kota Palembang terburuk nomor dua Se-Indonesia dia sudah mencapai status berbahaya dengan angka 410 partikulat PM 10, itu dibawah dari kota sampit,  kami mencoba menggalang petisi yang akan disampaikan  disampaikan Gubernur Sumsel H Herman Deru disana ada tiga tuntutan,” kata Koordinator koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Asap, Febrian disela-sela acara .

Baca:  Untuk Bebas Asap, Sumsel Dalam Posisi Siaga Merah

Tiga tuntutan tersebut pertama cabut dan pidanakan korporasi pembakar  hutan dan lahan karena  sudah lalai menjaga konsesi di wilayah  izin mereka.

Kedua, stop kriminalisasi  masyarakat lokal, karena masyarakat lokal secara undang-undang lingkungan hidup No 32 tahun 2019 dilindungi serta ketiga mendesak kepada Pemerintah Provinsi Sumsel untuk membuat posko pengungsian asap untuk kelompok rentan asap seperti bayi dan lansia.

“ Sampai hari ini kami belum dapat informasi dari pemerintah, upaya yang dilakukan  terutama penegakan hukum yang dilakukan oleh Pememerintah kami nilai masih lemah, karena pemerintah hari ini masih melihat pelaku kebakaran hutan, bukan sebagai pertanggungjawaban dari pihak perusahaan

Baca:  Asap Kebakaran di OI dan OKI Sampai Ke Palembang

Sedangkan Magdalena,  mahasiswa Australia mengeluhkan asap yang sudah semakin pekat di kota Palembang.

“Menurut saya kondisi ini emang tidak enak ya karena harus kemana kemana harus pakai masker apalagi ini bukan kejadian pertama pernah dirasakan ditahun 2015 lalu ya. kabut asap ini tidak baik untuk kesehatan kita” katanya.

Berdasarkan data Lapan yang dirilis BPBD Sumsel terdapat 348 titik panas di Sumatera Selatan dengan titik terbanyak berada dikabupaten Ogan Komering Ilir.#osk