Balar Sumsel temukan 30 Kuintal Kerangka Tulang, Gigi di Jalur Air Sugihan, OKI

8

BP/IST
Kepala Balai Arkeolog Sumsel, Budi Wiyana usai mengisi kegiatan diskusi Sahabat Cagar Budaya (SCB), Sabtu (8/9).

Palembang, BP

Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel), terutama di Perairan Timur Sumsel diyakini sudah sangat memanfaatkan hasil alam pada kehidupan pra sejarahnya. Hal ini mendukung hipotesa jika kawasan Sumsel sangat kaya sumber bahan makanan (hasil alam) di kala itu, termasuk perairannya.

“Dalam temuan sebanyak 14 kotak (30 kuintal), di Desa Kerta Mukti Jalur Air Sugihan, OKI juga berisi kerangka tulang, gigi dan lainnya. Dalam temuan ini dinyakini, masyarakat di kawasan perairan pantai timur Sumsel sangat terbantukan akan kekayaan alam kala itu, misalnya dari temuan-temuan itu. Dari hasil temuan itu, terdapat gigi ikan hiu yang diduga masih berusia anak-anak,” kata Kepala Balai Arkeolog Sumsel, Budi Wiyana usai mengisi kegiatan diskusi Sahabat Cagar Budaya (SCB), di Kenanga Cape, Sabtu (8/9).

Menurutnya,  temuan ini memperkuat penelitian yang dilakukan pihak Balai guna mengetahui jenis makanan dan cara memperoleh makanan masyarakat pra sejarah di perairan pantai timur Sumsel.

”Temuan berupa tulang-tulang binatang, seperi tulang kura-kura, tulang kera, babi hutan, burung, kera sampai dengan ikan hiu air tawar. Untuk temuan ikan hiu air tawar, baru ditemukan kerangka giginya dalam jumlah sedikit,” katanya.

Penelitian temuan ikan hiu air tawar dikuatkan dengan pendapat peneliti ahli geo antroplogi yang tergabung pada tim peneletian kali ini. Peneliti ahli ini  membaca stuktur tulang gigi yang lebih tumpul dibandingkan ikan hiu air laut.

Dikatakan Budi, pihaknya masih akan mengukur usia temuan tersebut, meski temuannya banyak berukuran kecil dan berjumlah sedikit, “Pendapat awalnya karena bentuk giginya tidak setajam gigi ikan hiu air laut, yang menjelaskan hubungannya dengan jenis ikan yang dimakan ikan hiu air tawar ialah ikan-ikan sungai,”katanya.

Saat ini, temuan-temuan kerangka itu tengah dikumpulkan untuk kemudian diukur usianya.

Dikatakan Budi, saat temuan kerangka dalam jumlah sedikit maka upaya mengukur usia temuan ialah dengan mengukur usia temuan lainnya pada lapisan tanah yang sama. Sehingga, untuk temuan gigi hiu air tawar, akan lebih baik disimpan dan yang dilakukan pengukuran usia temuan, yakni temuan kerangka lainnya,”Pada umumnya, temuan pada lapis tanah yang sama, ialah hasil dari kehidupan masyarakat pada masa (usia) yang sama,” katanya.

Penelitian lainnya juga menemukan tulang iga yang diperkirakan merupakan kerangka tulang iga manusia. Namun untuk temuan ini, Budi mengatakan pihaknya masih akan melakukan penelitian lanjutan guna memastikan temuan tulang iga tersebut. “Selain tulang binatang, juga ditemukan tulang (kerangka) manusia, tapi perlu dilakukan pengembangan dan pengukuran, guna memastikannya. Tentu dengan melibatkan para ahli lainnya,” katanya.

Temuan-temuan tulang kerangka hewan ini menguatkan kesimpulan jika bumi Sumsel telah mampu memberikan kehidupan pada masyarakat di pesisir timurnya. Namun juga masyarakat melakukan pencarian di luar daerah tersebut yang diperkuat dengan temuan jala (jaring) namun jumlahnya sangat sedikit,

“Ada beberapa alasan guna menguatkan temuan jala sedikit yakni jala sudah habis (hilang) karena kondisi geografis rawa (air yang sedikit asam) pada tanah di sana, atau memang masyarakatnya kala itu tidak banyak mencari sumber makanan ke luar, karena daerah ditinggali (menetap), sudah memberikan banyak sumber makanan bagi mereka,” katanya.

Selain penelitian mengenai jenis makanan protein hewani, pihak Arkeolog juga meneliti jenis makanan sumber karbohidrat yang dikonsumsi masyarakat pra sejarah di Sumsel terutama di Pantai Timur. Untuk hasil penelitian sementara, temuannya banyak menyatakan buah nipah sebagai sumber pangannya yang diolah menjadi tepung.#osk