Palembang, Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara

12

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana Forum Group Discussion (FGD) Palembang sebagai Pusat kajian manuskrip Keagamaan Nusantara berkerjasama dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Pendidikan Agama RI, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang dan Malay Islamic Civilization Institute (MIC-I) UIN Raden Fatah Palembang di gelar di aula lantai III Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (5/9).

Palembang, BP
Forum Group Discussion (FGD) Palembang sebagai Pusat kajian manuskrip Keagamaan Nusantara berkerjasama dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Pendidikan Agama RI, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang dan Malay Islamic Civilization Institute (MIC-I) UIN Raden Fatah Palembang di gelar di aula lantai III Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (5/9).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka untuk memperoleh masukan dari kalangan pernaskahan/manuskrip keagamaan Nusantara yang ada di Palembang dan sekitarnya tentang rencana pendirian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara (PKMKN).

Menurut pecinta manuskrip dari Yogyakarta, Aguk  Irawan menilai , Indonesia agak terlambat dalam pembentukan Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara (PKMKN) padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki karakter tersendiri dimana ini semua berkat jasa para ulama dimasa lalu.

“ Kita bisa sedamai ini, serukun ini, setoleran ini , berpulau-pulau yang tidak ada dinegara lain yang mempunyai 1300 etnis dan 700 bahasa dan ribuan pulau, kalau tidak di satukan oleh ulama-ulama dulu mustahil, makanya saat wacana NKRI mau pecah, penting sekali kembali ke manuskrip, karena manuskrip adalah karya intelektual, dialog antara arab dengan lokal, antara lokal dengan arab, antara sosial dengan pemerintah, jadi dialektika dan itu sangat fleksibel sekali, tidak monoton, “ katanya.

Baca:  Kisah Andi Syarifuddin, Sang Penyelamat Manuskrip Kuno Palembang

Dia mencontohkan Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang tidak menerapkan hukum syariat seperti di Arab termasuk Kesultanan Demak juga sama yang memiliki undang-undang sendiri yang arif.

“Bayangin kalau mereka tiba-tiba menerapkan hukum potong tangan, habis tangan orang-orang nusantara ini karena waktu kejahatan dan pencurian masih merajalela, jadi mereka sangat arif dalam menggunakan hukum-hukum arab , bukan formal tapi keadilan yang ingin dicapai,” katanya.

Selain itu menurutnya Indonesia memiliki kekayaan manuskrip namun kesadarannya masih lemah.
” Saat kita, terancam toleransi, terancam dis integrasi, baru kita mencari manuskrip, untung daripada tidak ada , kita sudah menggali kearipan sebagai bangsa , sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam tradisi,” katanya.
Untuk itu menurutnya harus memulai kesenangan anak-anak milenial akan manuskrip, jika sudah senang mereka akan tahan banting untuk mencari, bahkan dengan uang sendiri, ke Jawa, ke Kalimantan, Lombok.

“ Wah, masih banyak sekali di Bali, Lombok, Jawa, nah kalau sudah seneng , penasaran ini isinya apa, enggak bisa bahasa arab belajar bahasa arab, tidak bisa bahasa pekon ya belajar pekon, kalau tidak ada seneng bahasa jadi kendala, tapi kalau seneng belajar,” katanya.

Baca:  Ditemukan Dermaga Kuno Diduga Kuat Dari Zaman Kesultanan Palembang

Apalagi menurutnya karakter bangsa Indonesia itu menurutnya sudah di tancapkan dengan sangat kokoh oleh nenek moyang, ulama-ulama Indonesia tetapi karena lama tidak menjamahnya menjadi goyang sebagai bangsa.

“ Dikit-dikit dibully, sama dikit dimurtadkan, beda dikit bunuh, hukum, gampang sekali, saya kira perlu adanya kearipan lokal termasuk yang berbeda seperti mohon maaf Ahmadiyah, Syiah, itu pernah punya adil dalam negara ini dan punya pengikut jangan kita kebiri semua,” katanya.

Sedangkan Peneliti dari Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Pendidikan Agama RI Retno Kartini menjelaskan, pembentukan Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara (PKMKN) lantaran selama ini banyak pihak dan lembaga yang sama mengurus manuskrip ini namun parsial atau terpecah-pecah.
Diakuinya pembentikan pusat kajian ini terlambat dilakukan dan ini keinginan Menteri Agama RI dan disuport staf ahli Menetri Agama Dr. Oman Fathurahman.

“ Sedangkan kehadiran negara kurang ya, nah ini kita perjuangkan untuk menjadi lembaga nanti ada struktur, kita sedang berjuang di DPR, kalau dapat anggaran dari kursi agama nanti ada filian-filialnya didaerah terutama teman-teman perguruan tinggi kita sosialisasi naskah akademik di 20 provinsi dan Palembang terakhir, nanti kita perbaiki, pantau Oktober ini lembaganya tapi belum struktur resmi, struktur resminya kita ajukan 2020, kalau lolos , maka kehadiran negara itu nampaklah” katanya.

Baca:  Jadikan Manuskrip Sebagai Sumber Primer

Dan yang tahu keunikan daerahnya menurutnya ada didaerah dan pusat hanya menginisiasi , fasilitator dan yang akan banyak daerah adalah daerah itu sendiri.

Sedangkan Wakil Rektor I Dr. Ismail Sukardi, M.Ag mengapresiasi dan menyambut kegiatan ini , karena ini cocok dengan UIN Raden Fatah Palembang.

Dan dia berharap naskah-naskah dan manuskrip terutama dari Palembang bisa diangkat guna memperkaya khazanah keilmuan Islam di nusantara. Selain itu dia juga berharap Palembang dapat menjadi Pusat kajian manuskrip Keagamaan Nusantara

Sedangkan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Dr Nor Huda M Ag , MA bersyukur adanya FGD ini dan berharap FGD ini menjadi momentum  menjadikan Palembang sebagai Pusat kajian manuskrip Keagamaan Nusantara .

“Kita berharap dukungan pihak UIN mungkin terkait ruangan agar ada identitaslah, nanti dimana itu barang kali kegiatan ini bisa diangkat tahun depan, “ katanya sembari berterima kasih kepada pihak Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Pendidikan Agama RI.#osk