Sisa Kraton Kerajaan Sriwijaya di Palembang Tidak Pernah Ditemukan Arkeolog

80

BP/DUDY OSKANDAR
Arkeolog spesialis Kerajaan Sriwijaya yang juga , arkeolog senior dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional (Arkernas), Bambang Budi Utomo (kiri)

Palembang, BP

Banyak orang bertanya tentang dimana keberadaan sebuah istana kerajaan masa lalu, baik itu kerajaan Medang (Mataram), Singhasari, dan Majapahit.

Termasuk dimana letak Kraton Kerajaan Sriwijaya di kota Palembang saat ini juga selama ini menjadi pertanyaan  masyarakat yang belum terjawabkan hingga kini.

“Selama saya melakukan penelitian tentang pemukiman di suatu wilayah kerajaan, belum pernah menemukan sisa bangunan istana yang tentunya mempunyai ciri tertentu, misalnya dari artefak yang berbeda dengan pemukiman biasa,” kata arkeolog spesialis Kerajaan Sriwijaya yang juga , arkeolog senior dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional (Arkernas), Bambang Budi Utomo usai menggelar diskusi bertema Sriwijaya yang digelar komunitas Cagar Budaya Palembang, Sabtu (31/8) di Kenanga Cape, Palembang.

Penelitian yang dilakukan di perkampungan yang kemudian menjadi kota Śrīwijaya di Palembang menurut Bambang Budi Utomo, pihaknya hanya menemukan bekas-bekas pemukiman kota dan tempat-tempat ibadah.

Baca:  Isnaini Madani di Periksa Terkait Dugaan Korupsi Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya

Sisa keraton tempat tinggal Datu atau Raja bersemayam menurut Bambang  belum atau tidak pernah ditemukan di Palembang.

Bambang berpendapat, bahwa Sriwijaya adalah negara maritim, negara dagang dimana orang-orangnya terlalu disibukkan dengan kemaritiman dan perdagangan berbeda dengan Kerajaan Mataram di Jawa yang merupakan negara agraris.

“ Kalau petani-petaninya lagi panen, dia ada kesempatan membangun bangunan suci, mau panen, mau nanam ada masa masa diem lebih banyak, tapi kalau maritim kemana-mana dia, jadi Sriwijaya adalah negara maritim yang kurang memperhatikan bangunan, kedua bahan bakunya harus bikin bata, beda dengan Mataram , batu candi banyak banget itu,” katanya.
Sehingga peninggalan Sriwijaya menurutnya berdasarkan prasasti –prasasti , arca dan candi-candi.

Baca:  Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Yudi Syarofi: Penelitian Sriwijaya Sudah 100 tahun Masak Jadinya Dibatalkan Seseorang

“ Kalau arca-arca di Sumsel kita tidak tahu ya, sementara kalau kita lihat dari gaya seninya , yang gaya seni Syailendra, yang berkembang abad ke 8 dan 9, kemudian arca itu merupakan suatu artefak yang mudah dibawa-bawa itu mungkin dari tanah Jawa ke Sumatera Selatan,” katanya.

Sedangkan di Nalanda menurutnya ada arca berlanggam Jawa dan tidak menyebutkan arca syailendra.
“ Prasasti Kerajaan Sriwijaya ada tentang pembangunan kampung, pembangunan taman, sama persumpahan ,” katanya
Bambang melanjutkan nama untuk Sriwijaya itu paling tepat adalah kedatuan Sriwijaya, bukan Kerajaan dimana seorang penguasa diangkat dari penguasa-penguasa kecil dalam hal ini para datu.

“Kedatuan Sriwijaya adalah kumpulan datu-datu yang memiliki daerah tertentu,” katanya.
Bambang sudah dari dulu mengusulkan Sriwijaya menjadi tagline sejarah di Sumsel dan Palembang dari tahun 1992.
“ Kenapa kita harus bangga dengan Sriwijaya, Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang memiliki akte kelahiran, yang prasasti kedukan bukit, kita harus bangga dari situ, kedua dalam menata kotanya sudah pakai aturan, di Palembang itu ada dataran tinggi, talang talang, ada rendah di sebelah selatan namanya Jakabaring, Jakabaring dulu rawa-rawa tuh, sampai 1990 an masih rawa-rawa, dia sudah menata kota, ada taman, ada tempat suci di Bukit Siguntang, ada tempat pemukimannya di pinggir-pinggir sungai,” katanya.

Baca:  Sumsel Jadi Lokasi Penelitian Kerajaan Sriwijaya Terbanyak

Dikatakan Bambang, keberadaan Sriwijaya yang dikenal sebagai negara maritim memiliki kekuasaan menguasai Selat Malaka terdapat dalam catatan berita China perjalanan seorang biksu, I-Tsing.#osk