Mempelajari Sriwijaya Harus Komperhensif

6

BP/DUDY OSKANDAR
Ketua Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) dan Duta Baca Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H.Firman Freaddy Busroh,SH,M.Hum dalam diskusi Pekan Pustaka Palembang Jilid Ke II di Museum SMB II, Palembang, Minggu (1/9).

Palembang, BP

Pernyataan budayawan betawi, Ridwan Saidi mengenai keberadaan Sriwijaya hanya sebuah cerita fiktif, juga ditanggapi Ketua Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) dan Duta Baca Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H.Firman Freaddy Busroh,SH,M.Hum yang menyesalkan pernyataan Ridwan Saidi tersebut.

“Ada budayawan mengatakan , Sriwijaya itu fiktip, lah saya pikir alangkah enteng sekali dia mengatakan fiktip itu , datanya seperti apa dan bagaimana dia mempelajari manuskrip tersebut, mempelajari manuskrip tidak cukup dengan mempelajari empat prasasti Sriwijaya, kedukan bukit dan lain-lain tetapi dia dia juga harus secara konperhensip, “ katanya dalam diskusi Pekan Pustaka Palembang Jilid Ke II di Museum SMB II, Palembang, Minggu (1/9).

Menurutnya, dalam membuat stetmen , menurutnya Ridwan Saidi harus hati hati, karena mempelajari Sriwijaya ini sudah banyak kajian-kajian tidak hanya dijurnal nasional juga di jurnal internasional bahkan di Belanda ada profesor mempelajari sastra Jawa, Majapahit, Sriwijaya.

Baca:  Dodi Reza Alex Adalah Sosok Pemuda Yang Berpotensi Memajukan Sumsel

“ Ini kemudian terus terang Indonesia seperti kecolongan start, kenapa orang Indonesia sendiri, orang luar profesor Sidney pun mempelajari Sriwijaya dan Majapahit, Indonesia bagaimana?” tanyanya.
Bahkan menurutnya dia melihat, ada upaya ingin menghilangkan sejarah Sriwijaya.

“ Ini yang terus terang sangat miris saya melihatnya, sepertinya kita berusaha mencari pakar-pakar sejarah, tokoh-tokoh adat dan kita buat semacam kajian dan lain-lain dan ini akan tentunya banyak sekali hal yang dapat kita manfaatkan,” katanya sembari mengatakan di negara lain sejarah bisa dijual dimana museum dibuat sangat nyaman.

Menurutnya alangkah sayangnya jika anak cucu kita kedepan tidak mengenal lagi sejarahnya.
Apalagi menurutnya saat ini ada sekitar 26 ribu manuskrip kuno Indonesia di Perpustakaan Leiden , Belanda sedangkan di Indonesia hanya memiliki 10.300 ribu manuskrip .

Baca:  Pengamat Hukum : Pemprov Sumsel Harus Dengarkan Masukan DPRD Sumsel 

“24 Januari 2014 dikembalikan 12.000 buku mengenai Indonesia terbitan pasca 1950 dari Koninklijk Instituut vor de Tropen (KIT), Amsterdam, kita masih banyak kekayaan literasi yang hingga kini belum kita miliki, harapan saya kedepan ini menjadi perhatian pemerintah, apalagi misalnya orang Palembang, Sumatera Selatan, mengadakan lobi-lobi , paling tidak kita mendapatkan manuskripnya itu bagaimana dan ini jika dapat diselamatkan maka akan menjadi warisan yang dapat kita warisakan anak cucu, jangan sampai anak cucu kita tidak tahu secara Palembang, sejarah Sumatera Selatan, tidak tahu lagi budaya dul muluk, bahkan sekarang ini sudah ada dalam tanda kutip, “katanya.

Sedangkan Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang , Siti Emma Sumiatul Ssos Msi mengatakan, Pekan Pustaka Palembang Jilid Ke II diharapkan dapat berkembang dan menambah perpustakaan keliling di kota Palembang.

Baca:  Pengamat Hukum : Pemprov Sumsel Harus Dengarkan Masukan DPRD Sumsel 

“ Terima kasih kami ucapkan kepada penyelenggara kegiatan yaitu Subhan dan rekan sehingga kami mendukung kegiatan ini di Museum SMB II sehingga ini bisa berkembang dan diminati generasi muda dan kita semuanya, karena ilmu pengetahuan itu tidak hanya kita dapat dari mendengar cerita juga dengan banyak membaca maka ilmu pengetahuan kita akan semakin berkembang dan menularkan ilmu kepada orang lain itu tidak merugikan kita dan tidak mengurangi ilmu yang ada dalam diri kita namun akan memperdalam ilmu yang kita punya dan semakin menguatkan ingatan kita terhadap apa yang kita baca,” katanya.#osk