Laporan I-Tsing! (Kisah Tentang Kerajaan Sriwijaya)

148

Bambang Budi Utomo

Oleh: Bambang Budi Utomo
Peneliti dari Puslitbang Arkenas

BERMULA  dari rancauan seorang engkong tua bangka di chanel youtube “Macan Idealis” yang menyatakan bahwa Śrīwijaya adalah sebuah kerajaan fiktif alias keberadaannya diragukan. Benarkah demikian? Entah darimana sumbernya, engkong merancau bahwa I-tsing itu utusan Kaisar Tiongkok untuk mencari dimana Śrīwijaya berada. Siapa sebenarnya I-tsing?

Tulisan ini mengupas tentang catatan perjalanan I-tsing dalam perjalanannya ke India dari Tiongkok dan singgah di Sumatera pada masa sebelum dan setelah Śrīwijaya lahir. Dalam kunjungannya itu ia menceriterakan keadaan kota Śrīwijaya dan kehidupan masyarakatnya. Terlebih dahulu ia menceriterakan posisi kira-kira berdasarkan bayang-bayang orang ketika berdiri tengah hari. Perhitungan lokasi suatu tempat berdasarkan bayang-bayang orang berdiri atau bayang-bayang tongkat dalam astronomi dikenal dengan nama gnomon.

1. Shih-li-fo-shih

Nama I-tsing di kalangan purbakalawan dan sejarahwan Indonesia dan Asia Tenggara yang mengkaji Śrīwijaya sudah tidak asing lagi. Ia adalah seorang bhikṣu yang cukup dikenal di Asia dan India. Dalam catatan perjalanannya dari Tiongkok, Śrīwijaya, dan Nālanda, dianjurkan untuk para bhikṣu, samanera, dan orang-orang yang mau memperdalam ajaran Buddha di Nālanda (India) sebaiknya singgah dulu di Śrīwijaya untuk mempelajari Sabdhawidya Sansekerta (tata-bahasa Sansekerta).

Baca:  Berkibarnya Bendera Rod, Wit, En Blau Di Bastion Kuto Besak

Kerajaan Śrīwijaya muncul pada abad ketujuh, berkembang, sampai akhirnya lenyap pada abad tigabelas. Pendapat ini adalah karena penyamaan nama Shih-li-fo-shih dengan San-fo-ts’i, yang bersumber pada Berita Tionghoa baik dari masa Dinasti T’ang (abad ke-7-10 Masehi) maupun masa Dinasti Song (abad ke-11-13 Masehi). Nama Shih-li-fo-shih bersumber pada berita Tionghoa dari masa pemerintahan Dinasti T’ang (618-907). Menurut Shin-tang-shu, Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke Tiongkok dalam tahun 670 sampai 673 dan 713 sampai 741. Sedangkan San-fo-ts’I, menurut Sung-shih, mengirim utusan ke Tiongkok, pertama kali dalam tahun 960, dan yang terakhir 1178 (Slametmulyana 1968: 27).

Baca:  Kuto Cerancangan, Keraton Palembang yang Hilang

Namun demikian letak pusat Kadātuan Śrīwijaya misih menjadi persoalan, karena ibukotanya berpindah-pindah. Majumdar berpendapat Śrīwijaya harus dicari di Jawa; Moens menduga Śrīwijaya berpusat di Kedah (Malaysia), dan kemudian berpindah ke Muara Takus (Riau); sedang Soekmono cenderung menempatkannya di Jambi. Sementara itu Cœdès, Slametmulyana dan Wolters lebih memilih Palembang (Soekmono, 1979: 75-76; Slametmulyana, 1981: 8, 43-49).
Berdasarkan penelitian geomorfologi, Soekmono (1979: 75-80) berpendapat, ibukota Śrīwijaya terletak di “Teluk” Wen, Jambi, sementara Sartono (1979: 70) melalui telaah paleogeologi, memilih “Semenanjung” Palembang. Kesemuanya ini didasarkan atas peta garispantai purba Sumatera yang dibuat (direkonstruksi) oleh Obdeyn (1942: Peta 6) dimana di pantai timur Sumatera terdapat dua teluk yang menjorok ke dalam. Di Teluk Wen mengalir Batanghari, sedangkan di teluk dimana Palembang terletak di ujung semenanjung mengalir Sungai Musi.

Di lain pihak, Boechari (1979: 28-29) dengan menggunakan data prasasti, berpendapat bahwa sebelum tahun 682 Shih-li-fo-shih berpusat di Batang Kuantan, Riau pada garis koordinat 0°30’LS. Menurutnya lokasi ini sesuai dengan catatan I-tsing: “Di Sribhoja, pada pertengahan bulan kedelapan, bayangan tiang tidak bertambah panjang ataupun pendek. Pada saat matahari berada di selatan, bayangan jatuh ke utara sepanjang dua sampai tiga ch’ih, dan saat matahari berada di utara, bayangan jatuh ke selatan dengan panjang yang sama”.

Baca:  Kesultanan Palembang Darussalam Hidupkan Kembali Tradisi Pawai Obor Di Kota Palembang

Lebih lanjut menurut Boechari, I-tsing menulis catatannya tentang gnomon tersebut, saat ia berada di suatu wilayah Shih-li-fo-shih, tetapi bukan di ibukotanya. Boechari menduga, pada kalimat pertama, I-tsing menulis tentang bayangan tiang (gnomon), tetapi pada kalimat kedua, I-tsing menulis tentang bayangan manusia; dan dengan menganggap tingginya manusia antara lima sampai enam kaki (ch’ih), beliau sampai pada kesimpulan, lokasi yang dimaksud I-tsing terletak di garis 0°30’ LS, sebuah wilayah dekat Sungai Indragiri, Riau.

1
2
3
4
5