Arkeolog Bambang Budi Utomo Luruskan Fakta Salah Tentang Kerajaan Sriwijaya

23

BP/DUDY OSKANDAR
Arkeolog spesialis Kerajaan Sriwijaya yang juga , arkeolog senior dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional (Arkernas), Bambang Budi Utomo.

Palembang, BP

Pernyataan keberadaan Sriwijaya hanya sebuah cerita fiktif, dibantah keras oleh arkeolog spesialis Kerajaan Sriwijaya yang juga , arkeolog senior dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional (Arkernas), Bambang Budi Utomo.
Bambang juga meluruskan sejumlah fakta-fakta sejarah yang banyak di bengkokkan atau salah mengenai keberadaan kerajaan Sriwijaya.
“ Saya secara pribadi ya, saya enggak mau ngomentari itu, saya mau meluruskan apa yang di bengkokin sama dia, satu itu, “ kata Bambang Budi Utomo usai menggelar diskusi bertema Sriwijaya yang digelar komunitas Cagar Budaya Palembang, Sabtu (31/8) di Kenanga Cape, Palembang.
Kedua Bambang juga meminta agar video penjelasan Budayawan Betawi Ridwan Saidi mengenai Kerajaan Sriwijaya fiktif di kanal Youtube dicabut agar tidak menjadi hoaks berkepanjangan. Bambang menegaskan tidak mau bertemu dengan Ridwan Saidi untuk meluruskan permasalahan ini lantaran menurutnya perilaku orangtua tidak bisa di rubah-rubah dan menganggap dirinya paling benar meski yang dia lakukan salah.
“ Suruh tunjukin buktinya aja, “ kata Bambang.
Seperti yang lain-lain menurut Bambang, membaca sejarah harus dipikir benar-benar dan logikanya dimana dan bandingkan dengan apa yang pernah dia tahu.
Selain itu dia melihat, literasi sejarah masyarakat Indonesia saat ini masih kurang termasuk di Sumsel.
“Bukan cuma di Sumsel di Jawa aja yang paling maju masyarakatnya itu masih kena pengaruh,” katanya.
Bambang melanjutkan nama untuk Sriwijaya itu paling tepat adalah kedatuan Sriwijaya, bukan Kerajaan dimana seorang penguasa diangkat dari penguasa-penguasa kecil dalam hal ini para datu.
“Kedatuan Sriwijaya adalah kumpulan datu-datu yang memiliki daerah tertentu,” katanya.
Bambang sudah dari dulu mengusulkan Sriwijaya menjadi tagline sejarah di Sumsel dan Palembang dari tahun 1992.
“ Kenapa kita harus bangga dengan Sriwijaya, Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang memiliki akte kelahiran, yang prasasti kedukan bukit, kita harus bangga dari situ, kedua dalam menata kotanya sudah pakai aturan, di Palembang itu ada dataran tinggi, talang talang, ada rendah di sebelah selatan namanya Jakabaring, Jakabaring dulu rawa-rawa tuh, sampai 1990 an masih rawa-rawa, dia sudah menata kota, ada taman, ada tempat suci di Bukit Siguntang, ada tempat pemukimannya di pinggir-pinggir sungai,” katanya.
Dikatakan Bambang, keberadaan Sriwijaya yang dikenal sebagai negara maritim memiliki kekuasaan menguasai Selat Malaka terdapat dalam catatan berita China perjalanan seorang biksu, I-Tsing.
Dalam perjalanannya ke Nalanda, I-Tsing diketahui singgah di Sriwijaya guna mempelajari tata bahasa sansekerta setelah itu I-Tsing pergi ke Nalanda tapi singgah di Cihehca atau Kedah mungkin untuk menambah perbekalan baru meneruskan perjalanan ke Sriwijaya.
“Jadi disini yang mau saya luruskan I-Tsing bukanlah utusan kaisar (Tiongkok/China) untuk mencari Sriwijaya itu yang harus diketahui oleh masyarakat jangan sampai terjerumus kesitu,” katanya.
Selain itu dia menegaskan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Maharaja Sriwijaya oleh datu Sriwijaya, itu bukan prasasti penetapan satu desa menjadi sima.
“ Penetapan desa menjadi bebas pajak itu sampai saat ini hanya ada di Jawa, di Sumatera enggak ada, prasasti-prasasti Sriwijaya itu kebanyakan prasasti persumpahan , jadi siapa yang tidak berbakti kepada Maharaja Sriwijaya maka diakan kena kutuk, satu prasasti kedukan bukit tentang pembangunan perkampungan Sriwijaya, kedua prasasti talang tuo adalah pembangunan taman Sri Ksetra oleh Dapunta Hyang dan ketiga adalah prasti persumpahan Telaga Batu yang isinya pejabat-pejabat Kerajaan Sriwijaya yang diambil sumpahnya mulai dari putra mahkota sampai tukang cuci kerajaan, itu yang harus diluruskan,” katanya.
Selain itu jika dikatakan kalau Prasasti di Palembang adalah prasasti duplikat dia membantahnya, justru itu adalah prasasti yang asli.
“Kalau prasasti duplikat khan mestinya ada aslinya dong, kalau dia mengatakan itu duplikat tunjukkan aslinya yang mana,” katanya.
Mengenai tudingan Kerajaan Sriwijaya adalah bajak laut, menurut Budi mungkin suku-suku laut yang jika Datu Sriwijaya berkeinginan untuk perang suku-suku laut ini yang dimobilisasi untuk menjadi pasukannya.
“ Suku laut ini membentuk sendiri pasukannya dan memimpin panglimannya diantara mereka, ini sebetulnya pasukan pasukan yang betul-betul sukarelawan, persenjataannya boleh bikin sendiri, makanannya boleh bawa sendiri, panglimanya boleh milik sendiri bukan Datu Sriwijaya yang milik, Datu Sriwijaya hanya minta bantuan ke suku-suku laut ini,” katanya.
Dan dalam berita-berita cina menurut Budi, suku-suku laut ini disebutkan mereka pandai berperang baik di laut dan didarat, hidupnya di perairan dangkal ,pada rumah-rumah panggung dan rumah-rumah rakit yang ditambatkan di tepian sungai.
“Itu yang dikatakan bajak laut, padahal mereka bukan bajak laut,” katanya.
Mengenai serangan Kerajaan Chola ke Kerajaan Sriwijaya abad ke 12 berdasarkan prasasti Tanjore menyebutkan menyerang Sriwijaya dan Pane, Melayur, itu kota-kota yang diserang.
“Penyerangan itu mungkin disebabkan mungkin pajak yang dikenakan oleh Sriwijaya terlalu tinggi sehingga para pedagang Tamil ini minta bantuan ke Rajendra Chola, Rajendra Chola mengirim pasukan menyerang Sriwijaya, itu baru sekarangan sekali Chola setelah serangan pertama langsung meninggalkan Sriwijaya,” katanya.
Serangan kedua Kerajaan Chola, itu baru Maharaja Sriwijaya di taklukkan dan ditawan,” Saya lupa prasastinya, yang jelas abad ke 12,” katanya.
Dia menegaskan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sebatas selat Malaka dengan menguasai jalur perdagangan disana dan tidak meluas sampai sampai Asia.
“ Paling kalau Malaysia sampai pantai barat semenanjung,” katanya.
Mengenai peninggalan Sriwijaya yang cendrung sedikit, Bambang berpendapat, bahwa Sriwijaya adalah negara maritim, negara dagang dimana orang-orangnya terlalu disibukkan dengan kemaritiman dan perdagangan berbeda dengan Kerajaan Mataram di Jawa yang merupakan negara agraris.
“ Kalau petani-petaninya lagi panen, dia ada kesempatan membangun bangunan suci, mau panen, mau nanam ada masa masa diem lebih banyak, tapi kalau maritim kemana-mana dia, jadi Sriwijaya adalah negara maritim yang kurang memperhatikan bangunan, kedua bahan bakunya harus bikin bata, beda dengan Mataram , batu candi banyak banget itu,” katanya.
Sehingga peninggalan Sriwijaya menurutnya berdasarkan prasasti –prasasti , arca dan candi-candi.
“ Kalau arca-arca di Sumsel kita tidak tahu ya, sementara kalau kita lihat dari gaya seninya , yang gaya seni Syailendra, yang berkembang abad ke 8 dan 9, kemudian arca itu merupakan suatu artefak yang mudah dibawa-bawa itu mungkin dari tanah Jawa ke Sumatera Selatan,” katanya.
Sedangkan di Nalanda menurutnya ada arca berlanggam Jawa dan tidak menyebutkan arca syailendra.
“ Prasasti Kerajaan Sriwijaya ada tentang pembangunan kampung, pembangunan taman, sama persumpahan ,” katanya.
Mengenai bangsa Aria yang juga menguasai Sriwijaya, Bambang membantahnya ,” Bangsa Aria khan disana, itu di India Utara yang diaku-aku oleh hitler itu, kalau Alexander The Great itu dianggap bangsa aria, dia di India utara, karena itu gaya seni yang dibawa oleh Alexander The Great itu gaya seni helinisme ditularkan kepada masyarakat di India utara menjadi gaya sendiri gandara yang berkembang abad 6 masehi, gaya seni gandara hanya ditemukan di arca dari kota bangun, Kalimantan Timur,” katanya.#osk