Peringatan Kemerdekaan RI Ke 74 , Iasma Puspa Gelar Diskusi Sejarah Depan Lawang Borotan

10

BP/DUDY OSKANDAR
Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang (Iasma Puspa) menggelar diskusi sejarah perang Palembang 1819 dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 74, dengan tema ” Dalam rangka Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 dan Mengenang Dua Abad Kepahlawanan Rakyat Sumatera Selatan Melawan Kolonialisme Belanda Dalam Perang Palembang 1819″ Sabtu(17/8).

Palembang, BP

Jika kemeriahan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) selalu dengan berbagai acara dan perlombaan, namun berbeda yang dilakukan Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang (Iasma Puspa) yang lebih menggelar acara diskusi sejarah guna mengenang kembali perjuangan Pahlawan dari Palembang Sultan Mahmud Badaruddin II melawan kolonial Belanda.

Diskusi sejarah yang di gelar mengenai perang Palembang 1819 dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 74, dengan tema ” Dalam rangka Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 dan Mengenang Dua Abad Kepahlawanan Rakyat Sumatera Selatan Melawan Kolonialisme Belanda Dalam Perang Palembang 1819″ Sabtu(17/8).

Uniknya diskusi di gelar di depan lawang burutan atau borotan, yang merupakan pintu dari bagian dari Kraton Kuto Besak atau Benteng Kuto Besak (BKB) .

 

DALAM catatan sejarah, Lawang Borotan merupakan pintu terakhir yang dilalui Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang dan keluarga sebelum menuju kediaman Pangeran Adipati Tua di Muara Sungai Sekanak, selanjutnya di bawa Belanda ke Batavia untuk diasingkan ke Ternate.

Kepala Sekolah SMA N 2 Palembang yang juga Penasehat Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang (Iasma Puspa ) Syamsul Bahri mengaku bangga dengan Iasma Puspa yang menyelanggarakan acara tersebut. Dia mengaku sempat belajar dalam areal Benteng Kuto Besak ini.

“Melalui pintu ini,  SMB II dibawa keluar dari Benteng dan di asingkan ke Ternate, saya baru tahu tadilah, saya mendukung dengan adanya kata-kata di diskusikan, alhamdulilah silahkan diskusikan ini dan ini harapan saya , kita sebagai orang Palembang tahu sejarah Benteng Kuto Besak ini, dengan tahu kita menghargai jasa-jasa para pahlawan,” katanya.

Baca:  Pasca Bentrok Dua Kubu Timses , Empat Lawang Kini Kondusif

Dia berharap juga dinas dan instansi terkait dapat menghidupkan kembali Lawang Borotan ini sehingga dapat menunjang pariwisata di kota Palembang.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani yang merupakan alumni SMA N 2 Palembang mengaku waktu sekolah di SMA N 2 Palembang biasa dipanggil Dedek lulus tahun 1990 masuk SMA N 2 Palembang tahun 1987.
“ Kami atas nama Pemkot Palembang menyambut baik kegiatan ini, ini berawal dari permintaan mang Ican minta Lawang Borotan ini dibersihkan dari beringin , alhamdulilah mang Ican nyindir terus di sosmed dan langsung di tindaklanjutioleh pak Sekda langsung dibersihkan,” katanya.

Selain itu menurutnya kegiatan ini menurutnya merupakan starting point dari langkah pihak Pemerintah Kota Palembang dalam menata BKB menjadi salah satu Destinasi wisata yang bisa dinikmati oleh wisata dan Warga Palembang.
“Nama Destinasinya nanti Kampung Tuo wisata benteng atau kampung Tuo wisata Kuto Besak,” katanya.

Menurutnya, banyak sekali program destinasi yang akan dibuat di BKB, dari beberapa rumah yang akan dibuat menjadi home stay, penataan jalan lingkungan, bangunan, show case pengrajin, beberapa spot kuliner dan sovernir dalam waktu dekat ini.
“Nah di Lawang Borotan ini nantinya akan dijadikan tempat ajang Selfi, mengingat sejarahnya yang sangat tinggi sekali, “katanya.
Sedangkan pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan melihat Lawang Borotan memiliki nilai sejarah yang tidak boleh dilupakan masyarakat Palembang.

Baca:  DPRD Sumsel Minta Pemprov Sumsel Berikan Perhatian Kepada Empat Lawang

“Dari areal kraton Kuto Besak yang dibangun Sultan Muhammad Bahauddin sekitar tahun 1780, Lawang Borotan yang relatif masih asli seperti keadaan pada dua abad lalu. Pintu gerbang samping kanan dari kraton Kuto Besak ini menyaksikan kejadian sangat penting dari rangkaian peristiwa heroik dari Sultan Mahmud Badaruddin II pahlawan nasional kebanggaan Sumatera Selatan,” katanya.

Menurut catatan sejarah inilah pintu gerbang terakhir dari kraton Kuto Besak yang dilalui pahlawan nasional Sultan Mahmud Badaruddin II sekeluarga sebelum singgah beberapa saat di istana kediaman saudara sultan yakni Pangeran Adipati Tua di muara sungai Sekanak. Di mana untuk selanjutnya sultan sekeluarga dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Ternate.

“Pintu dan engselnya masih ada, ini warisan sejarah betul, kalau seandainya masyarakat tahu tentang nilai sejarahnya, mungkin orang tak akan mengesampingkan tempat ini dan tentunya ikut melestarikannya. Ada yang menyebutnya lawang ini , Lawang Borotan atau lawang burutan , terlepas dari banyak penyebutannya maknanya adalah pintu belakang dan merupakan salah satu pintu paling penting di BKB dimasa itu,” katanya.

Selain struktur pintu yang masih dalam kondisi baik dan tetap berdiri kokoh, Dosen Fakultas Hukum Univesitas Sriwijaya (Unsri) ini menambahkan, disinilah SMB II keluar setelah kesultanan menghentikan perang dengan Belanda lalu di asingkan ke Ternate.
“Ini yang paling penting, SMB II itu di asingkan paling jauh di masa itu, karena saya yakin, Belanda memang benar – benar takut dengan SMB II, lihat saja sejarahnya beberapa kali Belanda menyerang tapi selalu gagal hingga akhirnya di tahun 1819 dengan kecurangannya Belanda berhasil memasuki BKB,” katanya.

Baca:  KPU Sumsel Ambil Alih Rekapitulasi KPU Empat Lawang

Dia berharap jika kedepan ada keinginan merenovasi tempat ini, menjadi kawasan wisata sejarah, dia menyarankan pihak Arkeolog di ikut sertakan untuk tetap menjaga nilai sejarahnya.

“Kalau sampai berubah, nilai sejarahnya akan hilang, semestinya yang bagus itu, apa yang dilihat orang pada masa itu, haruslah di lihat oleh orang zaman ini, kalau untuk kepentingan pariwisata mungkin kita bisa terima kalau tempat ini dirapikan, namun objek ini biarkanlah natural seperti ini,” katanya.

Hal senada dikemukakan pengamat sejarah kota Palembang H Andi Syarifuddin menjelaskan di Kraton Kuto Besak ada dinamakan lawang loteng yang merupakan pintu gerbang utama bagian depan, di belakang ada pintu khusus yang digunakan untuk keadaan darurat namanya lawang borotan yang jumlahnya ada dua sebelah kanan dan kiri yang berada seberang Ilir dan Seberang Ulu di Kraton Kuto Besak.

“Yang masih tersisa sejak berdirinya Kraton Kuto Besak ini di tahun 1780 oleh Sultan Muhammad Bahauddin, lawang borotan ini yang tersisa dan sekarang tidak utuh lagi, sudah berapa kali mengalami nasib yang tragis dan didinding Kraton Kuto Besak itu di pangkas Belanda jadi kelihatannya rendah dindingnya itu,” katanya.

Lawang Borotan ini menurutnya, harus dilestarikan dan ini menjadi tanggungjawab bersama terutama instansi pemerintah guna melestarikan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam ini.#osk