Home / Headline / Generasi Milenial dan Jurnalisme Online

Generasi Milenial dan Jurnalisme Online

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Pengurus PWI Sumsel Seksi Pendidikan

BERAPA  jumlah penduduk bumi yang menjadi pengguna internet? Berdasarkan laporan dari WeAreSocial yang bekerja sama dengan Hoot Suite berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World,” lebih dari setengah penduduk di bumi menggunakan internet (akronim dari interconnection-networking). Sampai Januari 2018, jumlah pengguna internet dunia tercatat sejumlah 4,021 miliar jiwa. Dibanding 2017 jumlah tersebut ada peningkatan sebesar 7 persen. Pada Januari 2017 pengguna internet dunia sebanyak 3,773 miliar jiwa.

Berapa jumlah penduduk Indonesia pengguna internet? Berdasarkan laporan survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka 143,26 juta jiwa. Pada 2016 pengguna internet di Indonesia 132,7 juta jiwa.

APJII juga merilis awal tahun 2018, dari 143,26 juta jiwa pengguna internet di Indonesia, sebanyak 49,52 persen di antaranya merupakan milenial dengan rentang usia 19-34 tahun. Golongan usia 35-54 tahun sebesar 29,55 persen, usia 13-18 tahun sebesar 16,68 persen, dan di atas 54 tahun sebesar 4,24 persen.

Kategori usia 19-34 tahun merupakan pengguna internet dengan angka persentase terbesar. Mengacu pada Teori Generasi yang dicetuskan oleh William Strauss dan Neil Howe (1991), kategori usia 19-34 tahun tergolong sebagai generasi milenial. Dengan demikian, audiens dengan persentase terbesar dalam penggunaan internet merupakan generasi milenial.

Kehadiran internet telah menghadirkan perubahan perilaku masyarakat sebagai bentuk adaptasi, termasuk dalam hal pengaksesan informasi. Seperti di dunia bisnis telah menghadirkan bisnis online, pada transportasi telah menghadirkan jaringan transportasi atau angkutan penumpang online. Di dunia media massa atau pers, saat media konvensional (koran atau surat kabar, tabloid dan majalah) memasuki masa senja kala. Ketika banyak media konvensional yang berhenti terbit, lahirlah media online atau portal berita online.

Pasca reformasi banyak pemodal atau orang melirik media online lantaran karena ada kejenuhan di pasar media cetak. Saat itu banyak yang melihat media online atau disebut juga media media daring mempunyai peluang yang menguntungkan karena investasinya dianggap lebih murah dibandingkan dengan media konvensional/ cetak. Banyak orang berlomba-lomba membuat media online. Orang membuat media online juga disebut new media dengan harapan bisa meraih keuntungan pada masa senja kala media konvensional.

Pada era milenial yang identik dengan era internet telah melahirkan media online. Dewan Pers pada Februari 2018 mencatat di Indonesia ada 43.803 media online. Apabila diakumulasi dengan jumlah televisi, radio, koran, dan majalah di Indonesia, maka total media di Indonesia mencapai jumlah sekitar 47.000 media.

Jumlah media online yang mencapai ribuan situs tersebut telah menimbulkan persaingan yang tinggi. Persaingan timbul lantaran semakin banyak media online, semakin banyak pula informasi sebagai produk media yang dihasilkan.

Era internet selain melahirkan media online pada waktu bersamaan melahirkan online journalism atau cyber journalism kini lebih dikenal dengan nama Jurnalisme Online ada juga yang menggunakan sebutan jurnalistik online, jurnalistik internet dan jurnalistik web (web journalism).

Jurnalisme online diklaim lahir pada tanggal 19 Januari 1998, ketika Mark Drugde membeberkan cerita perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut “monicagate.” Waktu itu, Drugde berbekal sebuah laptop dan modem, menyiarkan berita tentang “monicagate” melalui internet. Semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rangkaian cerita “monicagate.”

Ada juga yang menyebutkan sejarah perkembangan media online bermula awal tahun 1990. Chicago Tribune lahir pada 1992 sebagai media online pertama di dunia. Kemudian perkembangan jurnalisme online sendiri mulai masif setelah 1994, saat browser Netscape mulai beroperasi. Sejak saat itu, situs-situs berita mulai tumbuh pesat, baik yang berafiliasi dengan media cetak maupun yang berdiri secara independen.

Di Indonesia, portal berita yang pertama adalah Republika Online (RoL) dengan alamat www.republika.co.id yang tayang perdana pada 17 Agustus 1994. Setelah itu, berdiri www.tempointeraktif.com (sekarang tempo.co) pada 1996, disusul oleh kompas.com pada 1997 dan detik.com pada 1998.

Jurnalisme Online

Jurnalisme dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) disebut sebagai pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan melaporkan berita kepada khalayak. Media penyampaian berita tidak hanya terbatas pada surat kabar. Seiring perkembangan teknologi juga telah menghadirkan media online yang bisa menampung berita teks, image, audio dan video. Media cetak hanya menampilkan teks dan foto/ grafis.

Online adalah bahasa internet yang berarti informasi dapat diakses di mana saja dan kapan saja selama ada jaringan internet. Jurnalisme online ini merupakan perubahan baru dalam ilmu jurnalistik. Laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet, disebut dengan media online yang menyajikan informasi dengan cepat dan mudah diakses/ dibaca di mana saja.

Saat ini dunia tengah berada pada era Industri 4.0 di mana ekonomi digital, big data, robotic dan sebagainya menghiasi keseharian. Era ini ditandai dengan merasuknya teknologi ke segala lini masa kehidupan. Juga pada jurnalisme yang mengikuti tempo perkembangan teknologi dengan adanya jurnalisme online atau jurnalisme digital.

Menurut John V Pavlik dari Columbia University Graduate School of Journalism, bahwa Jurnalisme Online ialah jurnalisme yang mengintegrasikan tiga fitur komunikasi yang unik: kemampuan-kemampuan multimedia berdasarkan platform digital, kualitas-kualitas interaktif, komunikasi-komunikasi online, dan fitur-fitur yang ditatanya.

Atau Jurnalisme Online merupakan praktik pengumpulan, pencarian, dan penyampaian berita melalui media baru atau online dengan fitur-fitur multimedia. Tidak hanya menghadirkan peluang bagi perkembangan Jurnalisme itu sendiri, Jurnalisme Online juga memunculkan sejumlah tantangan tersendiri pada praktik dan konsepnya. Maka dari itu, diperlukan langkah-langkah antisipatif dan responsif untuk dapat mengakalinya.

Engelbertus Wendratama dalam buku berjudul “Jurnalisme Online” menulis, jurnalisme pada dasarnya memiliki lima prinsip yang merupakan nilai-nilai universal. Lima prinsip tersebut adalah kebenaran (truth), keadilan (fairness), kemerdekaan (independence), akuntabilitas (accountability), dan kemanusian (humanity).

Dalam jurnalisme online atau jurnalistik online, Paul Bradshaw dalam “Basic Principal of Online Journalism) menyebutkan ada lima prinsip dasar jurnalistik online yang disingkat B-A-S-I-C, yakni Brevity, Adaptability, Scannability, Interactivity, Community and Conversation.

Brevity (Keringkasan) — Berita online dituntut bersifat ringkas. Pembaca memiliki sedikit waktu untuk membaca dan ingin segera tahu informasi.

Adaptability (Kemampuan Beradaptasi) — Jurnalis atau wartawan online dituntut mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik. Dengan kemajuan teknologi, jurnalis dapat menyajikan beritanya dengan format multi media, format suara (audio), video, gambar, grafis suatu berita.

Scannability (Dapat dipindai) — Situs berita online hendaknya memiliki sifat dapat dipindai, agar pembaca tidak perlu merasa terpaksa dalam membaca berita.

Interactivity (Interaktivitas) — Sangat memungkinkan terjadinya komunikasi antara pembaca atau publik dengan jurnalis/ wartawan karena adanya akses yang semakin luas. ⦿