Ultimate magazine theme for WordPress.

Kuat Dugaan Ibukota Kerajaan Sriwijaya Awal Berada di Belakang Pabrik PT Pusri

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana seminar sehari dengan tema Sriwijaya: “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” yang digelar di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Rabu (19/6).

# Pusri Harus Bebaskan Sebagian Lahan Belakang Pabrik

Palembang, BP
BANYAKNYA  tinggalan-tinggalan dan peninggalan kuno di belakang Pabrik PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) di kawasan 1 Ilir membuktikan kalau kawasan tersebut dulunya adalah menjadi pusat beradaban kuno dari zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kerajaan Palembang , malahan kuat dugaan ibukota awal Kerajaan Sriwijaya di Palembang berada di kawasan ini.
“ Mungkin Pusri harus membebaskan sebagian lahannya di belakang itu, termasuk masyarakat juga disitu dibebaskan itu dari sampai Sabo Kingking hingga lokasi penemuan Telaga Batu,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi (balar) Sumatera Selatan (Sumsel) Wahyu Rizky Andhifani usai seminar sehari dengan tema Sriwijaya: “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” yang digelar di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Rabu (19/6).
Dan dia tidak menampik kalau narasi-narasi sejarah bisa di bangun kalau ibukota awal Sriwijaya berada di belakang kawasan pabrik PT Pusri tersebut.
“ Kalau analisis prasastinya , ya memang disitu awal mulanya Sriwijaya , kemungkinan ya ? sampai sekarang batu-batu kuno masih ada ditemukan disana,” katanya.
Selain itu sungai depan PT Pusri, katanya ada bilang wahabi masuk semua dibuang di sungai,” Makanya di sungai banyak di depan Pusri itu, makanya ditaruhlah disitu angkatan laut,” katanya.
Sedangkan Akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) LR Retno Susanti menilai posisi ibu kota Sriwijaya awal berada di kota Palembang maka untuk membuktikannya dalam candanya ,  kota Palembang saat ini harus di bongkar dulu.
” Pasti ada,” katanya ditempat yang sama.
Menurutnya di tahun 1975 dan 1976 waktu Pusri II mau di bangun ditemukan struktur bata,” Pertanyaannya mau lanjut pembangunan atau menyelamatkannya,” katanya.
Menurutnya peran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dinilai sangat penting untuk membangkitkan nilai-nilai Sriwijaya di Palembang termasuk menyelamatkan benda-benda bersejarah tinggalan Sriwijaya terutama di belakang Pabrik PT Pusri di kawasan 1 Ilir ini.
“ Itu butuh biaya, kalau enggak pemerintah siapa?, kalau enggak ada dana? Bukan berarti penelitinya mata duitan,” katanya.
Dia mengakui kalau dalam sejarah ada istilah jiwa zaman (Zeitgeist) , dimana tiap pemimpin itu memiliki jiwa zamannya masing-masing.
“ Oh dia lagi seneng ini , yang ini seneng ini ,” katanya.
Sedangkan Arkeolog dari Balar Sumsel , Retno Purwanti membantah adanya isu bila lokasi Prasasti Telaga Batu yang berada di kawasan Pusri menjadi tempat pembuangan limbah.
“Isu itu tidak benar, jauh dari tempat pembuangan limbah,” katanya ditempat yang sama.
Dia menjelaskan, Prasasti Telaga Batu adalah sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru.
Dimana menurutnya, letak penemuannya tidak jauh dari kawasan Sabokingking, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II Kota Palembang.
“Jadi, untuk memastikan isu itu, tanggal 21 Mei 2019 kami kesana, dan ternyata itu tanah bekas bangunan PT Pusri, nah sisa bangunannya dibuang disitu,” katanya.
Selain itu, Retno mengatakan, kalau di wilayah itu ada situs Telaga Batu, tapi sama sekali tidak tersentuh (terganggu).
“Situs itu aman sama sekali tidak tersentuh dan tidak diganggu oleh Pusri, mereka tahu disana ada Sabokingking, Telaga Batu, dan Makam Ki Gede Ing Suro semua itu tempat bersejarah,” katanya.
Sebelumnya dalam rilisnya Humas PT Pusri menjelaskan kalau PT Pusri sebagai produsen pupuk bersubsidi dalam mengoperasikan pabriknya berdasarkan ketentuan undang-undang dan peraturan yangberlaku. Tidak hanya saat produksi saja, dalam mengelola sisa produksi Pusri juga sangatmematuhi peraturan yang berlaku. Hal ini dapat dibuktikan dengan penghargaan ProperHijau sejak tahun 2011 sampai dengan sekarang.
Dalam mengelola sisa produksi yang tergolong B3, Pusri bekerjasama dengan pihak ketiga yang sudah memiliki lisensi resmi. Jadi dapat diluruskan bahwa Pusri tidak mengolah sendiri sisa produksi yang tergolong B3.
Saat ini PT Pusri Palembang sedang melakukan pengembangan dengan membangun Pabrik NPK Fusion II yang memiliki kapasitas produksi 2×100.000 ton per tahun. Hal ini dilakukan dalam rangka bersinergi dengan program pemerintah khususnya menunjang kedaulatan pangan. Adapun tanah galian Proyek NPK Fusion II ditempatkan di areal samping pagar pabrik. Dengan demikian tidak benar bahwa yang dimaksud timbunan adalah limbah B3 melainkan sisa galian tanah proyek NPK.
Pihak Pusri sendiri telah berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Palembang mengenai keberadaan Situs Telaga Biru. Adapun keberadaan Situs tersebut saat ini masih dalam proses kajian oleh Dinas Kebudayaan Kota Palembang. (Hernawan L. Sjamsuddin Manager Humas Email: hernawan@pusri.co.id).#osk

Baca:  AGSI Sumsel Tolak Pengembangan Wisata Pulau Kemaro Angkat Keluhuran Kerajaan Sriwijaya
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...