Disbud Kota Palembang  Pasang 20 Plang Nama Cagar Budaya di Sejumlah Tempat

7

BP/DUDY OSKANDAR
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang , Siti Emma Sumiatul Ssos Msi

Palembang, BP

 

Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang secara bertahap berhasil memasang plang nama cagar budaya  sebanyak 20 buah untuk  bangunan, kuburan yang memiliki nilai sejarah di kota Palembang.

20  buah plang nama cagar budaya tersebut diantaranya Gedung Jacobson Van Den Berg , Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya, Masjid Lawang Kidul, Museum SMB II, Museum Dr Ak Gani.

Selain itu  plang tersebut merupakan informasi kepada  seluruh masyarakat dan sebagai bentuk sosialisasi awal  kalau dilokasi tersebut ada cagar budaya.

“Contohnya di Museum  Sultan Mahmud Badaruddin II, kita taruh samping Museum, itu salah satu tugas kita, diharapkan  tidak hanya pemerintah, masyarakatpun bisa asal sesuai dengan ketentuan,” kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang , Siti Emma Sumiatul Ssos Msi ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (18/3).

Malahan menurutnya sudah ada yang ingin berpartisipasi dalam pemasangan plang nama cagar budaya yaitu dari Zuriat dari Nangning .

“ Itu sudah suatu bentuk kepedulian tapi mereka mengikuti sesuai aturan pemerintah dan dia sudah kita tanyakan syarat-syarat pemasangannya secara regnas sudah terdaftar sehingga dia sudah cagar budaya,” katanya.

Baca:  Asal Mula Nama Ubi Kayu

Pemasangan 20 plang cagar budaya menurutnya akan dilakukan secara bertahap dan terus dilakukan.” Tahap-tahap untuk bentuk pelestarian cagar budaya ini yang pertama harus di identifikasi dulu, dari identifikasi lalu di cek ke lapangan , setelah itu didaftarkan sesuai dengan kondisi, kalau sekadar cerita tidak bisa di daftarkan , artinya sudah musnah itu  tapi kita gali dengan cerita melalui  sejarahada bidnag kita bidang sejarah, tapi untuk yang masih ada itulah gunanya kita perawatan, pemeliharaan terhadap aset itu supaya aset sejarah ini bisa bertahan, bisa terus di lestarikan,” katanya.

Setelah pembuatan plang cagar budaya itu lalu sudah di daftarkan selanjutnya diajukan ke tim Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk segera di sidangkan  apakah ini bisa di tetapkan sebagai cagar budaya atau tidak.

“ Tidak juga karena diduga cagar budaya otomatis cagar budaya, tapi semasa dia cagar budaya ini tidak boleh diapa-apakan jadi dia sudah dianggap cagar budaya sampai dia ditetapkan oleh kajian itu,” katanya.

Baca:  Peresmian Plang Nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin  Di Protes

Mengenai status Masjid Agung dan Ampera, menurutnya karena kemarin sudah ditetapkan oleh Ketetapan menteri tapi dengan berlakunya UU baru yaitu UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya ini itu harus di daftar ulang,  jadi menurutnya  Masjid Agung dan Ampera termasuk yang baru di registrasi tapi berdasarkan UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya , apabila sudah didaftarkan dia termasuk yang diduga cagar budaya dan mendapatkan perlindungan sampai batas dia ditetapkan  dengan kajian sebagai cagar budaya.

“ Kita ikhtiar, kita berusaha dan berupaya dan tahap-tahap ini kalau kemarin kami dengan pak Sudirman Tegoeh (Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang yang lama) menggali potensi cagar budaya, jadi makam yang hilang bisa muncul lagi  , tempat tempat selama ini tidak di ketahui masyarakat sebagai cagar budaya itu sudah, tahap selanjutnya inilah tugas kami  untuk segera menetapkan dan berdasarkan undang-undang No 11 tahun 2010  itu sudah harus kita buat tim ahli cagar budaya untuk menetapkan, karena dana kita terbatas , skala prioritas dulu tahun ini sudah sampai 374 objek cagar budaya yang terdaftar,” katanya.

Baca:  Komplek Makam Pangeran Kramadjaya Yang Hilang Di Pasang Plang Nama

Dan yang lolos verifikasi sekitar 59  buat dan itu bisa di lihat di Registrasi Nasional (Regnas) dan secara bertahap akan dipasang plang nama cagar budaya.

“Dari dilestarikan  bisa menjadi objek wisata, memanfaatkan, mengelola ini yang jadi kita pentingkan sekarang supaya aset itu bisa terus terawat, kalau cuma kita lestarikan lalu dikandang dan tidak menjadi aset wisata  klenger juga kita untuk membiayai untuk pemeliharannya, tapi dengan menjadi aset wisata bisa bermanfaat dobel sebagai dokumen sejarah yang bentuknya riil dan sebagai informasi kepada masyarakat ada bukti sejarah yang tertinggal,” katanya. #osk