Rotan di Dermaga Palembang (1912-1913 )

3

BP/ DUDY OSKANDAR

Oleh: Dudy Oskandar, Jurnalis 

PALEMBANG  membentang sebagai ibu kota lama Kesultanan Palembang  yang berada  di tepi sungai terbesar di Soematra, Moesi,

 

Kota ini  banyak memiliki rumah  yang bertiang dan terapung yang sama dengan daerah Sambas di  Kalimantan.

Disisi distrik kota ini , ada bekas rumah-rumah sultan dan telah dibangun rumah bergaya Eropa, ada rumah apung dan rumah panggung seperti di sisi lainnya.

 

Oleh karena itu, Palembang dalam maknanya sebagai tempat perdagangan, yang hanya dapat dilihat dengan pemandangan yang khas.

Dalam hal ini, orang harus memperhitungkan, pertama-tama, bahwa Palembang adalah satu-satunya pelabuhan besar di daerah tangkapan air Moesi, yaitu, suatu wilayah, dua kali besar dari wilayah Belanda (61.000 M2). Sungai selebar 400 m dimana airnya dari air hujan, yang dapat diperkirakan sekitar empat kali curah hujan di Belanda, sekitar 700 mM.

Selain itu, Palembang memiliki iklim yang  selalu berubah-ubah serta memiliki dataran  tinggi dan rendah, akibatnya banjir sering terjadi.

Dataran tinggi  Palembang dan sekitarnya hanya memiliki 24 M. lebih panjang dari 300 KM dan dengan demikian memiliki jangkauan 1: 12500; di bandingkan dataran rendah di Palembang, yang terletak pada ketinggian 12 M. di atas dan 90 KM dari laut.

 

BP/IST
Rotan di Dermaga
Palembang di Tahun 1912-1913

Palembang kaya dengan  hasil-hasil bumi yang telah menjadi komoditi  sangat penting bagi Hindia Belanda dalam lima puluh tahun terakhir. Rotan atau buluh Spanyol disuplai dari kawasan pedalaman Palembang dalam ukuran yang paling beragam, tetapi bisa lebih dari 100 M panjangnya di hutan tropis.

Baca:  Peringatan Milad Ke- 352 Tahun Kesultanan Palembang Darussalam Berlangsung Hikmad

Rotan adalah batang kayu yang fleksibel, Orang pribumi Palembang tahu bagaimana memanfaatkan rotan hampir semua kegunaan  untuk tujuan yang berbeda di masyarakatnya, dari ukuran yang tebal hingga yang tipis. Sebaliknya, orang Eropa dan orang asing hanya menginginkan spesies tertentu  rotan terutama untuk industri, dengan kondisi rotan, yang dipilih dalam fragmen-fragmen dengan panjang beberapa depa menjadi bundel seperti di sini.

Ada juga Rotan liar, tanaman ini  hanya dapat ditemukan di hutan yang lebih terpencil melalui pengumpulan terus menerus; itulah mengapa diputuskan untuk menanam rotan di perkebunan.

Ekspor rotan liar sangat besar dan jumlahnya mencapai lebih dari 20 juta gulden per tahun dari Palembang.

Tentang dua hasil hutan penting lainnya, karet dan getah pertja, yang bagi Palembang memberi banyak bobot pada cangkangnya.

Dua komoditi lainnya, kapur barus dan kemenyan keduanya jenis  tanaman aromatik, ditemukan terutama di Sumatra; karenanya, masih ada satu kata tentang ini.  Tentunya keduanya sudah menjadi alat ekspor dari Sumatera.

Kapur barus banyak dicari terutama orang-orang Cina yang rela membayar banyak uang untuk itu , karen akan di gunakan sebagai balsam.  Malah ekspornya bisa   berjumlah sekitar 1 juta gulden per tahun.

Baca:  Raden Hanan, Perjuangan dan Pengabdiannya

Itulah arti pentingnya Palembang tidak akan lengkap tanpa memperhatikan cakupan wilayahnya terutama dengan hutan hujan dalam , pengembangan tanaman vegetasi yang paling kuat, karena hanya di daerah tropis di bawah panas yang berlimpah, kelembaban, cahaya dan kesuburan semua tanaman itu bisa tumbuh subur.

Seperti banyak pelabuhan lainnya, Palembang juga memiliki banyak kemakmuran untuk produk-produk dari kayu-kayu ini seperti rotan, karet, getah pertja, kemenyan,  kapur barus, dll. Tanaman vegetasi yang sangat subur ini memberi kita penjelasan tentang banyak daerah.

Di Palembang alat transportasi  banyak jenis, yang semuanya terlibat dalam perdagangan di sungai. Namun, kapal darat bertiang satu dan dua  juga berlayar dari satu muara ke muara yang lain. Yang paling banyak adalah perahu kayu dengan beberapa kemudi, yang mempertahankan lalu lintas utama di kota itu sendiri , ada kapal uap sehingga sangat cocok untuk navigasi di sungai dangkal lokal.

Kapal ini memiliki lambung  terletak di sebelah kiri di tepi dan di sebelah kanan untuk penggerak di buritan kapal uap semacam itu.

 

Ada ribuan rumah rakit (rakit), sehingga pada malam hari lampu rumah mereka disapu oleh gelombang arus. Mereka sebagian besar dihuni oleh orang Cina. Rakit-rakit itu kebanyakan terbuat dari  bambu, dan siapapun senang melihatnya .

Baca:  KPU Palembang Siap Hadapi Pilkada Kota Palembang

Rumah rakit ini selalu diperbaiki  ketika batang-batang bambu rusak lalu ditarik keluar dari rakit dan dimasukkan yang baru sebagai gantinya.

Pada tahun-tahun sebelumnya orang-orang Eropa hidup di atas rakit-rakit seperti itu, yang kelihatannya terawat dengan baik, tetapi ini sudah lama menjadi bagian dari masa lalu.

Banyak usaha dilakukan diatas rumah  rakit yang digunakan untuk semua jenis barang. Orang Melayu adalah pedagang terlahir dan kemampuan navigasi yang baik dari sungai memungkinkannya untuk mengekstraksi hasil hutan seperti kopi, kapuk, kapas dll.

Lalu ikan dari daerah lain dan lada dari Lampung, garam, barang anyaman, pisau, pernak-pernik. Orang-orang Arab dan Cina memiliki perdagangan grosir; khususnya di Singapura.

Malahan  perdagang dari Kalimantan dan Jawa dan bahkan beberapa di Makkassar. Madura  dengan menggunakan perahu – perahu soemenep – mengunjungi Palembang secara teratur.

Memancing juga merupakan sumber daya penting di kota ini ; dengan jaring dan juga dengan perangkap,

. Ada juga industri rumah tangga yang besar dan, seperti yang sering ada di Timur, setiap kabupaten pada umumnya memiliki satu cabang industri rumah tangga untuk bisnis utama; ada kampung-kampung dengan kerajinan besi dan pengrajin emas, dan tikar Palembang terkenal, seperti pernis, renda dan gaun sutra atau ssutra, yang sering ditenun dengan  benang emas perak. #osk

 

 

Sumber : http://www.dickrozing.nl