IJTI dan Kejari Palembang Gelar Workshop  Benang Merah Produk Jurnalistik

11

BP/IST
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Kota Palembang mengelar Workshop Benang Merah Produk Jurnalistik versus Produk Media Sosial kemarin, Sabtu (9/2) di aula Kejaksaan Negeri Palembang.

Palembang, BP

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Kota Palembang mengelar Workshop Benang Merah Produk Jurnalistik versus Produk Media Sosial kemarin, Sabtu (9/2) di aula Kejaksaan Negeri Palembang.

 

Pada kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Kepala Kejaksaan Negeri Palembang, Asmadi, Universitas Sriwijaya Nurly Melinda dan perwakilan IJTI Sumsel.

Kepala Kejaksaan Negeri Palembang, Asmadi mengatakan, menjadi seorang jurnalis tidak sama dengan citizen, sebab untuk menjadi wartawan harus teregister di Dewan Pers dan berbadan hukum.

 

Untuk itu, sambung dia, penyelesaian pun melalai UU Pers sedangkan untuk masyarakat yang menyebarkan informasi bohong maka itu di kenakan kaidah hukum berlaku (UU pidana) menghina, menghasut menyerang pemerintah, berita hoax dan lainnya.

Baca:  Anjungan Sumsel Sarat Acara Budaya

 

Yang pasti, lanjut dia, tirani hukum sebetulnya sangat melindungi masyarakat dari penyebaran yang informasi negatif. Salah satu, memberikan informasi negatif seperti meneruskan informasi foto porno maka dapat dikenakan UU ITE walaupun ia hanya meneruskan. “Apa pun itu harus menjaga ketertiban umum dan gunakan media secara bijak,” tukasnya.

 

Narasumber dari Universitas Sriwijaya Nurly Melinda mengatakan, saat ini era konfirgensi informasi dan media dimana terjadi perubahan dan pola di masyarakat. “Kalau dulu media cetak dan media massa menjadi favorit, namun kini era berubah menjadi lebih simpel, seluruh informasi dapat di jangkau lewat satu benda yakni smartphone,” ucapnya.

Baca:  Pekan HUT TMII: Anjungan Sumsel Gelar Gebyar Budaya

Terlebih lanjutnya, lewat handphone seluruh orang bisa membaca, menonton termasuk menggunakan media sosial berupa Facebook Ingga Instagram . “Nah, sekarang informasi ini banyak di sebar hanyw saja informasi ini bukan produk jurnalistik dan peluru di kroscek ulang kebenaran

 

Berdasarkan data, masih kata dia, pengguna media online meningkat menjadi 30 juta pengguna. Hanya saja perlu diketahui bahwa kejahatan digital lebih mudah di lacak dibandingkan dunia dunia nyata. “Karenanya, kebebasan penggunaan media sosial harus secara bijak

Panitia IJTI Sumsel, Yayan Van Luber mengatakan, kegiatan hari ini mengajak perwakilan lembaga pers mahasiswa yakni Universitas Sriwijaya, Universitas Muhammad Palembang, Universitas Bina Darma, Universitas Islam Negeri.

Baca:  IJTI Sumsel Diharapkan Dapat Gerakkan Kompetensi Dan Capacity Building Jurnalis.

 

Pada workshop, sambung dia, pihaknya ingin memberikan edukasi dan membedakan mana berita dan informasi yang merupakan produk media dalam lembaga dan media sosial. “Saat ini , informasi sangat cepat namun akurasi nya perlu dilakukan kroscek ulang.

Pasalnya, lanjut dia, tidak semua informasi itu benar bahkan ada yang hoax baik mengandung ujaran kebencian hingga mengandung informasi yang salah yang dapat memecah ke kebangsaan. “Disini , informasi dari media maka ada konfirmasi dan tentunya melalui kompetensi,” tukasnya.#osk