Kisah Kapten Animan Achyat, Sang Penghadang Logistik dan Senjata Belanda di Perang Lima Hari Lima Malam

4

BP/DUDY OSKANDAR
Kapten  Animan Achyat, yang merupakan  Komandan Batalyon 30 Resimen  XVI Brigade Pertempuran Garuda Merah Divisi II tahun 1947 dalam perang lima hari lima malam  
 

Palembang, BP

 

Kapten  Animan Achyat, adalah Komandan Batalyon 30 Resimen  XVI Brigade Pertempuran Garuda Merah Divisi II tahun 1947 dalam perang lima hari lima malam  , beliau merupakan orangtua dari mantan Walikota Palembang H Eddy Santana Putra (ESP).

Dalam perang lima hari lima malam tersebut , perjuangan  heroiknya selalu dikenang rekan-rekannya lantaran dia yang berposko di Sukarami  ikut membantu pasukan Dani Effendi yang mengepung Charitas di Palembang.

Selain itu,  pasukannya juga selalu melakukan penghadangan dan pemblokiran  bantuan Belanda yang datang dari  Talang Betutu, sehingga jalur bantuan Belanda dari Talang Betutu ke pusat pertempuran di tengah kota utamanya ke Charitas dapat dihambat.

“Itu sebabnya Belanda hanya bisa menggunakan serangan udara untuk menyerang pejuang di Palembang,” kata sejarawan Sumsel Syafruddin Yusuf, Kamis (17/1).

Baca:  Ironis, Peringatan Perang Lima Hari Lima Malam Di Palembang Tak Diperingati di Palembang

      Hal senada dikemukakan ESP,  bagaimana di masa perang tersebut,  hidup keluarganya begitu kesusahan.

“Bapak berjuang juga di Muba dan ikut menghadang pasukan Belanda di Talang Betutu, tugas  bapak , mengganggu , pasukan Belanda yang membawa logistik , senjata yang akan masuk Palembang,” katanya, Kamis (17/1).

      Cerita perang tersebut menurut ESP yang merupakan anak empat dari delapan bersaudara lebih banyak di kisahkan teman-teman bapaknya ketimbang dari bapaknya sendiri.

 

“Aku ingat ibu aku pernah marah minta bakar semua isi dalam peti peti barang peninggalan bapak, itulah jimat-jimat itu,  termasuk sirik, kata ibu aku,  ibu aku minta semuanya dibuang,” katanya.

      ESP mengaku kalau dia mendapatkan cerita, ketika ayahnya  berjuang ayahnya mendapatkan ilmu dari suku kubu.

Baca:  Empat Dasawarsa Ketegangan Antara Iran-Amerika

“Kalau nembak , bapak aku merem di tempat gelap dan bayangkan kaki orang itu, lalu diarahkan ke kaki dia, walaupun di tempat gelap kena juga , itu ada bacaannya , , dibayangkan kaki , tapi itu bahaya juga kalau kita terbayang bini kita sendiri,” senyumnya.

Walaupun demikian dari delapan bersaudara tidak ada dari keluarganya yang menjadi tentara mengikuti langkah bapaknya sendiri.

“Bapak selalu bilang kalau kehidupan tentara itu susah, mayor keatas baru lumayan hidupnya,  adik aku dulu pernah coba masuk tentara karena tidak direstui, orangtua,  dia gagal di Malang karena jempolnya sakit, sekarang sipil semua saudara saya,” katanya.

ESP ingat betul, bagaimana , bapaknya mengajarkan keluarganya jangan makan hak orang lain, jangan tangan di bawah tapi harus  tangan diatas  dan menurutnya sedekah itu tidak harus kaya dulu.

Baca:  Lima Anggota DPRD Sumsel Belum Mundur
BP/DUDY OSKANDAR
ESP

“Kami hidup sederhana  tapi cukup, bapak aku pernah beli tanah di Pusri , dulu belum ada orang depan pusri, bapak aku beli tanah 4 hektar dengan rumah, semua ada, nak ikan ada kolamnnya tinggal ambil, sayur, cabe tinggal ambil, tomat, buah buahan ,” katanya.

      Selain itu bapaknya saat menjadi tentara mendapatkan jatah beras dua karung.

“Telok banyak, ayam dan bebek banyak, jadi gizi cukup, dan duit pensiun tentara itu tidak banyak,” katanya.

Namun tahun 1977, mereka pindah di Jalan Natuna dan hingga kini.

“Kami  pindah dari Pusri, saat sudah mulai banjir, setelah itu kami pindah di Jalan Natuna tahun 1977, ada penyesalan kenapa pindah ke kota padahal enak di sana (Pusri),” katanya.#osk