SMB IV Sedih Kesenian Palembang Sudah Banyak Hilang  

13

BP/DUDY OSKANDAR
Sultan Mahmud Badaruddin IV, Djaya Wikrama RM Fauwaz Diradja

Palembang, BP

Sultan Mahmud Badaruddin IV, Djaya Wikrama RM Fauwaz Diradja  mengaku senang karena termasuk dalam keturunan Kesultanan Palembang Darussalam namun sisi lain, dia mengaku sangat sedih melihat kondisi Palembang saat ini di mana kebudayaan Palembang sudah banyak hilang.

        “Saya bilang sejarah itu masa lalu bukan dosa anak keturunan sekarang, jadi sampai anak cucu mungkin takut karena sejarah buyutnya tidak baik,  saya bilang kita raden, kemas , Masagus itu sejarah lama sejarah lamalah, kita sekarang bersatu untuk Palembang, Palembang ini sampai kapan budaya kita hilang, saya tanya wayang Palembang kok hilang, bidar bisa hilang,” katanya dalam acara Tuesday Dialogue Radio BP Trijaya Palembang. Selasa (15/1) pukul 15.00 “ Ketika SMB II Menentang Inggris”

Baca:  Haul Sultan Mahmud Badaruddin III 2 Tahun Berlangsung Dengan Sakral

Selain itu menurut pria yang berprofesi sebagai notaris ini mengatakan, kalau dulu Palembang dulu punya kesenian ronggeng.

“ Ada gamelan, ada tabuhan  ada bersyair, berpuisi menulis melayu kemana semua, apakah kita mau hilang, tidak punya identitas, Riau, Jambi, Lampung sampai Malaysia itu dulu kiblatnya Palembang, Palembang itu dulu kiblatnya budaya melayu, sekarang mana budaya kita, itu yang membuat saya sedih,” katanya.

Karena itu ketika dirinya menjadi Sultan, itu yang dirinya sedihkan kebudayaan Palembang banyak hilang, karena itu dirinya berusaha semaksimal mungkin menghidupkan kembali budaya Palembang yang hilang tersebut.

Baca:  Angka Covid-19 di Sumsel Melonjak, SMB IV: Harus Didorong Percepatan PSBB Ke Pusat

Dirinya juga berusaha bersama sejarawan dan budayawan Palembang menghidupkan budaya zaman dulu yang merupakan identitas kota Palembang.

“ Kita jangan salah, ukiran Palembang itu lebih terkenal daripada ukiran jepara, salah satu buktinya, kalau kita ke masjid Agung, kota Gede Yogya itu ada ukiran Palembang, mimbar Masjid Agung Kota Gede itu ukirannya dari Palembang, itu waktu kita masih Kerajaan Palembang belum menjadi kesultanan Palembang, itu salah satu bukti kalau orang sana suka budaya kita, masak  budaya kita hilang semua, kita mau kemanakan budaya kita ini, kearifan lokal ini yang bisa kita jual dan mempromosikan kebesaran kita sebagai orang Palembang  bukan  masalah nak makan pempeknyo bae, bukan masalah songketnya bagus sepanjangan, tapi bisa enggak budaya –budaya lokal ini menjadi keseharian kita, bisa kita nikmati,” katanya.

Baca:  Penerbangan Internasional di SMB II Tutup Sementara

Selain itu dia mencontohkan Syarofal Anam yang hilang oleh Kesenian Hadro sedang yang terkenal terkenal di Palembang adalah Syarofal Anam.

“Pencak Palembang  cuma tinggal hitungan jari kalau saya boleh hitung, ini harus kita hidupkan kembali, cintai kembali, bisa enggak masyarakat Palembang ini mencintai budaya-budaya lama yang justru setelah diangkat orang luar negeri menghargai budaya kita, di Amerika ada pencak silat, masak di Palembang, pencak silat hilang,” katanya.#osk