Peringatan Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang Digelar Secara Sederhana

7

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana peringatan Perang Lima Hari Lima Malam Selasa (1/1) di Monpera Palembang

Palembang, BP

 

 72 tahun lalu, atau tepatnya 1-5 Januari 1947 telah terjadi Perang 5 hari 5 Malam (PLHLM) di Palembang. Peristiwa ini sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Banyak korban tenaga, harta, dan bahkan ribuan nyawa yang melayang. Menurut catatan PMI ketika itu, sekitar 2000-3500 orang pihak Indonesia menjadi korban dari serangan berutal pasukan Belanda.

Namun, sepertinya banyak yang lupa. Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Disaat tahun baru di rayakan dengan pesta dan hura-hura  serta pesta kembang api, sejumlah  unsur pencinta sejarah diantaranya Museum dr AK Gani didukung oleh Dewan Kesenian Palembang, Lembaga Budaya Ulu Melayu, dan Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam , Komunitas Pencinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang, MGMP Sejarah kota Palembang, Selasa (1/1)  di Monpera Palembang, menggelar kegiatan sederhana dalam bentuk Doa Bersama, khususnya kepada para pahlawan yang terlibat dalam Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang.

Selain Diskusi juga dimeriahkan musikalitas puisi dan baca puisi dari Fir Azwar Kepala Sekolah SMU 10 Palembang, mahasiswi UIN Raden Fatah, Palembang dan tokoh puisi Palembang, Wanda Lesmana dan lagu perjuangan dari musisi Palembang, Iir Stone serta paparan sejarah dari Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji.

Baca:  Mengenang Kembali Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

Turut hadir diantaranya Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel   Aufa S Sarkomi SP MSc.

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana peringatan Perang Lima Hari Lima Malam
Selasa (1/1) di Monpera Palembang

Kepala Yayasan Museum A.K. Gani, Priyanti Gani mengatakan, kalau perang lima hari lima malam banyak yang lupa, padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah
bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Atas dasar itulah, dikatakannya,  Museum dr AK Gani, mengadakan kegiatan tersebut dan didukung oleh Dewan KesenianPalembang, Lembaga Budaya Ulu Melayu, dan Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam serta Komunitas Pencinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang.

“Peringatan ini selain diskusi, juga menggelar doa bersama khususnya kepada para pahlawan yang terlibat dalam Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang,” katanya.

Ketua Dewan Kesenian, Palembang (DKP) Vebri Alintani mengatakan dipilihnya Monpera Sumbagsel sebagai tempat kegiatan karena bangunan ini sebagai penanda peristiwa dimulainya tragedi kelam tersebut.

Perang diawali pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi. Ketika itu sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda mabuk karena pesta malam tahun baru, keluar dari Benteng dengan kecepatan tinggi.

Baca:  Lima Pembeli Teh Ichitan Dapat Emas Batangan

Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan, kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI/ Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara. Aksi Belanda yang melampaui batas ini disambut oleh pihak republik, maka dimulailah perang yang kemudian berlanjut dengan perang gerilya di wilayah bukit barisan Sumbagsel.

“Jika melihat betapa gigihnya para pejuang dalam perang lima hari lima malam, sudah selayaknya peristiwa ini dijadikan momen bersejarah oleh pemerintah Sumatera Selatan dan kota Palembang. Seharusnya diperingati setiap tahun agar masyarakat tahu, bahwa daerah ini juga memberikan sumbangan besar terhadap kemerdekaan RI. Bukankan dengan mengingat sejarah, rasa kecintaan terhadap Negara ini (nasionalisme) akan semakin kuat. Bahkan jika dikemas dengan baik, peringatan bersejarah seperti ini dapat juga bermanfaat dari sisi kepariwisataan,” katanya.

Baca:  Empat Dasawarsa Ketegangan Antara Iran-Amerika
BP/DUDY OSKANDAR
Suasana peringatan Perang Lima Hari Lima Malam
Selasa (1/1) di Monpera Palembang

Jika para pejuang menurutnya telah melewati jalan yang sangat sulit untuk kemerdekaan, keterlaluan sekali  masyarakat Palembang jika tidak dapat menyelenggarakan kegiatan yang sekadar mengingat jasa-jasa mereka.

Sedangkan Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja mengapresiasi kegiatan tersebut, menurutnya harusnya setiap hari libur atau tanggal 1 Januari dibuat acara menarik di Palembang seperti lomba puisi, treatrikal perang lima hari lima malam, atau treatrikal lain yag dapat menimbulkan kecintaan dari generasi muda di Palembang.

“ Kedepannya bisa lebih semarak lagi acaranya, yang penting bukan acaranya tapi apresiasi masyarakat dan semakin menggiatkan rasa kecintaan kepada negara kita,” katanya.

Sedangkan perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel   Aufa S Sarkomi SP MSc mengapresiasi kegiatan tersebut, menurutnya pihaknya siap mendukung kegiatan dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya di Sumsel.

Namun dia memberikan masukan agar kegiatan sejarah dan budaya tidak mesti dari dana pemerintah yang mekanismenya di nilai ribet namun bisa di dapat dari dana CSR dari perusahaan-perusahaan yang ada di Sumsel dan pihaknya siap bersinergi dengan semua pihak untuk ikut melestarikan sejarah dan budaya di Sumsel.#osk