Ketika Sriwijaya Menghancurkan Mataram Kuno

103

Oleh : Dudy Oskandar, Jurnalis

Sriwijaya menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara sepanjang abad ke-10, akan tetapi pada akhir abad tersebut Kerajaan Medang di Jawa Timur tumbuh menjadi kekuatan bahari baru dan mulai menantang dominasi Sriwijaya.

Berita Tiongkok dari  Dinasti Song menyebut Kerajaan Sriwijaya di Sumatra dengan nama San-fo-tsi, sedangkan  Kerajaan Medang di  Jawa  dengan nama She-po. Dikisahkan bahwa, San-fo-tsi dan She-po terlibat persaingan untuk menguasai Asia Tenggara.

Baca:  Sumsel Banyak Memiliki Pahlawanan Yang Layak Dijadikan Pahlawan Nasional

Kedua negeri itu saling mengirim duta besar ke Tiongkok. Utusan San-fo-tsi yang berangkat tahun 988 tertahan di pelabuhan  Kanton ketika hendak pulang, karena negerinya diserang oleh balatentara Jawa. Serangan dari Jawa ini diduga berlangsung sekitar tahun 990-an, yaitu antara tahun 988 dan 992 pada masa pemerintahan   Sri Cudamani Warmadewa.

Baca:  Tokoh Persamaan Hak Kaum Perempuan Asal Sumsel Itu Bernama Ratu Sinuhun

Pada musim semi tahun 992 duta Sriwijaya tersebut mencoba pulang namun kembali tertahan di  Champa karena negerinya belum aman. Ia meminta kaisar Song agar Tiongkok memberi perlindungan kepada San-fo-tsi.

Utusan Jawa juga tiba di Tiongkok tahun 992. Ia dikirim oleh rajanya yang naik takhta tahun 991. Raja baru Jawa tersebut adalah  Dharmawangsa.

Baca:  Kisah Detik-detik Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang
1
2
3
4
5
6
7
8
9