Home / Headline / Kolonel Maludin Simbolon, Pahlawan atau Pengkhianat?

Kolonel Maludin Simbolon, Pahlawan atau Pengkhianat?

 

Kolonel Maludin Simbolon

KOLONEL Maludin Simbolon, siapa tidak kenal mantan Komandan Divisi Palembang Ulu ini. Awal karier militernya banyak di Sumatera Selatan (Sumsel), terutama Palembang.
Selain itu dalam reorganisasi antar TKR se-Sumatera, Maludin sempat menjadi Komandan Divisi I/Lahat (1945-46), yang membawahi 4 resimen dan 15 batalyon di Sumatera Selatan.
Saat TKR dikembangkan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), Maludin menjadi Komandan Divisi VIII Garuda di Sumatera Selatan, yang membawahi Lampung, Bengkulu, Palembang, dan Jambi.
Saat terjadi Agresi Militer Belanda II, di Sumatera dibentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, yang mana AK Gani menjadi gubernur militer dan Maludin Simbolon menjadi wakilnya dan setelah itu dia lebih banyak berkarier di Sumatera Utara.

Terakhir namanya tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai pemimpin daerah di Sumatera yang merasa tidak puas terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat akhir tahun 1950-an.
Antara lain tuntutan perubahan yang diinginkan ialah dalam hal peningkatan kesejahteraan prajurit, otonomi daerah yang lebih besar, serta penggantian para pejabat sipil dan militer pusat di Jakarta.
Maludin kemudian bergabung dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan mengumumkan pemutusan hubungan wilayah militer Sumatera Utara dengan pemerintah pusat tanggal 22 Desember 1956 di Medan dan membentuk Dewan Gajah, walaupun tetap menyatakan setia pada Dwitunggal Soekarno-Hatta. Simbolon sempat kehilangan posisinya sebagai Panglima TT 1 Bukit Barisan (BB) dan melarikan diri ke Sumatera Barat.

Kolonel Maludin Simbolon dan Kolonel F. Mollinger

Kabinet Ali Sastroamidjojo di Jakarta pada malam hari itu juga mengadakan rapat darurat, dan pada pagi harinya Presiden Soekarno mengumumkan pencopotan Maludin dari posisinya dan menunjuk wakilnya Letkol Djamin Gintings untuk mengamankan situasi. Selain itu juga sebutkan bahwa Letkol. Abdul Wahab Makmoer adalah sebagai pengganti selanjutnya, apabila Letkol. Gintings tidak berhasil bertindak.
Gerak cepat pasukan yang dipimpin Letkol. Gintings dapat segera menguasai posisi penting di Kota Medan.
Jakarta mengirimkan pasukan payung yang diterjunkan di Medan untuk mendukung pasukan Djamin Gintings, sehingga pasukan yang setia pada Maludin mundur menghindari pertempuran ke utara Medan, lalu melanjutkan Balige, Tapanuli Tengah.
Selanjutnya, Maludin dan pasukan yang loyal kepadanya kemudian melanjutkan perlawanan secara bergerilya, dan berkoordinasi dengan kekuatan PRRI lainnya di bawah Letkol. Achmad Husein di Bukittinggi. Selain di Medan, pemerintah pusat juga menerjunkan pasukan payung dan melakukan pendaratan pasukan dari laut di Palembang dan Padang, untuk secara efektif menguasai kota-kota pusat perlawanan PRRI di Sumatera tersebut.
Pada tanggal 27 Juli 1961, Maludin Simbolon bersama staff dan pasukannya “Divisi Pusukbuhit” menyerahkan diri secara resmi kepada Panglima Kodam II, Letkol. Manaf Lubis, di Balige, dengan demikian mengakhiri perlawanannya terhadap pemerintah pusat.
Di literature lain, tudingan kalau Kol Maludin Simbolon menjadi salah satu petinggi PPRI, dibantah karena PRRI, tidak akan pernah ada di Tapanuli dan Sumatera Timur, PRRI ada di Sumatera Tengah bentukan Ahmad Husein pada tgl 17 Maret tahun 1958 dengan Perdana Menteri PRRI Syarifrudin Prawiranegara.
Jadi, kalau ada yang menuliskan bahwa PRRI ada di Sumatera, itu kebohongan. Kol Maludin Simbolon tidak pernah berfikir sedikitpun membentuk suatu pemerintahan tandingan, dia tetap setia kepda Negara Persatuan Republik Indonesia (NPRI), Pancasila dan UUD 1945 sesuai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Kol Maludin Simbolon benar memerintahkan kepada Letnan Kol. Ahmad Husein pada malam hari pukul 20.00 tanggal 20 Desember 1956 melalui Radiogram kepada Ahmad Husein mencetuskan di Sumatera Tengah agar memutuskan untuk sementara waktu hubungan kepda Pemerintah Pusat, perintah ini dilakukan Kol. Maludin Simbolon sebagai tanggungjawabnya selaku Panglima TT.I Bukit Barisan dan penanggungjawab wilayah.
Walaupun itu membuat dia rela meninggalkan jabatannya sebagai Panglima TT 1 Bukit Barisan (BB) demi, melawan ketidak adilan antara Jawa dan Sumatra.
Hal ini dilakukannya karena kondisi sosial ekonomi di daerah sudah semakin parah, karena tidak ada perhatian Pemerintah Pusat ke Daerah.
Namun menurut, Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an (2007), Simbolon ditolong oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein, yang memimpin Dewan Banteng pada 20 Desember 1956.
“Husein hanya memberikan bantuan sekadar uang beras,” tulis Mestika Zed & Hasril Chaniago dalam Ahmad Husein: Perlawanan Seorang Pejuang (2001).
Perwira yang menggantikan Simbolon di Bukit Barisan adalah Letkol Djamin Ginting, yang belakangan jadi pahlawan nasional. Simbolon menjadi menteri luar negeri PRRI sesudah pemerintahan revolusioner anti-komunis ini dibentuk pada 15 Februari 1958.
Seperti Simbolon, Husein pernah ikut latihan Gyugun di zaman Jepang. Husein yang anak apoteker di rumah sakit militer kolonial ini pernah belajar di Taman Siswa. Di masa revolusi, Husein adalah komandan Harimau Kuranji. Zed & Chaniago menulis bahwa Husein identik dengan Harimau Kuranji.
Gusti Asnan menyebut Husein terlibat dalam pertempuran Padang Area. Usianya masih muda ketika menjadi Komandan Resimen III dalam Divisi Banteng. Tak lupa cerita miring soal Husein dicatat Asnan.
“Parada Harahap menyaksikan kesebelasan Batalyon Harimau Kuranji pimpinan Ahmad Husein bertanding, dan bermain kasar, segera Harahap menulis ke surat kabarnya. Berita itu terbaca oleh Ahmad Husein dan membuatnya berang,” tulis Asnan. Harahap dihajar dan ditahan atas perintah Husein.
Dari Sumatera Selatan, ada Letnan Kolonel Barlian. Seperti Husein dan Simbolon, Barlian juga ikut latihan Gyugun. Setelah ikut revolusi 1945-1949, Barlian berada di pihak Republik. Setelah 1950, Barlian ditempatkan di Markas Besar Angkatan Darat.
Bedanya, Barlian terhitung dekat dengan Abdul Haris Nasution. Barlian pernah jadi calon parlemen sebagai wakil dari Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, partai yang dibangun Nasution. Tahun berikutnya, Barlian adalah Panglima TT II/Sriwijaya yang berkedudukan di Palembang. Setelah 26 Desember 1956, Barlian adalah Ketua Dewan Garuda.
Kolonel pembangkang lain adalah Zulkifli Lubis. Orang Batak Mandailing ini juga didikan Jepang. Hanya saja tidak di Gyugun Sumatra, melainkan di Seinen Dojo, kemudian jadi perwira PETA di Jawa. Ia dikenal sebagai legenda intel Indonesia. Di awal kemerdekaan, ia menjadi Komandan Intel Republik.
Laki-laki yang pernah menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini adalah sepupu dan seteru Nasution. Meski sama-sama rival, keduanya dikenal sebagai anti-komunis. Lubis pergi ke Sumatera dan bergabung dengan PRRI.

Kolonel Maludin Simbolon dan rekannya saat penandatanganan perjanjian dengan Belanda di Lahat pasca perjanjian renville

Selama gerakan PRRI, Letkol Ahmad Husein bersama rekan-rekannya itu telah menangkap sejumlah orang yang menentang gerakan mereka. Begitupun para loyalis yang meragukan langkah politis tersebut. Orang-orang malang ini ditahan di tiga penjara: Muara Labuh, Situjuh, dan Suliki.
Pada awal 1957, pemimpin Partai Komunis Indonesia setempat serta beberapa pengikutnya di Sumatera Barat dijebloskan ke penjara. Masih di daerah Minangkabu, Letkol Dahlan Djambek membentuk Gerakan Bersama Anti-Komunis. Setidaknya 200 orang kiri ditahan. Rupanya tak hanya PKI, ada juga orang Murba (didirikan oleh Tan Malaka) dan Partai Sosialis Indonesia (didirikan Sutan Sjahrir) yang tidak sepaham dengan PRRI, meski kedua partai itu pun menentang PKI.
A.H. Nasution, saat itu orang kuat di TNI yang mengepalai staf Angkatan Darat, merespons para kolonel pembangkang dengan langkah pemecatan. Jakarta pun bertindak dengan mengirim pasukan. Di antara perwira yang memimpin operasi ini terdapat Letnan Kolonel Ahmad Yani, yang belum lama pulang dari sekolah staf komando di Amerika Serikat.
“Kekuatan fisik PRRI di Sumatera dengan gampang ditumpas oleh TNI hanya dalam waktu relatif singkat oleh operasi militer yang hampir tanpa mendapat perlawanan,” tulis Phill Manuel Sulu yang terlibat Permesta di Sulawesi Utara dalam Permesta dalam Romantika, Kemelut & Misteri (2011).
Amerika Serikat sendiri belakangan malah mendekatkan diri kepada Nasution. Sementara para kolonel pembangkang itu dibiarkan kalah dan jadi tawanan Jakarta. Kelak sebagian dari mereka dibebaskan dan melanjutkan karier militernya semasa pemerintahan Soeharto usai pembantaian masal kaum kiri 1960-an.#osk

Sumber:

1. Tirto.id “ Para Kolonel Pembangkang Sumatera Menentang Jakarta”
2. Kolonel Maludin Simbolon Ingatan Kolektif Masyarakat Terhadap Jatuhnya Pesawat Tentara Pusat di Huta Tongah.
Oleh Erond L. Damanik, M.Si, (Peneliti di
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan)
3. Wikipedia

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

150 Personil Bintara Kodam II Sriwijaya Ikuti MTT Pengetahuan Intelijen

Palembang, BP Sebanyak 150 prajurit jajaran Kodam II/Swj, mengikuti Mobile Training Team (MTT) Pengetahuan Dasar Intelijen bagi Bintara Intelijen dan ...