Home / Headline / Rampas Pistol Polisi, Bandar Narkoba Jaringan Aceh Ditembak Mati

Rampas Pistol Polisi, Bandar Narkoba Jaringan Aceh Ditembak Mati

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman memimpin gelar perkara dengan tersangka Baharudin yang tewas ditembak, Jumat (31/8).

Palembang, BP–Berupaya melawan dengan cara mendorong dan mencoba merampas pistol aparat saat dibawa untuk dilakukan pengembangan, Baharudin (38) terpaksa diberikan tindakan tegas, Kamis (30/8).

Satu butir timah panas anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel yang bersarang di dada Baharudin, membuat bandar narkoba jaringan Aceh ini meregang nyawa.

Bandar narkoba yang kerap melakukan transaksi antarkota di wilayah Sumsel ini disergap petugas saat berada di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Setelah berhasil diamankan, tersangka sempat digiring petugas untuk menunjukkan lokasi kediaman terduga pemesan narkoba kepadanya, namun saat itu tersangka berusaha melawan untuk dapat meloloskan diri.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman mengatakan, penangkapan dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi jika pelaku akan melakukan transaksi shabu dalam jumlah besar.

Setelah melakukan pengintaian, polisi menangkap Baharudin dengan barang bukti satu kilogram shabu. Setelah itu, petugas langsung melakukan pengembangan untuk mencari pemesan serbuk setan tersebut.

Baharudin akhirnya menunjukkan satu rumah di kawasan Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin yang disebut sebagai kediaman pemesan.

Namun, saat hendak memasuki rumah yang mirip pondok, tersangka mencoba merebut senjata petugas, sehingga pihak yang berwajib terpaksa memberikan tindakan tegas.

“Ternyata rumah itu adalah pondok tanpa penghuni. Ketika di depan pondok petugas didorong dan pelaku mencoba merebut senjata,” kata Farman ketika gelar perkara, Jumat (31/8).

Farman memaparkan, dalam setiap transaksi tersangka Baharudin selalu menjual shabu dalam jumlah paling kecil satu kilogram. Petugas juga mendapat rekening milik tersangka yang diduga merupakan hasil penjualan narkoba.

“Tersangka adalah bandar narkoba jaringan Aceh dan mengedarkan di wilayah Palembang sejak 2017. Tapi sekali transaksi selalu dalam jumlah besar atau paling kecil satu kilogram,” ujarnya. # idz