Home / Headline / Sungai Kebon Duku Memprihatinkan Kotor, Dangkal Dan Menyempit

Sungai Kebon Duku Memprihatinkan Kotor, Dangkal Dan Menyempit

BP/IST
Kondisi Kebon Duku sekarang.

#Pernah Berperan Penting Dalam Ekosistim
Air dan Transportasi Sejak Dulu  di Palembang

Palembang, BP
Kota Palembang jaman Bari, merupakan wilayah yang penuh dialiri dengan sungai. Terdapat lebih dari 100 anak-anak sungai yang semuanya bermuara ke Sungai Musi sebagai induk. Dengan keadaan alam yang banyak sungai dan kehidupannya, sehingga Palembang dijuluki oleh orang-orang Eropa sebagai “Venesia dari Timur”.
Menurut pengamat sejarah kota Palembang Kms.H.Andi Syarifuddin, Sungai Kebon Duku (letaknya di belakang Internasional Plaza arah Mir Senen) adalah salah satu dari bagian anak-anak sungai yang mengalir di Kota Palembang.
“Dahulu sungai ini berperan penting dalam ekosistim air dan transportasi sungai. Selain terletak di lingkungan keraton dan Masjid Agung, sungai ini membelah dan melintasi 5 kampung, yakni: Kampung 18 ilir, 19 ilir, 22 ilir, 23 ilir, dan 24 ilir,” katanya, Jumat (24/8).
Menurutnya, di masa Kesultanan Palembang Darussalam, sungai Kebon Duku ini berperan penting baik dalam sektor perniagaan maupun transportasi sungai.
Di samping lingkungannya terdapat lahan Kebon Duku, warga sekitar dapat memanfaatkan airnya untuk keperluan kebutuhan sehari-hari serta dikenal banyak ikannya, juga para pedagang di atas perahu keliling menjajakan barang dagangannya keluar masuk kampung menelusuri sungai ini.
“Begitupun ketika para jema’ah yang hendak melaksanakan ibadah shalat di Masjid Agung, mereka menaiki perahu melintasi sungai hingga sampai ke Tangga Raja di Sungai Tengkuruk sebagai pelabuhan perahu yang akan masuk ke Masjid. Masjid Agung kala itu dikelilingi oleh 4 anak Sungai Musi, yaitu: Sungai Sekanak, Sungai Tengkuruk (ditimbun tahun 1928 menjadi jalan), Sungai Kapuran (ditimbun tahun 1940-an), dan Sungai Kebon Duku. Jalur Sungai Kebon Duku ini bermuara dan bertemu menuju kedua sungai yang lebih besar yaitu Sungai Sekanak di arah sebelah Barat (ulu) dan Sungai Tengkuruk di arah sebelah Timur (ilir),” katanya.

BP/IST
Sungai Kebon Duku dalam peta Belanda zaman dulu

Selain itu , sungai Kebon Duku ini juga bercabang dengan Sungai Kemenduran yang sama-sama menuju ke Sungai Sekanak. Dalam peta tahun 1917 (maps.library.leiden), sungai-sungai di Palembang masih nampak terlihat dengan jelas.
“Sekarang Sungai Kebon Duku di kampungku ini mengalami nasib yang buruk. Airnya tidak dapat dilayari lagi, kotor dan dangkal. Yang lebih menyedihkan, lebar sungai ini kini hanya tinggal beberapa jengkal dan menyempit. Upaya mengembalikan fungsi dan peran sungai ini sebagaimana tempo doeloe, adalah suatu hal yang mendesak dilakukan, serta dapat menjadi solusi ampuh dalam mengatasi masalah banjir,” katanya.
Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Isnaini Madani berharap masyarakat dapat melakukan gotong royong bersama untuk menjaga kondisi anak-anak sungai di Palembang yang kecil kecil agar bisa bermanfaat salah satunya Sungai Kebun Duku.
Selain itu pihaknya, selalu menghimbau masyarakat yang tinggal di pinggir sungai agar menjaga sungai dan anak sungainya masing-masing dengan tidak mendirikan bangunan tengah sungai, tidak membuang sampah di sungai dan menjadikan sungai sebagai ruang tamu rumah.

BP/IST
Kms H Andi Syarifuddin

“Kita kalau melakukan revitalisasi seluruh sungai di Palembang terbatas , kita baru melakukan revitalisasi fisik sungai sekanak ini dilakukan bertahap akan revitalisasinya dilanjutkan dari Jeramba Karang hingga arah SD dan sampai masa jabatan pak Harnojoyo nanti selesai hingga ke Hotel Arista,” katanya.#osk