Teh Sumsel Memiliki Rasa Yang Khas Dan Di Ekspor

62

BP/DUDY OSKANDAR
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ir Fahrurozy

Palembang, BP
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ir Fahrurozy mengatakan, tanaman teh di Sumsel banyak di Pagaralam, teh Sumsel sendiri memiliki kualitas bagus dan rasa yang khas.
“Itu akibat dari teh kita menghadap ke timur , jadi penyinaran pagi hingga siang penuh , baru setelah itu tertutup karena ke barat, ditempat lain mungkin menghadap kemana-mana dan mungkin kualitas penyinaran tidak bagus,” katanya, Jumat (27/7).
Soal pengemasan teh Sumsel menurutnya, bagaimana strategi pengolahan di PTPN di Pagaralam.
“Kualitas teh kita ini ada macam-macam, ada kualitas ekspor, karena kalau harga mahal, masyarakat kita tahunya teh sari wangi, jauh selisihnya dan teh Pagaralam ini kita juga ekspor,” katanya.
Sebelumnya, banyak yang tidak tahu kalau Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) punya oleh-oleh khas berupa produk teh yang diakui dunia.
Teh Hitam namanya. Meski tidak begitu populer di Indonesia, teh jenis ini sangat terkenal di Asia, Timur Tengah bahankan Eropa.
Setiap tahun, Pagaralam harus menyiapkan ribuan ton teh hitam untuk memenuhi permintaan luar negeri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, teh hitam Gunung Dempo ini terbuat dari 100 persen bahan alami tanpa bahan pengawet.
Daun teh dipetik langsung secara manual dari kebun teh di kaki Gunung Dempo, Kota Pagaralam.
Produk teh hitam asli Pagaralam diklaim mampu mendongkrak posisi Indonesia ke peringkat lima sebagai negara penghasil teh terbaik di dunia setelah Kenya, Srilangka, India, dan Tiongkok.
Menurut sejumlah pemilik situs online yang memasarkan produk ini, teh hitam Pagaralam terkenal unggul kualitasnya.
Ini disebabkan letak geografis perkebunan teh yang dibangun perusahaan Belanda pada 1929 ini, berada pada ketinggian 1.000-1.900 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata antara 2.500-3.000 mm.
Kemudian didukung suhu berkisar 15-26 derajat celsius dan kelembaban udara antara 60-80 persen.
“Semakin tinggi teh itu ditanam, maka semakin tinggi pula kandungan catechins antioxidants-nya. Hanya perkebunan teh Gunung Dempo yang memiliki ketinggian tersebut”.
Di beberapa situs komunitas pencinta teh dunia juga banyak memuat tentang khasiat dari teh hitam asal Pagaralam ini.
Antara lain, mencegah atau mengurangi penyakit jantung, mengurangi risiko darah tinggi, mencegah asam urat, mengurangi kolesterol atau gula darah, memperbaiki pencernaan, melangsingkan tubuh, memperlambat proses penuaan dan menghaluskan kulit.
Dengan berbagai khasiat dan keistimewaannya, tidak heran kalau teh asli Pagaralam diminati negara-negara besar di Timur Tengah dan Eropa sejak lama.
Bahkan belum lama ini, Jepang meminta PTPN VII yang mengelola perkebunan teh ini mengirim 1.000 ton per tahun ke negeri “Matahari Terbit” itu.
Manajer PTPN VII Perkebunan Teh Gunung Dempo, Daniel Solihin didampingi Humas PTPN VII Sugianto mengatakan pihak Jepang memang sudah lama menginginkan teh hitam hasil produksi PTPN VII di Pagaralam.
Namun karena pengelolaan masih menggunakan mesin ortodok peninggalan Belanda, permintaan itu belum bisa dipenuhi.
“Sekarang kita sudah siap. Kita sudah punya mesin baru, Curling Tiring Cuting (CTC) yang bisa memproduksi teh lebih cepat,” kata Daniel.
Menurut dia, PTPN VII satu-satunya perusahaan yang memiliki mesin CTC di Indonesia.
Dengan mesin ini, proses pembuatan teh lebih terjamin kualitas dan kebersihannya.
Selain itu, lebih hemat tenaga karena cuma butuh enam pekerja saja.
Menggunakan mesin CTC, dalam satu kilogram daun teh bisa menghasilkan 400 gelas.
Sementara mesin ortodok hanya mampu 100 gelas.
Untuk Jepang saja, PTPN VII harus menyiapkan setidaknya tiga ton per hari. Belum melayani permintaan dari negara-negara lain.
Ia menjelaskan, dari lima jenis teh Gunung Dempo yang dihasilkan, Jepang minta dua jenis dengan kualitas terbaik.
“Sebenarnya harga teh tidak bisa bersaing karena teh luar juga masuk ke Indonesia seperti Srilangka dan India yang merupakan saingan terbesar. Tapi dengan kerjasama ini, mudah-mudahan harga teh kita lebih baik,” ujar Daniel.
Harga jual teh hasil produksi PTPN VII bervariasi.
Teh yang diolah menggunakan mesin CTC dibandrol US 3 dolar dan Jepang berani membeli 6 dolar per kilogram.
Sementara teh yang diproduksi dengan mesin ortodok, hanya dihargai 1 dolar.
“Untuk penjualan teh Gunung Dempo ini melalui sistem lelang di KPP Jakarta. Sebelum dikirim ada kualiti kontrol dan pengecekan aroma dan cita rasa teh itu sendiri agar bisa bersaing,” katanya.#osk