Ultimate magazine theme for WordPress.

Rumah Limas Sumsel Menarik Karena Arsitektur Juga Bermakna Filosofis

BP/IST
Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Conference Room Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC). FGD tentang Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Rumah Limas dan Rumah Besemah, Selasa (3/7).

Palembang, BP

Rumah limas yang merupakan rumah adat asal Sumatera Selatan (Sumsel) tidak semata bangunan fisik tempat tinggal yang menarik karena arsitekturnya, namun bermakna filosofis dan berhubungan erat dengan kebudayaan setempat.

Antropolog Budaya FISIP Unsri, Dr. Dadang Hikmah Purnama, M.Hum melihat rumah,  limas sarat dengan makna stratifikasi kebangsawanan masyarakat Palembang. Status sosial masyarakatnya tercermin dari lantai rumah yang bertingkat-tingkat.

“Sementara, pengorganisasian rumah Limas memiliki pembagian ruang menjadi: depan-belakang, ruang publik dan privat, jenis kelamin, marital, serta penting tidaknya,” katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Conference Room Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC). FGD tentang Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Rumah Limas dan Rumah Besemah, Selasa (3/7).

Pembedaan ruangan tersebut menurutnya bermakna keseimbangan dan eserasian, terlebih dengan adanya ruang tengah yang sekaligus berfungsi menjembatani. Meski kini, fungsi rumah Limas lebih pada prestise dan ekspresi kota yang ditujukan menjadi objek wisata, dibandingkan makna refleksi identitas dan strata keluarga.

Sementara, makna yang terkandung dalam Rumah Uluan orang Besemah mempunyai nilai, prinsip serta kepercayaan tentang arah-letak, bentuk, pengorganisasian ruang yang menjadi pedoman hidupnya. Makna ini terungkap dalam “pola jaringan antar arah-letak, bentuk dasar, pengorganisasian ruang dengan kategori-kategori dan relasi sosial yang mengikutinya seperti jenis kelamin, status marital, tingkat kesakralan, status sosial, atau status hubungan kekerabatan (kinship)”.

Baca Juga:  Ny Raudha Purwadi Dikukuhkan Sebagai Ibu Raksakarini Sri Sena

“Perbedaan Rumah Limas dan Rumah Uluan tampak dalam ujung atap bagian luar dan ruang rumah. Rumah Uluan ujung atap bagian luar berkemiringan tertentu dan melengkung seperti pelana kuda, sementara Rumah Limas mirip atas rumah daerah hilir. Jika Rumah Limas terdapat pembagian ruang berupa kamar-kamar, maka pada rumah Uluan hanya terdiri dari satu ruang utama yang dibagi dalam dua bagian yang dipisahkan oleh perbedaan ketinggian lantai dan beruge sebagai ruang tambahan. Persamaan keduanya mempunyai lantai bertingkat dengan bentuk rumah panggung,” katanya.

BP/IST
Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Conference Room Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC). FGD tentang Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Rumah Limas dan Rumah Besemah, Selasa (3/7).

Makna yang hendak disampaikan dari kearifan lokal rumah adat ini menurutnya adalah makna simbolis rumah yang mulai hilang menyebabkan terjadinya masalah sosial budaya dan merusak hubungan sakral antara penghuni rumah dengan lingkungannya.

Sedangkan menurut Ketua DPC Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Palembang Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM pihaknya, melakukan kajian kearifan lokal Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai sumbangsih pemikiran kepada masyarakat / bangsa Indonesia dalam merawat kebangsaan.

Tim kajian melakukan studi pendahuluan dengan melakukan wawancara dan studi literatur yang dilanjutkan dengan proses Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Conference Room Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC). FGD tentang Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Situs Bumiayu telah dilangsungkan pada hari Sabtu, 30 Juni 2018 dengan menghadirkan arkeolog Universitas Sriwijaya, Dr. LR. Retno Susanti, M.Hum. Sementara, pada hari Selasa, 3 Juli 2018 membahas tentang Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Rumah Limas dan Rumah Besemah dengan menghadirkan Antropolog Budaya FISIP Unsri, Dr. Dadang Hikmah Purnama, M.Hum.

Baca Juga:  Lahan Diserobot, , Warga Pulokerto Mengadu ke Polda Sumsel

“Kearifan lokal mengandung seperangkat nilai tentang pedoman dan cara pandang masyarakat sesuai karakteristik lingkungan fisik, sosial, dan budaya setempat. Wujudnya berupa artefak, semboyan, pepatah, dsb,” katanya.

Kearifan lokal menurutnya tidak bisa diterapkan langsung begitu saja untuk saat ini, melainkan harus ada acuannya.

“Namun yang bisa diterapkan adalah nilai-nilai spirit artefak tersebut yang mempunyai nilai filosofis. Maka, penting mendiskusikan dan menghidupinya karena simbol karakter dan jati diri bangsa. Apalagi, kini kearifan lokal kian pudar dan seiring perubahan zaman muncul nilai baru yang menggerus karakter bangsa seperti senang menghibur dengan fitnah, hasutan, gampang mencaci maki, bersikap kasar, dan saling menyalahkan,” katanya.

Baca Juga:  Asisten Teritorial Kasdam II/Swj Kolonel Inf Rionardo Tutup Lomba Paduan Suara, Tari Kreasi Daerah Sumsel dan Baca Puisi

Nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi sumber, benteng, dan rujukan berperilaku dalam aspek moral, sosial, spiritual, baik bagi pribadi dan sosial dalam kehidupan berbangsa yang kini penuh tantangan.

“Nilai-nilai filosofis kearifan lokal ini menjadi karakter dan jati diri masyarakat Sumsel yang mampu berkontribusi merawat kebhinekaan di Indonesia. Khususnya dalam mengantisipasi fenomena intoleransi dan radikalisme dengan cara merawat Pancasila, Kebhinekaan Tunggal Ika, UUD 1945, serta NKRI,” katanya.

Adapun unsur-unsur kebangsaan yang dibahas dalam FGD ini menurutnya, meliputi unsur religiusitas, demokrasi dan pluralisme, sosial budaya, ekonomi keadilan dan kesejahteraan, serta pertahanan keamanan. Dengan menyadari dan membatinkan kembali nilai kearifan lokal, niscaya keutuhan NKRI dengan Pancasila terjaga dan mengakar kuat di kehidupan masyarakat Indonesia.

Sehingga mampu menghadapai tantangan dan ancaman dari dalam maupun dari luar.

“Hasil kajian ini akan dikompilasi menjadi buku yang berisi nilai-nilai dan falsafah hidup / kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperkuat Pancasila sebagai ideologi Negara, sumber hukum, dan falsafah hidup bangsa Indonesia pada Hari Ulang Tahun Proklamasi Negara Republik Indonesia ke-73 Tahun, tanggal 17 Agustus 2018,” katanya. #osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...