Home / Headline / Kesultan Banten Serang Palembang 1596

Kesultan Banten Serang Palembang 1596

Dudy Oskandar

SAAT Kerajaan Palembang berada dalam pemerintahan Pangeran Madi Angsoko (1588-1623), Palembang mendapat serangan dari Kesultanan Banten pada sekitar tahun 1596. Ketika itu Palembang dikepung dari dua penjuru, dari laut melalui pasukan koalisi pimpinan Kesultanan Banten.
Berdasarkan babad Banten, penyerangan Banten terhadap Palembang dipimpin oleh Sultan Maulana Muhammad Nasrudin . Serangan ini sendiri melibatkan kekuatan dari beberapa kerajaan, seperti Banten, Lampung, Seputih, Semangka, Pakuan, Galuh, Cirebon dan Demak.
Latar belakang serangan tersebut lantaran Banten ingin meluaskan wilayahnya hingga ke Palembang sebagai penghasil lada.Di pasar Eropa, harga rempah-rempah ini bisa sangat tinggi dan selalu laku.
Dalam pembendaharaan kata bahasa Belanda, misalnya, ada istilah peperduur yang secara harfiah berarti `semahal lada.’ Ungkapan itu muncul karena masyarakat Benua Biru itu memandang lada sama bernilainya dengan emas. (Republika. co.id, Minggu, 17 Syawwal 1439 / 01 Juli 2018) .
Pada waktu itu, Palembang sudah mandiri lantaran mengandalkan muara Sungai Musi sebagai bandar perdagangan lada.Seperti dituturkan Prof Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam.
Sebelumnya, sepeninggalnya Sultan Maulana Yusuf, Kesultanan Banten dilanda konflik perebutan tahta kesultanan. Dua orang yang memperebutkan tahta Kesultanan Banten adalah Maulana Muhammad Nasrudin dan Pangeran Jepara.
Maulana Muhammad Nasrudin merupakan putera dari Maulana Yusuf dan baru berusia sembilan tahun ketika Maulana Yusuf meninggal dunia. Oleh karena Maulana Muhammad baru berusia sembilan tahun, Pangeran Jepara merasa dirinya berhak atas tahta Banten karena ia adik Maulana Yusuf.
Untuk mewujudkan keinginannya itu, Pangeran Jepara berusaha menyerang Banten dengan mengerahkan pasukannya dari arah laut. Akan tetapi, serangan tersebut menemui kegagalan dan Pangeran Jepara menghentikan upayanya untuk menduduki tahta Banten.
Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan serangan ini adalah dukungan penuh kaum ulama kepada Maulana Muhammad Nasrudin untuk menduduki tahta Banten meskipun usianya belum cukup dewasa.
Untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya, segala urusan pemerintahan ditangani oleh Mangkubumi dan sebagai penguasa Banten, Maulana Muhammad berada di bawah bimbingan seorang kadi (hakim agung).
Kegagalan Pangeran Jepara untuk menduduki tahta Banten berdampak secara politik karena Banten mulai dapat menegakkan kedudukannya dengan sedikit demi sedikit membebaskan dari pengaruh kerajaan-kerajaan Jawa Tengah.
Pergolakan serta pergeseran kekuasaan di Jawa Tengah yakni Demak dapat ditundukkan oleh Pajang (1581) dan kemudian Pajang oleh Mataram merupakan faktor pendorong kedua berdaulatnya Kesultanan Banten.
Demikianlah, Maulana Muhammad Nasrudin menduduki tahta Banten menggantikan Maulana Yusuf yang kemudian bergelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan atau Pangeran Ratu ing Banten (1580-1596).
Ketika Maulana Muhammad Nasrudin , memimpin Banten, Kesultanan Banten menjadi kuat dan ramai. Sultan Maulana Muhammad Nasrudin dikenal sebagai orang yang saleh, untuk kepentingan penyebaran Agama Islam beliau banyak mengarang kitab agama yang kemudian dibagikan kepada yang memerlukannya. untuk sarana ibadah beliau membangun banyak mesjid hingga ke pelosok desa , Diapun selalu menjadi Imam dan khatib setiap sholat Jumat dan hari raya, Masjid Agung pun diperindah.

BP/IST
Masjid Agung Banten, tempo dulu

Maulana Muhammad Nasrudin berkehendak untuk mengembangkan perniagaan Kesultanan Banten dengan cara menguasai rute pelayaran dari dan ke Selat Malaka.
Untuk mewujudkan kehendaknya itu, ia kemudian melakukan upaya untuk mengusai Palembang yang memang terletak tidak terlalu jauh dari rute pelayaran tersebut.
Meskipun demikian, kehendak mengusai rute pelayaran itu tidaklah murni keinginan Maulana Muhammad Nasrudin , karena ia pun mendapat pengaruh kuat dari Pangeran Mas yang berambisi menduduki tahta di Palembang.
Dalam catatan sejarah, hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di Palembang (Hamka, 1982:78-84). Diceritakan dimana Pangeran Mas adalah putra dari Aria Pangiri. Dan Aria Pangiri adalah putra dari Sunan Prawoto atau Pangeran Mu’min. Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya menjadi raja di Demak, dan terakhir karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa Mataram, Sutawijaya hendak membunuhnya, akan tetapi atas bujukan istrinya hal itu tidak dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya.
Akhirnya dia menetap di Banten sampai meninggalnya. Cita-cita Aria Pangiri untuk menjadi raja walaupun bukan di Mataram ataupun di Banten diteruskan oleh anaknya Pangeran Mas.
Maulana Muhammad Nasrudin yang masih muda dan penuh semangat untuk memakmurkan Banten dan mengembangkan Islam ke seluruh Nusantara dihasutnya.
Dikatakan bahwa Palembang dulunya adalah daerah kekuasaan ayahnya sewaktu menjadi Sultan Demak, kemudian membangkang dan melepaskan diri.
Disamping itu Kerajaan Palembang diisukan Kerajaan Kafir. Jiwa muda Sultan tampak bersemangat untuk mengislamkan penduduk Palembang dengan pasukan dan para jawara yang dimiliki Sultan Maulana Muhammad Nasrudin semakin yakin mampu menaklukannya.
Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit hancur dan digantikan Demak. Setelah Sultan Trenggono wafat, maka yang berhak menggantikannya adalah Sunan Prawoto anak sulungnya. Tapi Sunan Prawoto pun dibunuh oleh Aria Penansang, yang akhirnya Aria Penansang dibunuh pula oleh Sutawijaya atas perintah Adiwijoyo dari Pajang.
Para Pembesar Demak memilih Aria Pangiri menjadi Sultan Demak. Tapi hal ini tidak berlangsung lama, karena Adiwijoyo merebut pemerintahan dan ibu kota dipindahkan ke Pajang. Kota Demak hanya dijadikan kota kabupaten saja. Selanjutnya Pajang pun hancur dan digantikan Mataram dengan Sutawijaya sebagai rajanya}. Demikianlah hasutan Pangeran Mas kepada Sultan Maulana Muhammad Nasrudin .
Dipanggilah seluruh panglima kerajaan baik dari Banten, Lampung, Pakuan, Galuh, Cirebon hingga Demak semua merapat menuju istana Banten.
Saran dari Mangkubumi dan pembesar istana lainnya pun tidak diindahkannya . Para penasehat kerajaan Kesultanan Banten ini menyarankan agar Sultan tidak perlu menyerang Palembang karena kemakmuran rakyat Banten harus menjadi kepentingan utama.
Namun Sultan tak mengindahkan semua nasehat tersebut dan bersikeras bahwa Palembang harus di Islamkan.
Hasutan Pangeran Mas terhadap Sultan berhasil membuat darah muda sultan mendidih. tiada ampun kerajaan Palembang harus di hancurkan.
Dengan 200 Kapal perang berangkatlah pasukan Banten menuju Palembang dibantu oleh kerajaan Lampung yang merupakan sekutu setia kerajaan Banten terlihat dari prasasti lampung yang tertulis ” Lamun Banten Di Hareup Lampung di Buri” ” Lamun Lampung di Buri Banten di Hareup ” Daerah – daerah kekuasaan Banten seperti lampung, seputih dan semangka diperintahkan untuk mengerahkan prajuritnya menyerang kerajaan Palembang melalui darat.
Pertempuran terjadi di sungai musi hingga berhari – hari puluhan hingga ratusan pasukan Kerajaan Palembang berjatuhan, kehebatan pasukan Banten tampak sulit dikalahkan, prajurit dan para Jawara Banten merengsek masuk ke pintu gerbang kerajaan Palembang, tampak Sultan Maulana Muhammad Nasrudin menghunus kujang ditangannya tak ada ketakutan di wajahnya.
Di dalam hatinya hanya bergemuruh Islam harus menyebar ke seluruh pelosok nusantara termasuk Palembang.
Selain itu Kalaulah Palembang dapat dijadikan daerah taklukan Banten, maka hasil ladanya dapat digunakan untuk kemakmuran Kesultanan Banten. {Kerajaan Palembang didirikan oleh seorang punggawa Majapahit yang bernama Gedeng Sura ).
Maulana Muhammad Nasrudin yang didampingi oleh Mangkubumi dan Pangeran Mas mengerahkan sekitar 200 kapal perang. Selain itu, Maulana Muhammad Nasrudin pun memerintahkan Lampung, Seputih, dan Semangka untuk mengerahkan tentaranya melakukan serangan dari darat. Sedangkan pasukan Palembang dipimpin Ki Geding Suto.
Kerajaan Lampung yang merupakan sekutu setia kerajaan Banten terlihat dari prasasti lampung yang tertulis ” Lamun Banten Di Hareup Lampung di Buri” ” Lamun Lampung di Buri Banten di Hareup ” Daerah – daerah kekuasaan Banten seperti lampung, seputih dan semangka diperintahkan untuk mengerahkan prajuritnya menyerang kerajaan Palembang melalui darat.
Pertempuran terjadi di Sungai Musi hingga berlangsung berhari – hari, ratusan prajurit dari kedua pihak berguguran. Menghadapi serangan dari koalisi berbagai kerajaan, membuat Kerajaan Palembang kewalahan.
Pertempuran terjadi di sungai musi hingga berhari – hari puluhan hingga ratusan pasukan Kerajaan Palembang berjatuhan, kehebatan pasukan Banten tampak sulit dikalahkan, prajurit dan para Jawara Banten merengsek masuk ke Pintu gerbang kerajaan palembang, tampak Sultan Maulana Muhammad Nasrudin menghunus kujang ditangannya tak ada ketakutan di wajahnya. di dalam hatinya hanya bergemuruh Islam harus menyebar ke seluruh pelosok nusantara termasuk Palembang.
Dalam situasi perang yang semakin sengit dan kota Palembang hampir bisa dikuasai pasukan koalisi pimpinan Kesultanan Banten , tiba – tiba sebuah peluru yang ditembakan dari atas gerbang istana Kerajaan Palembang dan menembus dada Sultan Maulana Muhammad Nasrudin yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri.
Panglima Pasukan Banten yang berada di samping sultan, berusaha untuk melindungi, namun Sang Panglima ikut terjatuh, ketika sebuah anak panah tepat menuju ulu hatinya. (Djayadiningrat, 1983:41-42 dan Hamka, 1982:74-84).
Serangan pasukan koalisi menjadi kacau, Sang Sultan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Pasukan diperintahkan mundur dan kembali ke Banten tanpa membawa hasil, serangan itu gagal dan menyisakan kesedihan yang mendalam bagi rakyat banten (Babad Banten 8, Babad Banten 9 dan pensa-sb.info).
Putera Sultan yang masih berumur 5 bulan dari pernikahan Sultan Maulana Muhammad Nasrudin dengan Ratu Wanagiri, yang bernama Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir, dinobatkan menjadi Sultan Banten. Dikarenakan Sultan Maulana Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir masih belia, roda pemerintahan diwalikan kepada Mangkubumi yang merupakan ayahanda Ratu Wanagiri (mertua dari Sultan Maulana Muhammad Nasrudin).
Peristiwa gugurnya Maulana Muhammad ini terjadi menurut sangsakala “Prabu lepas tataning prang” atau tahun 1596 M (Djayadiningrat, 1983:168).
Adapun Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari Palembang, dia tidak berani menetap lama di Banten. Rakyat Banten menganggap bahwa dialah penyebab kematian sultan.
Akhirnya dia pun pergi ke Pangeran Ancol di Jayakarta untuk bisa menetap disana. Tetapi di Jayakarta pun dia tidak disenangi, akhirnya di suatu malam didapati Pangeran Mas dibunuh oleh anak kandungnya sendiri (Hamka, 1982:84).
Maulana Muhammad meninggal dalam usia yang sangat muda kira-kira 25 tahun. Beliau meninggalkan seorang anak yang baru berusia 5 bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putri dari Mangkubumi. Anak inilah yang kemudian menggantikannya sebagai kepala pemerintahan di Banten.
Sepeninggalnya, Maulana Muhammad, setelah dikebumikan di serambi Masjid Agung Banten, Maulana Muhammad kemudian dikenal dengan sebutan Prabu Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. (Djayadiningrat, 1983:169).
Banten meredup maka muncul Kesultanan Mataram. Sejak dipimpin Sultan Agung, kerajaan ini dengan cepat melakukan ekspansi. Pada 1628, misalnya, Mataram bahkan berupaya merebut Batavia dari Kompeni, tetapi sampai akhir masa pemerintahannya Sultan Agung tidak berhasil mewujudkan ambisinya ini.
Menurut sejarawan kota Palembang, Rd Moh Ikhsan penyerbuan pasukan koalisi pimpinan Kesultanan Palembang ke Palembang terjadi Istana Kuto Gawang di kawasan 1 Ilir Palembang yang kini menjadi Pabrik PT Pusri.
“ Kita tidak banyak memiliki literatur soal penyerbuan pasukan Kesultanan Palembang, yang pasti penyerbuan ini pasukan Kesultanan Banten masuk melalui Sungai Komering,” katanya.#osk

x

Jangan Lewatkan

Heri Amalindo Tes Kesehatan di RSMH

Palembang, BP–Bakal Calon Bupati (Balonbup) Petahana Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Ir H Heri Amalindo, MM usai menjalani tes kesehatan ...