Home / Headline / Kapal Sriwijaya

Kapal Sriwijaya

BP/IST
Poto: Kms.H. Andi Syarifuddin

Oleh: Kms.H. Andi Syarifuddin (Pemerhati Sejarah kota Palembang)

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
…..
Demikian sepenggal syair lagu yang populer dinyanyikan anak-anak.
Baru-baru ini kita dihebohkan dengan penemuan serpihan bangkai kapal tempo doeloe di perairan Musi berupa kemudi raksasa yang diduga sebagai peninggalan zaman Kedatuan Sriwijaya atau diera Kesultanan Palembang.

Sejarah mencatat, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai lautan. Kedatuan Sriwijaya yang berpusat di Palembang ini berdiri selama 7 abad, dari ujung abad ke 7 M (683) hingga ujung abad ke 14 (1377). Tidak heran jika masyarakatnya terkenal sebagai pelaut tangguh dalam mengarungi samudera, pembuat kapal layar yang terkenal sangat kuat dan baik. Lukisan kapal Sriwijaya ini setidaknya terukir dalam relif Candi Borobudur yang merupakan candi peninggalan zaman Sriwijaya. Lantas bagaimana gambaran bentuk kapal Sriwijaya zaman bari tersebut?

Kapal Sriwijaya

Menurut budayawan Palembang, RHM. Akib (1967), data-data tehnis kapal Sriwijaya tempo doeloe adalah sebagai berikut:
I. Ukuran dan Panjang:
Ukuran kapal perang Sriwijaya kebanyakan yang digunakan adalah ukuran sedang. Panjang minimal 13 meter (32 hasta), dan panjang sedang 70 meter (176 hasta). Kapasitas muatan 200 awak kapal atau penumpang.

Il. Bentuk dan Dekorasi:
Bagian muka dan belakang dihiasi dengan kayu-kayu berukiran bentuk kipas, namun meruncing keatas diliputi dengan alat pengeras, guna melindungi kapal dari terjangan air yang keras dan juga sekaligus sebagai penumbuk kapal musuh (sebagai senjata dan pertahanan). Kanan kiri kapal terdapat mata, terkadang juga ditambah dengan sayap.

Ill. Tiang:
Tiang berjumlah tidak lebih dari dua. Masing-masing tiang terdiri atas dua kaki beserta semua kelengkapannya. Tiang-tiang tidak berdiri tegak lurus, namun lebih condong ke depan. Ukuran tiang yang depan lebih tinggi dari tiang belakang. Puncak tiang-tiang tersebut biasanya dihiasi dengan ukiran-ukiran berbentuk naga, gajah, garuda, dan sebagainya. Sedang dipaling puncaknya dipasang umbul-umbul atau koncer. Selain dari tiang induk ini terdapat dibagian sebelah depan dan belakang dari kapal yaitu tiang-tiang berkaki empat. Di atas kedua kaki empat itu ada tiang, dimana dikibarkan bendera kapal dibagian tiang belakang, dan untuk yang dimuka terlihat “lambang” kebesaran pemimpinnya. Tiang-tiang induk untuk layar tersebut di atas adalah agak sedikit pendek jika dibandingkan dengan tiang dari kapal-kapal layar biasa yang tegak lurus.

IV. Layar:
Setiap tiang hanya memiliki satu layar yang ukurannya memanjang dan siku-siku. Pada prinsifnya tiang pendek, miring ke depan, layar panjang ini berbeda sekali dengan kapal-kapal lainnya, dikarenakan kapal ini memakai sirip yang menjadi ciri khas bentuk kapal Kedatuan Sriwijaya, yaitu: tegap, cepat, maju, dan stabil. Dibagian muka terdapat lagi satu layar kecil yang bentuknya terkadang segitiga atau siku-siku, guna gerakan manuver cepat tertentu.

V. Kemudi:
Pada kapal Sriwijaya ini dipakai dua kemudi, yaitu di kanan kiri bagian belakang lapal, sebagai alat kemudi atau setir.

Vl. Dayung:
Kanan kiri kapal terdapat puluhan pintu untuk dayung. Dayung-dayung yang dipakai waktu itu bentuknya berlainan dengan dayung biasa. Ia berbentuk seperti sendok. Para pendayung secara berdiri melaksanakan tugasnya dengan tenaga menekan/menolak ke depan. Dayung ini biasanya baru digunakan disaat laut tidak ada angin, ataupun dapat digunakan di dalam pelayaran yang ingin lebih cepat daripada menggunakan layar.

Vll. Sirip:
Dibagian luar kanan dan kiri kapal terdapat sirip, semacam sayap setinggi permukaan air. Sirip-sirip ini berfungsi mengatur kemantapan kapal agar tetap stabil.

Vlll. Lantai (dek):
Lantai depan dan belakang letaknya lebih tinggi dari lantai tengah.

IX. Atap:
Bagian tengah kapal diberi atap, akan tetapi bagian belakang atapnya dapat dibuka-buka.

X. Lain-lain:
Bagian muka kanan dan kiri terdapat mata kapal, juga dibagian belakang yang memberikan semangat pada awak kapalnya jika berlayar terutama pada malam hari, sebab mata itu simbol dari kesiagaan dan kewaspadaan.#

x

Jangan Lewatkan

Ketua MPR Minta Pemerintah Korea Selatan Berikan Perhatian Khusus Kepada WNI Penderita Corona

Jakarta, BP–Ketua MPR RI Bambang Soesatyo melalui Wakil Ketua Parlemen Korea Selatan meminta pemerintah Korea Selatan memberikan perhatian khusus terhadap ...