Home / Headline / Arkeolog Dari Luar Sumsel Teliti Penemuan Kemudi Kayu Kuno Dari Sungai Musi

Arkeolog Dari Luar Sumsel Teliti Penemuan Kemudi Kayu Kuno Dari Sungai Musi

BP/DUDY OSKANDAR
Sejumlah arkeolog dari luar Sumsel sedang meneliti penemuan kemudi kayu kuno yang ditemukan di Sungai Musi, Sabtu (25/2).

Palembang, BP
Penemuan sebuah kemudi kapal dari kayu kuno yang panjangnya 7,5 meter dan panjang lingkar 96 cm yang ditemukan di kedalam sungai Musi 35 meter, yang diduga zaman era Kerajaan Sriwijaya –Kesultanan Palembang yang ditemukan di tegah Sungai Musi tepatnya di kawasan Keramasan, Palembang, oleh Senen yang juga di kenal sebagai pawang Sungai Musi dan pencari gelondong kayu, bersama dua anaknya Jaffar dan Fit yang difasilitasi komunitas Komunitas Pencinta Antik Sriwijaya (Kompaks), seminggu yang lalu menarik sejumlah arkeolog dari luar Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menelitinya.
Mereka akhirnya hadir ke lokasi penyimpanan kemudi kayu di salah satu rumah warga di kawasan Jakabaring, Sabtu (24/2) mereka diantaranya Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi (wilayah kerja: Provinsi Jambi, Sumsel, Bengkulu, Babel), Muhammad Ramli, Drs. Bambang Budi Utomo dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P3N), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), staf BPCB Jambi, BPCB dari Makasar, Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga , Penggiat Budaya dari Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wanda Lesmana dan Hermayudi, Ketua Komunitas Pencinta Antik Sriwijaya (Kompaks), mantan kepala Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumsel Nurhadi Rangkuti, Arkeolog dari Balar Sumsel, Retno Purwati.
Menurut mantan Kepala Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumsel Nurhadi Rangkuti mengatakan kalau para arkelog ini baru melakukan identifikasi awal.

BP/DUDY OSKANDAR
Sejumlah arkeolog dari luar Sumsel sedang meneliti penemuan kemudi kayu kuno yang ditemukan di Sungai Musi, Sabtu (25/2).

“Yang jelas kemudi ini dari zaman pasca Sriwijaya , dan kemudi ini untuk kapal laut dan sungai, tapi belum tahu apakah perahu kargo atau perahu perang , untuknya abadnya belum tahu saya,” katanya.
Sedangkan Drs. Bambang Budi Utomo dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P3N), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengaku, belum tahu kemudi tersebut dari jenis kapal apa dan zaman apa.
“Gambaran secara umum dan itu musti dibuktikan lewat test laboratorium , itu tehnologinya Asia Tenggara, tehnologi nyambung papan itu, tapi itu bukan melulu tehnologi Asia Tenggara tapi ada juga unsur budaya lain seperti Eropa, itu terlihat di sambungan ekor burung itu, jadi kemudi ini tidak dikatakan kapal Sriwijaya, kapal Kesultanan atau kapal Belanda,” katanya.
Untuk itu menurutnya, perlu dilakukan pengecekan secara laboratoris karbonnya dari empat komponen kemudi termasuk tali kemudinya.
“Yang saya temukan di Mariana itu kapal Sriwijaya abad ke 6-7 , seperti temuan dari Sungai Buah sekarang di TPKS , tapi kemudi yang ditemukan ini memang berbeda,” katanya.
Hermayudi, Ketua Komunitas Pencinta Antik Sriwijaya (Kompaks) mengatakan, kalau penemuan kemudi kapal ini para penyelam tradisional ini langsung menghubungi dirinya.
“Dikedalaman 40 meter, itu kebenaran yang paling senior yang dapatnya, yang pernah dilibatkan saat pesawat Silk Air jatuh di Sumsel beberapa tahun lalu yaitu pak Senen, akhirnya yang nemukan bapaknya yang mengangkatnya anaknya, waktu ditemukan tanggal 16, 17 Februari 2018, waktu itu aku dikabari kemudi sudah ditarik ke lokasi pemukiman mereka di Kramasan, “ katanya.
Atas penemuan tersebut Hermayudi mengaku langsung mengabari di Group What Ups sejumlah sejarawan dan tokoh masyarakat Palembang.

BP/DUDY OSKANDAR
Sejumlah arkeolog dari luar Sumsel sedang meneliti penemuan kemudi kayu kuno yang ditemukan di Sungai Musi, Sabtu (25/2).

“ Sebelum aku ke lokasi penemuan kemudi kapal mau sama-sama periksa dengan ibu Irene, akhirnya aku ambil kebijaksanaan daripada barang ini entah kemana, bisa tenggelam kembali, bisa dijual, aku selamatkan barang ini,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga mengatakan, setelah didatangi para arkeologi, kemudi kapal yang diduga cagar budaya maka dapat dilihat kalau tehnologi pembuatan kemudi kemudian tersebut berdasarkan pendapat Drs. Bambang Budi Utomo dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P3N), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) kemudi tersebut dari tehnologi abad 16 -18 dimana tehnologinya campuran Tehnologi Asia Tenggara dan Belanda hal ini bisa dibuktikan dari plat kayu kupu-kupu yang menempel di kemudi bagian bawah.

BP/DUDY OSKANDAR
Sejumlah arkeolog dari luar Sumsel sedang meneliti penemuan kemudi kayu kuno yang ditemukan di Sungai Musi, Sabtu (25/2).

“Ini tidak langsung tahu berapa usia kemudian dan perlu uji karbol dan lainnya , saran pertama sesuai ketentuan kemudian harus didaftarkan ke kementrian, kebetulan ada Penggiat Budaya dari Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wanda Lesmana, lalu setelah didaftar kemudi yang diduga cagar budaya akan diperlakuan sebagai cagar budaya.Secepat mungkin kami bersama tim ahli cagar budaya provinsi dan kota Palembang akan merapatkan tentang nilai penting dari kemudi ini kemudian ini apakah cagar budaya atau tidak,” katanya.
Selain itu pihaknya juga mempercepat kajian penetapan cagar budaya kemudi tersebut.#osk

x

Jangan Lewatkan

Selewengkan Dana Desa Untuk Bisnis Batu Giok, Mantan Kades OKUT Diganjar 4 Tahun Penjara

Palembang, BP Mantan Kepala Desa Saung Dadi Kabupaten OKU Timur, Slamet Riyadi yang melakukan penyalahgunaan dana desa untuk keperluan bisnis ...