Home / Headline / Menulis Sejarah Dengan Terjun Kelapangan

Menulis Sejarah Dengan Terjun Kelapangan


BP/DUDY OSKANDAR
Suasana kuliah dosen tamu Program magister (S2) Sejarah dan peradaban Islam, Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang , Rabu (27/12) di aula Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang.” Menggali Sumber Sejarah Masa Klasik, Masa Kolonial, dan Pasca Kolonial,” dengan pemateri Ketua Departemen Sejarah FIB Universitas Indonesia (UI) Dr Abdurrahman Mhum dan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumsel/Dosen sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Farida Wargadalem Msi

Palembang, BP

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumsel/Dosen sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Farida Wargadalem Msi mengajak, kalangan mahasiswa sejarah di UIn Raden Fatah Palembang untuk menulis sejarah dengan terjun kelapangan.
“Terjun kelapangan tidak ada yang sia-sia , kita sebagai orang sejarah cukup duduk dalam ruangan , kita ditempat tang sejuk dan nyaman sudah bisa menuis tapi kita seperti tidak membumi, sekalipun itu masa lalu yang 200 tahun lalu bisa kita bumikan dengan terjun kelapangan,” katanya saat menjadi pemateri dalam kuliah dosen tamu Program magister (S2) Sejarah dan peradaban Islam, Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang , Rabu (27/12) di aula Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang.” Menggali Sumber Sejarah Masa Klasik, Masa Kolonial, dan Pasca Kolonial,” .
Karena menurutnya, jika mahasiswa terjun kelapangan dapat memperkaya batin , menguji kesabaran dan respon.
“Waktu kita ke Maluku kemarin itu mau yang miskin, mau yang kaya, semua menerima dengan versi mereka dan semuanya memperkaya batin,“ katanya.
Dia mencontohkan, istilah kolam Sultan, di Sungsang ada namanya Tanggo Rajo dimana cerita itu di dapat dari pengembangan dari generasi ke generasi sebelumnya secara turun temurun.
“Kita tidak bisa membuat cerita itu kalau tidak dialami di masa itu, jadi dia melengkapi kelokalan sentris menjadi kenasionalan sentris,” katanya.
Sedangkan Ketua Departemen Sejarah FIB Universitas Indonesia (UI) Dr Abdurrahman Mhum mengatakan, sejarah kontemporer permasalahannya terletak pada narasumber.

“Terkait sumber lisan sebagai narasumber sejarah ketika dia sebagai pelaku sejarah, kalau bukan pelaku sejarah bukan primer tetapi apakah boleh ingatan bersama dijadikan sumber pegangan , boleh tetapi untuk tingkatan primer ada pada pelaku dan saksi sejarah,” katanya.
Selama sumber atau pelaku atau saksi sejarahnya, ada maka itu disebut sebagai sejarah kontemporer, ketika pelaku sejarah atau saksi sejarah tidak ada itu sudah bergeser.
“Saya waktu kuliah massa pergerakan nasional masih kontemporer karena pelaku-pelaku sejarahnya masih ada kemudian bergeser pada zaman Jepang, ketika saya mengajar sudah bergeser kezaman demokrasi parlementer,” katanya.#osk

x

Jangan Lewatkan

Buat Onar Antoni Berurusan Dengan Polisi

Palembang, BP Buat keonaran di rumahnya, Antoni, warga Lorong Talang Kemang, Kelurahan Sentosa, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II Palembang, harus ...