Home / Headline / Dibalik Memburuknya Hubungan Palembang-Mataram

Dibalik Memburuknya Hubungan Palembang-Mataram

BP/IST
Sketsa Keraton Kuto Gawang

Palembang, BP

Pasca Keraton Kuto Gawang yang merupakan kraton Palembang menjadi lautan api dan rata dengan tanah oleh serangan VOC yang merupakan perusahaan dagang Belanda, Penguasa Palembang, Pangeran Sido Ing Rejek saat itu mundur dan mangkat di dusun Indralaya Saka Tiga.
Maka terjadilah kekosongan tampuk pimpinan Palembang saat itu. Akhirnya setelah diperoleh kesepakatan, pilihan jatuh pada Kimas Hindi atau Pangeran Candiwalang adik dari Pangeran Sedo Ing Rejek.
Pada periode pemerintahan Kimas Hindi hubungan baik dengan Kesultanan Mataram di Pulau Jawa sesungguhnya tetap terpelihara.
Namun hubungan tersebut mulai memburuk ketika Kimas Hindi merasakan sikap Mataram yang mulai berubah.
Puncak kulminasi dari keretakan hubungan Palembang dan Mataram ini bermula pada saat utusan Palembang yang dikirim menghadap Mataram tidak diterima secara patut.
Sikap resmi Mataram ini menurut beberapa ahli sejarah mungkin ada hubungannya dengan peristiwa di masa Pangeran Sido Ing Rejek.
Kala insiden terbantainya pasukan Mataram oleh Belanda setelah mengantar pangeran ini. Saat kejadian itu penguasa Palembang dianggap tidak membantu, bahkan sebaliknya berpihak pada Batavia.
Tahun 1668, penguasa Palembang kembali mengirim utusan ke Jawa dengan membawa seekor gajah, beserta seperangkat kain mahal dan barang persembahan lain.
Utusan resmi ini pun tidak pula diterima raja Mataram. Memperhatikan sikap politik Mataram, Kimas Hindi menyimpulkan bahwa Mataram tidak perlu dihormati lagi. Di sisi lain Pangeran Cinde tidak melihat manfaat keuntungan timbal balik.
Justru hubungan dengan Belanda secara ekonomis lebih menguntungkan. Sejak masa itu Palembang tidak pernah lagi mengirim utusan berikut hadiah-hadiah ke Jawa.
Pengangkatan diri Kimas Hindi berlangsung pada tahun 1675. Sang Pangeran mengukuhkan dirinya sebagai Sultan pertama dari Kesultanan Palembang Darussalam dengan diiringi gelar Khalifatul Mukmin Sayidul Iman.
Segera dengan itu nama beliau pun diubah menjadi Abdurrahman, sebuah nama yang paling disukai Rasulullah SAW.
Melalui perubahan tersebut, Kimas Hindi tercatat dalam nukilan sejarah sebagai founding father Kesultanan Palembang Darussalam. Beliau pula lah yang secara kontras mengubah tradisi dalam penggunaan nama raja-raja.
Semula berlanggam Jawa menjadi nama yang pekat dengan identitas Islam. Seiring dengan gelar beliau sebagai sultan, negeri Palembang juga menjadi kesultanan.
Berikut dengan keistiqamahan gerak menjadikan Islam sebagai agama resmi negeri di batanghari sembilan. Kraton Palembang didirikan di Kuto Cerancangan, menggantikan Kuto Gawang yang terbakar pada perang tahun 1659. Di areal kraton ini didirikan juga dalem Beringin janggut berikut masjid yang saat ini tinggalan nama sejarahnya disebut Masjid Lamo.
Berawal dari fondasi kesultanan inilah, pemimpin negeri Palembang menata diri menuju puncak kemegahan. Suatu kesultanan yang sanggup bertahan dari gempuran nafsu penjajahan selama beberapa generasi, sekaligus meninggalkan kebanggaan heroik pada anak cucunya,
Kesultanan Palembang pada masa pemerintahan sultan Abdurrahman itu tak hanya memiliki pengaruh di dalam negeri. Sinar kharismatiknya telah melalui garis batas geografis Palembang. Negeri-negeri tetangga acap mengharapkan bantuan dalam menghadapi kekisruhan di wilayahnya.
Karena konsenterasi menata kesultanan yang baru didirikan ini, maka tidak semua permohonan tersebut dikabulkan.
Melihat kegigihan pangeran yang pernah tampil sebagai tokoh gagah berani melawan nafsu monopoli dan hegemoni VOC pada perang Palembang tahun 1659. Layaklah beliau dinyatakan sebagai pahlawan.#osk

x

Jangan Lewatkan

Penyebaran Covid Semakin Hari Semakin Meningkat, DPRD Sumsel Inisiatif Ajukan Raperda

Palembang, BP Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel berinisiatif mengajukan rancangan peraturan daerah (Raperda) yang bertitik tumpu pada peningkatan disiplin ...