Home / Headline / Aksara Kaganga, Yang Kian Tersisih

Aksara Kaganga, Yang Kian Tersisih

BP/IST
Nara sumber Seminar Aksara Ulu dengan tema ” Merekonstruksi aksara Ka Ga Nga Sumatera Selatan” di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang,Sabtu (16/12).

Salah satu tradisi tulis Sumatera Selatan (Sumsel) yang kurang mendapat perhatian, kurang diedukasikan dan dilestarikan serta semakin tersisih adalah tradisi tulis Aksara Kaganga.

Drs. Ahmad Rapanie, M.Si yang merupakan seorang budayawan Sumsel menjelaskan, dalam perkembangannya saat ini banyak di antara masyarakat Sumsel yang belum mengetahui dan mengenal Aksara Kaganga, padahal Aksara Kaganga merupakan warisan nenek moyang leluhur kita pada masa lalu.
Menurutnya, Aksara Kaganga disebut juga dengan Aksara Ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di Hulu sungai dipedalaman.
“Aksara Kaganga mulai berkembang sekitar abad ke-17 sampai abad ke-19 masehi,dan diperkirakan berkembang dari aksara Palawa,” katanya saat menjadi pemateri dalam Seminar Aksara Ulu dengan tema ” Merekonstruksi aksara Ka Ga Nga Sumatera Selatan” di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang,Sabtu (16/12).
“Bahwa ada terputusnya empat sampai lima generasi untuk Aksara Kaganga, sehingga apa yang telah ditinggalkan nenek moyang kita itu banyak yang tidak terbaca lagi, dan tidak menjadi tradisi lagi, kita mempunyai kekayaan naskah kuno,itu adalah hasil pemikiran ekpresi budaya, ekpresi ektetis nenek moyang leluhur kita”, katanya.
Mempelajari Kaganga itu menurutnya, bukan hanya untuk kita ada identitas saja, bukan untuk mencari tahu bahwa nenek moyang kita namun sebenarnya alat untuk kita mempelajari masa lalu itu,mempelajari produk. “Nenek moyang yang berbentuk tulisan, itu yang paling penting,” katanya.
Menurutnya, hampir seluruh museum menyimpan huruf asal dari Sumsel itu, tetapi kebanyakan masyarakat tidak bisa membacanya.
Selain itu naskah ini, sudah ada pada zaman kerajaan Sriwijaya yang dalam penyampaian pesannya biasanya dituliskan pada tanduk binatang, kulit dan bambu.
Dengan seminar ini adalah, untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda akan identitasnya. Selain itu untuk melestarikan Aksara Ulu serta memperkenalkan kepada generasi muda akan warisan budaya leluhur.
“Aksara ulu dengan aksara jawi tentunya berbeda, disini kita dapat mengetahui dan belajar dari segi penulisan aksara ulu tersebut. Ujar Jumiatik sebagai peserta seminar Surat Ulu,” katanya.
Sedangkan Wahyu Rizky Andhifani, Balai Arkeologi Palembang mengatakan, mengatakan adalah tulisan asli Sumsel dimana saat di era keemasannya posisi huruf ini tidak tergeser oleh huruf lain sebagai sarana komunikasi masyarakat setempat.
Era aksara ulu ini pudar setelah huruf arab masuk ke Sumsel, apalagi huruf arab digunakan untuk bahasa keagamaan di Sumsel sehingga semakin lama aksara ulu ini makin lama makin hilang .
Hal ini juga di perparah banyak melupakan dan menggunakan bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari, walaupun demikian huruf arab juga akhirnya ikut tersisih di Sumsel setelah masuknya huruf latin dan digunakan sebagai bahasa komunikasi masyarakat Sumsel. Dudy Oskandar

x

Jangan Lewatkan

RAPBD 2021 Sumsel Rp10,8 Triliun, Pengamat Ekonomi Ingatkan Hal Ini Ke Pemprov Sumsel

Palembang, BP DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  menggelar rapat paripurna dengan agenda penandatanganan  nota kesepakatan  bersama  antara Pemerintah Provinsi Sumsel  ...