Seminar Hubungan Palembang Dengan Daerah Lain Di Nusantara

12

Suasana seminar nasional III dalam rangka dies natalis Universitas Sriwijaya ke 57 “ Hubungan Palembang dengan dengan daerah-daerah lain di nusantara dalam perspektif sejarah “ dari Prodi Sejarah dan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kolej Universiti Islam Melaka (KUIM), Sabtu (28/10). BP/DUDY OSKANDAR

Palembang, BP — Ketua Masyarakat Sejarawan (MSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang juga Dosen FKIP Prodi Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) , Dr Farida R Wargadalem Msi mengatakan, kalau pihaknya menggelar seminar nasional III dalam rangka dies natalis Universitas Sriwijaya ke 57 “ Hubungan Palembang dengan dengan daerah-daerah lain di nusantara dalam perspektif sejarah “ dari Prodi Sejarah dan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kolej Universiti Islam Melaka (KUIM), Sabtu (28/10).

Dengan pemateri Rektor Kolej Universiti Islam Malaka (KUIM), Prof Datuk DR Mohd Taib bin Dora, Prof Dr Erwiza Eman MA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Ketua Masyarakat Sejarawan (MSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang juga Dosen FKIP Prodi Sejarah Unsri,

Seminar ini menurutnya, untuk membuka hubungan yang terjalin di masa lampau antara Sriwijaya, Kerajaan Palembang hingga Kesultanan Palembang Darussalam dengan daerah sekitar termasuk yang ada di Jambi, Bengkulu, Medan bahkan Melaka.

“Kita berharap, kita akan mendapatkan sebuah masukan yang sangat baik dalam menambah khazanah keilmuan khususnya sejarah. Apalagi selama ini, telah terjjadi keterkaitan dan hubungan yang sangat erat Palembang dengan beberapa daerah lainnya,” katanya di sela-sela acara.

Baca:  Empat Bakal Calon Siap Bertarung di Pemilihan Rektor Unsri

“Kalau saya lebih membahas soal Pulau Bacan yang ada di Maluku dan hubungannya dengan Palembang, ini kaitannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin II dan kerabatnya yang di buang tahun 1821 terus Ahmad Najamuddin tahun 1825 dan pembuangan 1881 di Bacan,” katanya.

Sementara itu, Rektor KUIM, Prof Datuk DR Mohd Taib bin Dora mengungkapkan, pihaknya sangat menyambut baik kerjasama yang terjalin dengan Unsri ini. Apalagi, dengan kerjasama yang terbangun ini, akan membuka gerbang baru dalam bidang keilmuan di masa yang akan datang. Setidaknya, kebudayaan yang serumpun akan makin erat dengan Unsri.

“Kita terbuka dengan univesritas manapun. Terlebih lagi, sudah memiliki sejarah yang sangat baik. Bahkan sebelum ini, kita juga sudah menjalin kerjasama Unsri. Jadi, kita akan bersama-sama menjadi yang terdepan dalam memajukan keilmuan antara KUIM dengan UNsri,” jelasnya.

Baca:  Guru Mapel Sejarah SMA Se-Kota Lubuk Linggau Dapat Materi Perjuangan Rakyat Mura Pada Revolusi Fisik 1947-1949

Untuk mengisi materi seminar dirinya, menitikberatkan pada sejarah Melaka yang sempat berada di bawah pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Bahkan, dari kegiatan ini banyak masukan ilmu yang didapat. Tidak hanya dari Unsri, juga dari peneliti dan guru besar dari universitas yang ikut serta. “ kita melihat ini sebuah hal baik dan positif,” katanya.

Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof Anis Sagaf mengaku, optimis hingga akhir tahun ini akan tembus mencapai 1000 riset yang dilakukan oleh para dosen maupun civitas akademika Unsri.

Bahkan menurutnya, selama ini kendala atau sulitnya pendidikan di Indonesia terutama Sumsel kurang berkembang, karena tidak mengupdate kemajuan yang ada. Beda dengan negara tetangga yang terus melakukan pendataan dan mengupdate keilmuan yang ada. “ Dulu memang Malaysia yang belajar dengan Indonesia. Tapi sekarang kita sudah ketinggalan, jadi jangan malu untuk belajar,” katanya.

Masih kata Prof Anis, dalam hal riset ilmiah saja, bila seluruh Indonesia digabung, masih kalah dengan salahsatu universitas yang ada di Malaysia. Selain itu, perlu juga dikembangkan kerjasama keilmuan dan joint conference.

Baca:  Anis Saggaf Pimpin Suara di Tiga Besar Calon Rektor

“Harus terus dilakukan dengan skala besar dan melibatkan orang banyak. Minimal bisa untuk di publish di level internasional,” bebernya didampingi DEkan FKIP, Prof Sopendi.

Karena itu, dirinya akan terus mendorong seluruh civitas akademika dan dosen untuk terus melakukan penelitian atau riset terhadap perkembangan yang ada. Baik itu bidang pertanian, sejarah ataupun lainnya. Setidaknya, bisa terus mengembangkan keilmuan secara kekinian. “ Banyak yang akan kita dapat ketika melakukan riset, seperti mengungkap hal baru yang selama ini tidak diketemukan,” tegasnya.

Sementara itu, terkait dengan seminar nasional yang dilakukan FKIP Prodi Pendidikan Sejarah dirinya sangat menyambut baik. Terlebih lagi, banyak keterkaitan antara Palembang, Sriwijaya dengan daerah ataupun negara tetangga.

“Sangat positif, setidaknya akan membuka cakrawala baru keilmuan. Khususnya yang berkaitan dengan sejarah,” katanya.#osk