Ultimate magazine theme for WordPress.

Merajut Mimpi Lewat Seutas Lensa Kaca

GENERASI PENERUS – Program bantuan kacamata gratis Bank Sumsel Babel menyasar pelajar sekolah dasar. Siswa penerima bantuan belajar dengan nyaman di SD Negeri 83 Talang Ratu 15 Ulu Jakabaring Palembang, Kamis (12/10/2017)

Generasi muda dunia pendidikan tidak hanya butuh tenaga pengajar yang andal, namun juga program bantuan yang tepat sasaran. Generasi penerus ini, hanya memiliki dinding pembatas yang sangat tipis dengan jurang teknologi informasi.

KEMAJUAN teknologi informasi dewasa ini ibarat dua sisi mata uang. Disatu sisi dapat memberi kebaikan, tapi juga bisa menjadi bumerang penghancur mimpi. Utamanya bagi mereka yang belum siap menerimanya.

Bicara pendidikan untuk masyarakat kurang mampu di Indonesia tidak pernah ada habisnya, dalih keterbatasan ekonomi membuat sang anak harus kehilangan semangat belajar bahkan harus putus sekolah kerena dalam tekanan materi orangtua.

Alih-alih menggapai impian seperti mereka yang kecilnya bisa bersekolah di luar negeri, sang anak ekonomi lemah ini pun, harus patah asa di awal karena kurangan dukungan dan motivasi. Bimbingan guru pun kini hanya beberapa jam saja, lingkungan dan teknologi berimbas besar pada budaya anak dalam meneruskan mimpinya.

Akibat salah ajar si ponsel pintar (smartpone) pun begitu cepat merasuki metal anak untuk tumbuh pintar dan beretika, kini calon generasi penerus cepat sekali membantah ketimbang menangkap bahan ajar yang seharusnya menjadi bekal meraih mimpi.

Demikian diungkapkan, Wakil Kepala SD Negeri 83 Suyanto yang menysukuri kepedulian Bank Sumsel Babel memberikan kaca mata gratis ini sebagai wujud kepedulian dengan dunia pendidikan. Bantuan ini pun sangat membantu terutama mereka yang dalam kesusahan ekonomi.

“Orangtua pelajar ini mungkin yang mampu hanya sekitar 20 persen, sisanya dari latar belakang yang tidak mampu secara finansial. Sebagian besar dari yang tidak mampu ini adalah buruh, baik buruh pasar, buruh cuci, hingga buruh bangunan,” ungkap Suyanto.

Faktor eknomi ini pun terkadang membuat siswa yang bermental lamah, tidak bisa melawan kerasnya kemajuan teknologi, salah langkah sedikit saja maka akan fatal bagi kelangsungan pendidikannya.

Suyanto berharap pihak yang mampu dan peduli dengan dunia pendidikan ini, bisa memberikan solusi baik secara batuan fasilitas sekolah hingga bimbingan maupun metode ajar siswa yang kini sangat dekat dengan internet.

“Teknologi ini seperti dua mata uang, boleh jadi sangat bermanfaat boleh jadi juga malah merusak mental siswa, maka dari itu kami berharap, selain bantuan fasilitas belajar, ada juga bantuan yang bisa mendorong siswa bisa belajar teknologi ini secara baik dan benar, atau tidak salah guna,” tutur Suyanto.

Suyanto sedikit bercerita pengalamannya mengajar sejak tahun 1984. Tranformasi mental siswa kini sudah berkembang pesat dan cenderung ke arah yang salah. Daya ingat dan cepat lupa pun menjadi kendala siswa tertentu yang diperkirakan salah bergaul dalam lingkungannya.

Maka dari itu menurutnya, diharapkan ada solusi yang terbaik yang bisa mengatasi kondisi mental siswa saat ini terutama pengaruh dari media sosial, yang kini sangat dekat dengan anak-anak termasuk siswa SD.

GENERASI PENERUS – Program bantuan kacamata gratis Bank Sumsel Babel menyasar pelajar sekolah dasar. Siswa penerima bantuan belajar dengan nyaman di SD Negeri 83 Talang Ratu 15 Ulu Jakabaring Palembang, Kamis (12/10/2017)

Diah Ayu Asturi (12) adalah pelajar kelas VI C Sekolah Dasar (SD) Negeri 83 Jakabaring, Palembang. Dirinya terpilih sebagai salah satu siswa penerima bantuan kacama mata gratis dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Sumsel Babel kerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sumatera Selatan.

Ayu merupakan anak yang berlatar belakang kurang mampu, orangtuanya merupakan buruh dan kuli panggul di Pasar Induk Jakabaring, matanya kesulitan melihat tulisan yag ada di papan tulis, untuk membeli kacamata minus pun sangat berat.

Menurut catatan sekolahnya, Ayu merupakan salah satu siswa yang cukup berprestasi, namun belakangan sering mengeluh pada indera pengelihatanya, Ayu pun direkomendasikan pihak sekolah untuk mendapatkan bantuan kaca mata gratis guna mendukung semangat belajarnya.

“Kalau lihat papan tulis, tulisannya berbayang, kalau membaca buku masih bisa lihat walau memang sering pusing kalau lama-lama, kaca mata bantuan ini cukup membantu saya di kelas,” ucap Ayu sambil menulis catatan Matematika saat jam istirahat, Kamis (12/10).

Ayu mengakui, dirinya menemukan solusi kenyamanan belajar di sekolah saat himpitan ekonomi orangtuanya tidak stabil. Ingin menjadi guru saat besar nanti, menjadi motivasi tersendiri baginya untuk tekun belajar demi membahagiakan orangtuannya.

“Kalau handpone tidak ada, tapi sering liat teman saya maen game, teman saya itu matanya rabun karena sering maen game,” tutur Ayu penuh kepolosan.

Tidak hanya Ayu, siswa lainnya Anis Lanna Kalillah juga mengungkapkan rasa terimakasihnya, kerena kini sudah jelas melihat hingga jarak kejauhan. “Kami harap bisa dibantu buku-buku pelajaran lebih banyak lagi, karena untuk membeli buku ke tengah kota cukup jauh dari ini,” ucap Anis yang gemar membaca cerpen ini.

Direktur Umum Bank Sumsel Babel Samiludin mengatakan bantuan CSR berupa 100 kacamata gratis pada sejumlah sekolah di Palembang ini sebagai wujud kepedulian perusahaan pada sektor pendidikan, yang juga menjadi perhatian nasional.

Pemeriksaan mata dan pengadaan bantuan 100 kacamata gratis ini juga dibantu oleh pihak Rumah Sakit Mata Provinsi Sumsel. “Banyak hal sebenarnya yang ingin kami bantu untuk dunia pendidikan saat ini, dan ini terus berlanjut dalam bentuk bantuan lainnya,” kata dia.

Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel Faisol Sinin mengakui bantuan tersebut bisa memberikan solusi terutama bagi siswa yang tidak mampu. Kendati demikian bantuan ini harus dijaga sebaik mungkin.

“Pada intinya, Bank Sumsel berharap bisa terus membantu generasi pendidikan ini, termasuk juga bentuk bantuan yang cocok dan berguna di sekolah-sekolah di Kota Palembang,” katanya.

Faisol pun mengaku cukup prihatin dengan kondisi siswa sekolah dasar yang sangat dekat dengan dunia internet ini, sebab bisa kapan saja merusak mental dan motivasi generasi penerus ini, sehingga butuh trobosan yang meredam situasi ini termasuk juga pengawasan orangtua.

“Kami akan cari solusi bersama, untuk mendorong generasi penerus ini, agar bisa terus belajar dan membangun bangsa ini lebih baik lagi,” tukas dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sumsel Rusmerry Yohannes Toruan mengakui, generasi pendidikan saat ini sangat butuh uluran tangan semua pihak. Tidak hanya secara materil, namun juga gerakan sosial akan pentingnya kelangsungan generasi penerus di masa mendatang.

“Pelajar yang tidak mampu ini banyak mereka sekolah dengan berbagai permasalahan yang ada, nah pada program yang mendukung hari pendidikan nasional ini kami fokus pada anak yang bermasalah terhadap pengelihatanya,” kata Rusmerry.

Pihaknya berharap, bisa merangkul dan menjembatani pelajar di Sumsel ini untuk bisa terus sekolah dan menggapai cita-citanya. Termasuk juga berhak atas program pemerintah yang tepat sasaran. “Bank Sumsel Babel ini memiliki visi dan misi yang sama diharapkan generasi pendidikan di Sumsel menjadi yang terdepan,” tutur dia. #renosaputra

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...