Pengemudi: Kami Hanya Korban

9

Palembang, BP–Sebagian besar pengemudi menganggap mereka adalah korban dari kebijakan pemerintah yang tidak tegas dan bertele-tele dalam memutuskan.

Seperti yang dikatakan pengemudi angkutan kota yang bertrayek Kertapati, Anto (38). Menurutnya, konflik pengemudi angkot dan pengemudi taksi beraplikasi berlarut-larut hingga berujung aksi anarkis atas ketidakpuasan para sopir dengan kebijakan pemerintah.

“Kami ini sebenarnya korban, korban dari pengusaha yang haus akan uang, bahkan korban dari kebijakan pemerintah yang tidak tegas. Nasib kami terkatung-katung,” katanya, Jumat (6/9).

Menurut dia, di satu sisi pemerintah daerah hanya menunggu regulasi dari pemeritah pusat. Sementara di sisi lain, Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan tidak memperjuangkan hak sopir angkot dari jauh-jauh hari sejak masuknya perusahaan taksi online.

“Pemda ini termasuk Dinas Perhubungan, seharusnya mengajukan opsi dengan pemerintah pusat. Membuat pengajuan regulasi pada bisnis angkutan ini sehingga tidak terjadi kericuhan atau gesekan antarmasyarakat. Jadi jangan hanya diam menunggu aturan pusat,” katanya.

Baca:  Walikota Harnojoyo Kecam Pembunuhan Driver Taksi Online

Slamet (45), sopir angkot jurusan Perumnas berpendapat, pihak yang diuntungkan dari kisruh ini adalah pengusaha, sementara yang menjadi penonton adalah pemerintah. “Pemerintah sebagai pemilik kebijakan harus tegas, jangan sampai mengorbankan kepentingan rakyat,” katanya.

Ia mengakui, kemajuan teknologi tidak bisa dihindari, namun yang menjadi persolahan adalah tidak adilnya regulasi pemerintah terhadap taksi online. Ketika mobil pelat hitam dibiarkan mengambil penumpang, lantas mengapa mobil angkutan umum harus mengurus izin trayek.

Baca:  Driver Taksol Sumsel Tuntut Tambah Kuota, Revisi Permenhub

“Posisi kami sebenarnya yang rugi. Tarikan sepi, anak istri telantar, penghasilan tidak jelas. Sementara, taksi online boleh beroperasi tanpa harus memiliki plat kuning seperti kami,” tuturnya.

Sopir taksi online, Awan (33), mengakui, ricuh yang terjadi ini cukup membuat resah para sopir. Apalagi, sampai sopir angkutan umum merusak kendaraan hingga menganiaya sopir taksi online.

“Sopir angkutan umum maupun sopir taksi online sebenarnya sama-sama cari nafkah. Ketika kebijakan yang dipermasalahkan, maka yang dihakimi bukan sopir atau mobilnya. Sebab itu adalah tidakan melawan hukum,” katanya.

Baca:  Jalankan ‘Tuyul’, 4 Sopir Taksi Online Diadili

Awan menjelaskan, ketika terjadi gesekan antara sopir konvensional dan online, sebaiknya pemerintah duduk bersama mencari solusi agar sama-sama tidak dirugikan.

Sopir taksi online lainnya, Andi (40), berharap, tidak ada tindakan anarkis yang dilakukan sesama sopir. “Menurut saya sikap yang arogan, kalau sampai terjadi adu pukul antarsopir, hanya tinggal menunggu keadilan dan regulasi dari pemerintah. Kalau sampai ada korban, maka yang rugi adalah mereka yang berseteru,” tukas dia.

Ketua Paguyuban Driver Online Palembang Adi berharap tidak ada lagi aksi perusakan, apalagi yang diiakukan oleh sopir online. “Kami hanya menuntut bantuan dan perlindungan dari kepolisian,” ucapnya. #ren