Ribuan Warga Palembang Antarkan Jenasah SMB III Ke Kawah Tekurep

45

BP/DUDY OSKANDAR
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).

Palembang, BP
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).
Sebelumnya, jenazah dishalatkan di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang usai shalat Jumat.
Ribuan jemaah berduyun-duyun datang ke Masjid Agung SMB II Palembang hanya untuk menyalatkan Sultan.
Masjid Agung SMB II Palembang penuh didatangi oleh pelayat termasuk Wagub Sumsel H Ishak Mekki.
Mereka ikut mendoakan dan menyalatkan almarhum untuk terakhir kalinya.
Bahkan, warga rela berdesakan masuk dari pintu masuk supaya bisa menyalatkan almarhum di ruang utama masjid.
Setelah prosesi tersebut selesai, kemudian dilanjutkan prosesi upacara militer dihalaman Masjid Agung SMB II Palembang, karena sang Sultan merupakan anggota kepolisian. Pangkat terakhir yakni Kombes (Komisaris Besar Polisi).
Kemudian jenasah dibawa didampingi iring-iringan pelayat menuju pemakaman Kawah Komplek Raja-Raja Palembang yaitu Kawah Tekurep yang berada di kawasan Pelabuhan Bom Baru itu.
Hadir pejabat Pemkot Palembang dan mantan Wali Kota Palembang Edi Santana Putra.
Usai prosesi pemakaman, pelayat mendoakan almarhum di atas kuburnya. Lalu, putra almarhum, Raden Muhammad Fauwaz Diradja menyampaikan ucapan terima kasih dan ajakan untuk menghadiri doa bersama selama tujuh hari berturut-turut setelah salat Isya.
“Kami ikhlas kepergian beliau. Kami minta jika ada persoalan utang-piutang bisa diselesaikan kepada kami,” katanya.
Di hadapan jemaah, Raden juga mengajak untuk selalu berbuat kebaikan karena mati bakal berlaku bagi setiap makhluk hidup. “Seperti ayahanda, kemarin beliau segar bugar, tetapi sekarang justru meninggalkan kita,” katanya.

Penerus Kesultanan Palembang Darussalam

SMB III semasa hidup

Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja)
pergi untuk selama-lamanya , meninggalkan satu orang istri dan tiga anak serta 13 cucu. SMB III dikukuhkan menjadi Sultan Palembang pada 2003 silam .
Namun, empat tahun sebelum wafat, Sultan Mahmud Badaruddin III sudah menyerahkan tahta Kesultanan kepada anak Bungsu nya yakni Pangeran Ratu Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja IBNI Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja.
“Ayah sudah empat tahun lalu sudah menyerahkan Kesultanan kepada saya,” kata Fauwaz saat ditemui di rumah duka, Jumat (8/9) di Jalan Sultan Muhammad Mansyur Kelurahan 32 Ilir Kecamatan Ilir Barat I Palembang.
“Menjadikan Palembang Darussalam dan menjaga budaya dan tradisi pesan ayah yang saya teruskan, “kata Fauwaz.
Air matanya kembali jatuh, menandakan kehilangan sosok yang sangat dia cintai. Sekaligus memikul amanah untuk melanjutkan perjuangan almarhum.
“Ayah mendadak perginya, hampir tak ada pesan apa apa, “katanya.
Namun, sebelum menyerahkan tahta empat tahun lalu, almarhum berpesan untuk menjaga Palembang. Supaya masyarakat bersatu hidup dalam tradisi dan budaya leluhur.
“Tapi walaupun sudah ayah serahkan kepada saya, selama ayah masih hidup masih ayah yang mengurus segala kegiatan Kesultanan,” katanya.
Fauwaz mengungkapkan, bahwa dulu Sultan Mahmud Badaruddin III pernah mengalami gejala penyakit darah tinggi.
Selama terkena gejala tersebut rutin melakukan check up hingga dinyatakan sudah sembuh.
“Semalam sepulang dari acara serah terima jabatan Kapolda baru, ayah yang baru sudah makan tiba-tiba langsung duduk di hadapan kita semua yang ada di rumah hingga tak sadarkan diri dan langsung kita bawa ke rumah sakit”, ujarnya.

Baca:  Moncong AK 47 Anggota Brimob Renggut Nyawa Warga
BP/DUDY OSKANDAR
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).

Menurut, Fauwaz dari dulu Sultan Mahmud Badaruddin III selalu ingin memajukan kesultanan. Ingin Palembang itu menjadi Palembang Darussalam hingga tak ada lagi masyarakat Palembang yang kesusahan dan hidup makmur semua.
“Itu pesan ayah dari dulu hingga ayah meninggal, jadi kita sebagai anak-anaknya yang jadi penerus harus mampu melaksanakan keinginan ayah tersebut,” ujarnya.
Sebelumnya, Sultan Palembang Berpulang Kerahmatullah Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun kabar duka menyelimuti keluarga besar Istana dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) menghembuskan nafasnya yang terakhir Kamis (7/9) pukul 21.35 di Rumah Sakit RK Charitas Palembang. Jenazahnya kini sudah berada dirumah duka Jalan Sultan Muhammad Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang.
“Beliau meninggal diusia 67 tahun. Dalam Rapat Keluarga diputuskan akan dimakamkan dikomplek Pemakaman Raja-raja Palembang Kawah Tengkurep (Pemakaman Khusus keluarga Kesultanan) selepas sholat Jumat, jenazah Almarhum akan disholatkan di Masjid Agung Palembang,” kata Humas Kesultanan Palembang Darussalam Pangeran Surya Kemas A. R, Jumat (8/9).
Menurutnya, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak dan tiga belas orang cucu.

Baca:  Rescue Perindo Fogging Rumah Warga Kemuning
BP/DUDY OSKANDAR
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).

“Dimaklumatkan kepada seluruh anak negeri Palembang Darussalam dapat mengirimkan Alfatiha saja jika tidak sempat mengantarkan jenazah. Tercatat dalam jadwal Kegiatan Sultan yang terakhir, Kamis, (8/9) SMB III Prabu Diradja masih terlihat segar bugar saat menghadiri Haul Ki HA Malik Tadjuddin ke-17 dan peresmian laboratorium komputer SMP/SMA NU Palembang, Jalan Jenderal A Yani Plaju Palembang.
“Beliau sosok Sultan yg memiliki kepribadian sederhana, terkesan pendiam, namun selaku istiqomah dalam menyikapi suatu masalah apapun tentang budaya dan sejarah anak bangsa, utamanya sejarah Kesultanan Palembang,” kata Penembahan Husin (Raden Husin bin Raden Muhammad Arsyad).
Sebelumnya, setelah Kesultanan Palembang Darusalam dihapuskan 1821 pemerintah kolonial Belanda, tokoh adat, sesepuh dan tetuo Palembang Darussalam pada tanggal 22 Dzulhijah 1423 H atau tepatnya 24 Februari 2003 bermusyawarah.
Saat itu di acara yang digelar di Auditorium IAIN Palembang, hadir sedikitnya 175 tokoh adat dan tokoh masyarakat dari 1 Ulu hingga 16 Ulu dan 1 Ilir hingga 36 Ilir. Intinya, mereka sepakat timbulkan kembali Kesultanan Palembang Darussalam yang telah hilang selama 182 tahun.
Untuk merealisasikan, kelahiran kesultanan, dibentuklah Majelis Musyawarah Adat Palembang Darussalam. Tugasnya, menggali, melestarikan adat istiadat, tata krama, sopan santun di negeri Palembang Darussalam.
Untuk itu, dibutuhkan seorang figur yang dianggap pantas menjadi Sultan Palembang Darussalam.
Agar mendapat sosok yang dianggap cukup tepat, Majelis Musyawarah yang telah terbentuk empat hari kemudian menetapkan beberapa persyaratan bagi calon sultan. Terdiri dari persyaratan pokok dan tambahan.
Persyaratan pokok yang disepakati pada 28 Februari 2003, beragama Islam, termasuk keluarganya. Berasal dari zuriat Sultan Palembang Darussalam dengan menunjukkan silsilah dan makam zuriatnya dengan jelas dan bersedia disumpah. Lalu, memiliki bukti amanah berupa benda-benda peninggalan dari Sultan Palembang Darussalam.
Sementara persyaratan tambahan ada delapan poin. Yakni, dikenal masyarakat Palembang dan kesultanan lainnya.
Dapat menodorong semangat kesatuan danpersatuan masyarakat Palembang Darussalam. Peduli terhadap peninggalan kesultanan. Tidak terlibat, baik langsung maupun tak langsung terhadap perusakan atau penjualan aset peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Berani berkorban untuk kemajuan dankebanggaan zuriat Kesultanan Palembang Darussalam. Bertempat tinggal dan mengenal negeri Palembang. Berpendidikan tinggi, minimal SMA. Dan berpengalaman dalam berorganisasi.
Hasilnya, menurut Sultan Prabu Diraja, masuklah empat nama yang dianggap layak. Keempatnya, RHM Djohan

Baca:  Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0418 /Palembang Makan Bersama Warga
BP/DUDY OSKANDAR
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).

Hanafiah bin Ali Bin Amin, Raden Muhammad Sjafei Diradja, Raden Rahman Zeth, dan RM Mansyur Yan.
Majelis yang ditugaskan kemudian meneliti, menilai dan memusyawarahkan. Hasilnya, mufakat pada 2 Maret 2003 berdasarkan SK Majelis Musyawarah Adat Palembang Darussalam No 001/12/1423 ditetapkan, Raden Muhammad Sjafei Diradja sebagai Sultan Palembang Darussalam dengan gelar Sultan Mahmud Badarudin III Prabu Diradja.
Sebagai sultan, Sjafei Diradja memiliki stempel/cap dan Alquran tulis tangan milik Sri paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badarddin.

BP/DUDY OSKANDAR
Ribuan warga Palembang mengiringi prosesi pemakaman jenazah Raden Haji Muhammad Syafei Diradja Bin Raden Haji Abdul Hamid (Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja) di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tekurep di Kelurahan 3 Ilir Palembang, Jumat (8/9).

Alumni Akabri Kepolisian angkatan 1974 ini kemudian menerima jabatannya sebagai Sultan. Tugasnya sebagai Sultan dilaksanakannya di sela-sela tugasnya sebagai Karo Binamitra Polda Sumsel waktu itu.
Ayah dari Raden Ayu Ratih Rania Kerama Diradja, Raden Ayu Ratna Mutia Kerama Diradja, dan Raden Muhamad Fauwaz Diradja.

Beberapa jabatan pernah diemban purnawiwaran yang terakhir berpangkat Kombes ini. Diantaranya, Kapolsekta Coblong Bandung, Polda Jabar, Kaden PJR Satsabhara Polda Jabar, lalu Wakapolres Garut.
Setelah itu, berkarier di Polda Sumsel, mulai dari Sesdit Log, Kabid Telematika, Kabid Kum, dan terakhir Karo Bina Mitra dan akhirnya pensiun.#osk