Ultimate magazine theme for WordPress.

Jasa Besar H Alex Noerdin Bangun TPKS

# TPKS Harus Dijaga, Jangan Ada Pengerukan Lagi
  
Palembang, BP
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) yang terletak di Kecamatan Gandus, Palembang atau sebelumnya dikenal dengan nama Situs Karanganyar adalah taman purbakala bekas kawasan permukiman dan taman yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang terletak tepi utara Sungai Musi.
Di kawasan ini dulu ditemukan jaringan kanal, parit, dan kolam yang disusun rapi dan teratur yang memastikan bahwa kawasan ini adalah buatan manusia, sehingga dipercaya bahwa pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang terletak di situs ini. Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.
Asisten III Pemprov Sumsel Joko Imam Santosa memukul gong tanda dibukanya kegiatan sosialisasi rumah peradaban Kedatuan Sriwijaya, Rabu (16/8), di TPKS Gandus, Palembang.

Dibangunnya TPKS tak terlepas dari jasa Gubernur Sumatera Selatan pada waktu itu, H Ramli Hasan Basri, dan tangan dingin dari H Alex Noerdin yang saat ini menjadi Gubernur Sumsel yang dulu menjabat Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bapeda Tingkat I Kota Palembang.

Arkeolog nasional Bambang Budi Utomo membenarkan hal tersebut.
“TPKS ini dibangun pada waktu Gubernur Sumsel H Ramli Hasan Basri. Cuma kita tidak bisa melupakan jasa paling besar dari Pak Alex Noerdin yang sekarang Gubernur Sumsel. Pada waktu itu beliau (Alex Noerdin) menjabat  sebagai Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bapeda Tingkat I Kota Palembang. Saya datang ke situ, ngomong kepada beliau untuk mengangkat nama Sriwijaya dengan cara penelitian, oleh beliau disetujui. Kita mulai kumpulkan masyarakat untuk memperkenalkan tentang Sriwijaya, akhirnya pembangunannya dimulai tahun 1988 dan diresmikan tahun 1993. Tujuannya secara fisik untuk mengenal Sriwijaya dan kami masuk, hasil penelitian Sriwijaya disosialisasikan di sini,” katanya di sela-sela kegiatan sosialisasi rumah peradaban Kedatuan Sriwijaya, Rabu (16/8), di TPKS Gandus, Palembang.
        Menurut Bambang Budi Utomo, areal TPKS Gandus ini mulai Tangga Buntung dan berujung di Sungai Kedukan luasnya 3.300 meter persegi.
“Kondisinya sekarang sudah padat dengan pemukiman, yang saya sesalkan dulu dari foto udara,  tampak tiga kolam. Sangat di sayangkan kolam sebelah TPKS ini jadi perumahan, bingung saya. Tapi siapa kasih izin perumahan di situ, kolam di situ pasti diurug, kita tidak tahu fungsi tiga kolam itu, masih harus di teliti, tapi belum diteliti sudah hancur. Itu kolamnya ukurannya 60 x 60 meter di tengahnya ada pulau, dan itu sangat disayangkan, ke depan harus dijaga jangan ada pengerukan-pengerukan lagi,” katanya. 
Bambang juga memastikan kalau kedaulatan di laut dimulai dari Sriwijaya karena Indonesia adalah negara kepulauan.
“Sekarang ini kedaulatan di laut mulai berkurang. Pada masa Sriwijaya justru kedaulatan di laut dimulai, karena kalau orang mau berdagang di Nusantara ini harus menggunakan kapal-kapal Sriwijaya,” katanya.
        Meskipun kerajaan Sriwijaya ini d lupakan sekian ratus tahun lalu dan baru diangkat kembali tahun 1918, dari situ banyak yang harus dicermati baik penataan lingkungan, penataan kota, kedaulatan di laut, maupun lain sebagainya.
“Kota awal Sriwijaya di Palembang yang dibangun tanggal 16 Juni 682 masehi, satu-satunya kota di Indonesia dan mungkin di dunia yang mempunyai  akte kelahiran, yaitu Prasasti Kedukan Bukit,” katanya.
        Mengenai Pemkot Palembang yang menetapkan hari kelahiran kota Palembang tanggal 17 Juni dan bukan 16 Juni  berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, menurut Bambang, kalau 17 Juni itu hasil kesepakatan orang-orang Palembang dulu.
“Sebetulnya itu tidak keliru, mereka sudah tahu tanggal 16 Juni tapi mau menyamakan dengan 17 Agustus, dulu yang menetapkan dari Palembang dari DPRD,” katanya.
        Mengenai rumah peradaban Sriwijaya yang dibangun di TPKS Gandus ini dan semua informasi mengenai kerajaan Sriwijaya bisa dilayani baik melalui sosialisasi dan lain-lain.
        Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria mengharapkan pemerintah daerah konsen dan peduli dengan situs-situs Kerajaan Sriwijaya untuk membangun cinta untuk membangun peradaban Sriwijaya ini dan ini sangat luar biasa.
“Karena manusia tidak bisa dibangun secara infrastruktur, perlu pembangunan moral manusia. Kalau kita membangun hanya infrastruktur itu benda tapi manusianya perlu dibangun bahwa leluhurnya sudah memerikan nilai-nilai dan itu luar biasa Kerajaan Sriwijaya,” katanya.
         Selain itu mengenai Keberadaan rumah peradaban di Palembang, sangat berperan sebagai media sosialisasi hasil riset peneliti, khususnya tentang Peradaban Sriwijaya. Hasil riset tersebut disosialisasikan pada masyarakat, mahasiswa, serta pelajar di kota ini.
“Seperti kerajaan Sriwijaya dengan nilai-nilai penting yang menjadi cerminan nasional. Dikenal dengan kemaritiman yang tidak lepas dari kerajaan Sriwijaya,” katanya.
“Di rumah peradaban dapat mencari, mengungkapkan, memaknai nilai-nilai peradaban itu sendiri, yang mempunyai peran di kancah nasional membentuk negara Indonesia,” katanya.
Asisten III Pemprov Sumsel Joko Imam Santosa yang membuka acara tersebut mengatakan kalau bangsa Indonesia dimulai dari Sumatera Selatan karena kedatuan Sriwijaya adalah kerajaan yang menguasai lebih luas dari nuantara.
“Jadi NKRI itu konsepnya sudah sejak zaman Sriwijaya, oleh karenanya sosialisasi Rumah Peradaban Kedatuan Sriwijaya menggali nilai-nilai sejarah , itu bagus sekali untuk kalangan muda dan sekarang ini kita berada di taman nasional purbakala Kerajaan Sriwijaya yang berdiri 34 tahun yang lalu  tepatnya 22 Desember 1993 oleh Presiden Soeharto mencanangkan dan meresmikan  dulu Sriwijaya itu ada di wilayah ini ditempat ini, salah satunya di sini,” katanya.
        Kegiatan ini menurutnya  memberikan semangat dalam peringatan 17 Agustus ini  menurutnya adalah semangat perjuangan para pendahulu kepada anak-anak bangsa.
        Sebagai negara maritim, menurut Joko, presiden ingin menghidupkan kembali tol laut dimana saat ini transportasi lebih banyak menggunakan jalan darat di bandingkan laut yang lebih murah.#osk
Baca Juga:  Dirasa Tidak Adil, Eks Jubir KPK Kecewa Juliari Batubara Hanya Dituntut 11 Tahun Penjara
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...