Ultimate magazine theme for WordPress.

Dedemit Pulau Rimau Hancurkan Aula Kecamatan?

Aula kantor camat Pulau Rimau, yang ambruk mendadak, diduga dihancurkan oleh kekuatan mistis makhluk halus penunggu hutan kawasan Pulau Rimau.

BINTANG bertaburan diterangi bulan purnama menghiasi langit Desa Teluk Betung, Kabupaten Banyuasin. Orkestrasi jangkrik malam, bersahutan, memecah sunyinya malam menjadi harmoni.

Seperti biasa, bila matahari tenggelam, para warga desa mulai merapat ke rumah masing-masing.

Namun, suasana hening dan tenang, berubah mencekam. Menjelang tengah malam, tiba-tiba warga dikejutkan dengan suara gemuruh dan dentuman keras di arah komplek kantor camat Pulau Rimau.

Warga bertanya-tanya, makhluk apakah yang bersuara garang tersebut. Namun belum berani keluar tengah malam, memeriksa.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sejumlah warga mulai mendekat ke sumber suara yang menggelegar di tengah malam.

Ternyata suara tersebut berasal dari aula kantor camat Pulau Rimau yang roboh; kerangka baja penopang atap ambruk dan pecahan genting berhamburan.

Aula, yang baru sekali dipakai sejak diresmikan beberapa bulan lalu tersebut, hanya menyisakan tiang-tiang dan lantai yang pecah.

Tanpa dikomando, warga sekitar berduyun-duyun ‘melayat’ balai kecamatan yang roboh tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mengabadikannya dengan berselfi di puing-puing aula.

Dalam waktu sekejap, dengan kemajuan teknologi, berita robohnya aula secara mendadak, tanpa hujan, tanpa, badai dan tanah longsor tersebut langsung menjadi buah bibir di media sosial.

Pihak kepolisan juga bergerak cepat datang ke lokasi memasang police line. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, karena peristiwanya terjadi tengah malam. Namun warga masih bertanya-tanya, apa penyebab aula tersebut ambruk.

Baca Juga:  Minim, Pembuatan Akte Kematian di Banyuasin

“Ini sungguh aneh, pada malam kejadian langit lumayan cerah, tidak ada hujan apalagi badai, kok bisa gedung aula tersebut hancur. Untungnya kejadiannya malam, kalau siang hari saat orang ramai, bisa menelan korban,” jelas  Darwin, warga setempat.

Masyarakat, lanjut Darwin, sangat menyayangkan hal tersebut terjadi. Mengingat aula itu baru saja dibangun dan belum sempat dipakai.

“Saya yakin pemerintah tidak memakai orang sembarangan membangun ini, pastinya ada tim ahli, mulai dari perencanaan sampai ke pengerjaan hingga selesai. Ini sangat aneh, kalau dikerjakan sesuai prosedur tidak mungkin ambruk secepat ini. Tapi, apa mungkin Dedemit penunggu hutan ini yang berbuat,” ujarnya sembari mengernyitkan kening.
Berdasarkan data yang diperoleh dari LPSE Banyuasin, pembangunan aula tersebut satu paket dengan pembangunan kantor camat dan koridor Pulau Rimau.

PT Darma Buana menyingkirkan 18 perusahaan lainnya saat lelang proyek dan dipercaya oleh pemerintah untuk mengerjakan pembangunan konstruksi tersebut, dengan anggaran Rp3,175.370.000 dari APBD Banyuasin 2016.

Pihak PT Darma Buana, berusaha meyakinkan kalau pembangunan yang mereka lakukan telah sesuai dengan spesifikasi rencana anggaran biaya.

Bahkan diselesaikan tepat waktu, pada akhir tahun 2016 dan tetap berdiri kokoh sampai masa pemeliharaan oleh kontraktor berakhir.

“Semua sudah dilakukan sesuai prosedur, mungkin kami lagi ketiban sial,” katanya.

Baca Juga:  Sekda Banyuasin Tak Bisa Lagi Mangkir

Dia berusaha meyakinkan, kalau runtuhnya aula tersebut, kental dengan unsur mistis. Karena, saat melakukan proses pembangunan, para tukang kerap melihat sesuatu yang ganjil. Karena takut terjadi sesuatu, rombongan pekerja membuat nazar akan memotong kambing di tempat itu, bila pembangunan selesai.

“Ternyata nazar tersebut tidak ditunaikan, padahal kita semua tahu tempat ini dulunya hutan lebat. Percaya tidak percaya, bisa jadi jin penunggu hutan Pulau Rimau ini marah,” katanya.
Namun, dua hari pasca-kejadian, pihak kontraktor bersama tukang dan warga setempat telah membayar nazar, tersebut dan berdoa bersama agar kemalangan tidak terjadi lagi. “Pastinya, ini adalah musibah,” katanya.

Pihaknya tidak menyalahkan siapa-siapa, bahkan bersedia membangun ulang aula tersebut dengan spek yang lebih bagus. Meski bukan tanggung jawabnya lagi, karena mahar pemeliharaan telah habis.

“Kami sudah koordinasi dengan pihak Polres Banyuasin, Polda, maupun kejaksaan, kami akan bangun lagi aula tersebut, ini musibah,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Banyuasin AKBP Andri Sudarmadi melalui Kasat Reskrim AKP Dwi Satya Adrian mengatakan, pihaknya belum pernah berkoordinasi dengan kontraktor, apakah aula tersebut harus dibangun lagi.

“Pastinya, sekarang ini kasus robohnya aula kantor camat ini telah kami selidiki. Dengan mengumpulkan bukti dan keterangan, apa penyebabnya hingga bisa roboh,” katanya.

Dia menegaskan, pihaknya tidak akan pandang bulu dalam menyikapi kasus ini. Kalau di kemudian hari terbukti ada unsur pidananya, baik pidana murni atau tindakan merugikan negara, pasti akan ditindak sesuai hukum yang berlaku. “Beri kami waktu untuk mengungkap ini,” katanya.

Baca Juga:  Komplek Perkantoran Banyuasin Sepi

Sementara itu, menurut analis praktisi kontruksi Aditya Lukman Hakim, alumni Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia, berdasarkan pengalamannya membangun gedung, rangka baja ringan memang tidak sepatutnya dipasang atap genteng tanah.

“Idealnya pakai atap yang lebih ringan, sepeti seng atau multi roof. Namun perlu dilapisi glass glow dan almunium foil agar tetap adem seperti genteng, bila tidak di plafon,” katanya.

Kalaupun masih ingin memakai genting, konstruksi baja ringannya juga harus diperhatikan, menginngat satu genting beratnya mencapai 2,5kg.

“Harus perhatikan mutu baja, ketebalan profil, lapisan antikarat dan cara pasangnya,” ujar Ardit.

Dia melanjutkan, tebal minimal baja ringan minimal 0,75mm, perhatikan also untuk review memilih baja ringan cap tanggal produksi dan cap SNI. Kemudian review derajat kemiringan standar genting tanah rata-rata 30 derajat.

“Pastikan kuda-kuda harus mantap dan kokoh, agar bisa menopang berat genteng,” katanya.

Dia melanjutkan, ada beberapa alasan orang memakai genting tanah, di antaranya harganya yang relatif murah, sedikit lebih ringan dibanding beton dan cukup kuat.

“Namun perlu ketelitian ekstra saat memasang reng, apalagi kalau pakai baja ringan kekuatan konstruksi harus diperhatikan,” katanya. #mewan haqulana

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...