HIPMI Sumsel: Memulai Usaha Tak Perlu Takut Gagal

29

Tiga pengurus HIPMI Sumsel, Kavin N Sutioso, Kgs Hermansyah Mastari, dan Vincennes Faronto, saat bussinestalk BP Trijaya yang dipandu Adji Soebijantoro.

Palembang, BP

Tantangan paling berat dalam memulai usaha sendiri sebenarnya bukanlah soal modal semata, yang paling sulit adalah mempertahankan endurance berbisnis, tetap bertahan dalam usaha meskipun menghadapi banyak tantangan.

Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Selatan memberikan gambaran dalam memulai bisnis hendaklah memiliki tekad dan keinginan yang kuat, sehingga tidak mudah menyerah di tengah jalan.

Kompartemen Sipil BPD HIPMI Sumsel Kavin N Sutioso mengatakan membuka usaha sendiri membutuhkan waktu, tidak bisa instan. Ada proses yang harus dilalui. “Harus tahan banting, tidak mudah patah arang,” kata dia, saat diskusi bussinesstalk di BP Trijaya, Rabu (5/7).

Dikatakan, jika sudah memiliki keinginan yang kuat maka tinggal memupuk dengan pengalaman, maupun pengetahuan yang memadai. Sehingga untu bersaing bisa lebih kuat, dan tidak mudah gugur di awal.

Bisanya enterpreunership menunjukkan bahwa sebagian besar pebisnis yang buka usaha sendiri, gagal pada tahap awal. “Biasanya penguasaha sukses di masa sekarang adalah mereka yang gagal di awal, kemudian memilih bertahan dan lolos dari masa-masa paling kelam,” kata pemilik CV Naga Baru ini.

Terkait ketatnya persaingan bisnis saat ini, Ketua HIPMI Kota Palembang Kgs Hermansyah Mastari pemilik Alya Kirana Songket di kawasan Celentang ini mengakui hal itu sudah biasa di dunia bisnis, apalagi dengan makin banyak program tiruan.

“Persaingan makin ketat, namun semangat wirausaha tidak boleh kendor, maka itu konekting usaha melalui HIPMI sangat membantu, usaha yang digeluti harus memiliki segmen pasaryang jelas, sehingga tetap bisa bertahan,” katanya.

Herman bercerita, di dunia usaha yang digeluti saat ini pun semakin panas persaingan, seperti songket yang saat ini sudah mulai bermunculan, bahkan dibuat masal menggunakan mesin dengan harga yang murah.

“Songket Thailand itu sudah menjamur masuk pasar Palembang, kalau dampaknya sudah pasti mempengaruhi, namun lagi-lagi songket Palembang memiliki pasar yang jelas, dan unsure budaya tidak tergantikan,” katanya.

Herman mengakui, yang menjadi kendala saat ini adalah ketidaktahuan pembeli, terkadang masih banyak pembeli yang mencari songket, kemudian penjual memberikan yang tidak asli, namun tetap membeli dengan harga yang mahal.

“Pembeli songket, apalagi untuk acara adat, mereka harus paham mana produk asli tenunan mana yang dibuat dengan pabrik, jangan sampai membeli yang murah, namun dibayar dengan harga mahal kerena ketidaktahuan,” katanya.

Sementara itu, Kompertemen Koperasi HIPMI Sumsel Vincennes Faronto atau yang akrab disapa Vincent ini mengatakan, memulai usaha sebaiknya jangan takut gagal, yang penting adalah memulai dulu dengan perhitungan yang pasti.

“Sebaiknya harus berani memulai, perhitungan sudah pasti, namun tekad dan berani memulai harus kuat. Bisa memulainya dengan hobi maupun dengan sesuatu yang mudah untuk dilakukan,” katanya.

Dia mengakui, dorongan cinta atau hobi pasti hasilnya akan berbeda. Ada keinginan kuat memberikan yang terbaik. “Passion bisa menjadi penyemangat yang manjur saat bisnis sedang susah. Karena kalau sudah menyukai, maka akan mudah untuk terus berkarya memberikan yang terbaik,” katanya.

Namun dijelaskan dia, konsistensi harus tetap kuat, sehingga tantangan dalam berbisnis bisa dilalui dengan baik. “Harus punya semangat yang tinggi dan pantang menyerah,” kata pemilik Bangi Kopitiam Palembang ini. #ren