Persaingan Angkutan di Palembang Makin Ketat

13

taxi_20160323_204213Palembang, BP

Persaingan bisnis jasa transportasi umum belakangan waktu terus menunjukan perkembangan. Setelah sebelumnya ada nama-nama seperti Blue Bird, Kotas, Primakopau, dan Star Cab. Kini, ada lagi pesaing baru bisnis taksi dengan berbasis online Go Car.

Menariknya selain menawarkan pelayanan yang prima, tarif yang diberlakukan dari masing-masing penyedia taksi ini juga turut bersaing. Hanya saja, yang menjadi ke khawatiran adalah dengan gempuran penyedia jasa taksi berbasis aplikasi online ini maka akan menggerus pasar taksi konvensional, terlebih tarif yang diberlakukan relative lebih rendah dari pasaran.

Menanggapi hal itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Palembang, H Sunir Hadi mengatakan, pihaknya belum menerima laporan secara resmi mengenai adanya layanan taksi baru berbasis online yakni Go Car. Meski demikian, dirinya sudah mendengar jika layanan taksi dengan kendaraan plat hitam ini sudah beroperasional di Kota Palembang. “Kami belum mendapatkan laporan mengenai telah beroperasionalnya taksi Go Car ini,” kata dia.

            Sunir mengatakan, untuk menghindari persaingan yang tidak sehat pada jasa akungkutan taksi pihaknya menghimbau agar managemen Go Car agar dapat duduk satu meja dengan melibatkan sejumlah stakeholder terkait khususnya pemerintah daerah agar dapat mendiskusikan terkait izin operasional hingga tariff yang ditentukan. “Harus ada titik tengah, sehingga tidak ada yang dirugikan,” katanya.

Selain itu, kata dia, taksi konvensional haruslah segera melakukan inovasi-inovasi terbaru yang akan menarik minat konsumen. “Itu harus dilakukan jika armada taksi konvensional tak mau kalah bersaing dengan armada berbasis online,”katanya.

Dari sisi lain, Ekonom Sumsel, Yan Sulistio berpendapat, apa yang terjadi merupakan bentuk dinamika pasar di mana konsumen mencari yang lebih murah dengan yang ditawarkan. Dimana taksi berbasis online menawarkan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan dengan taksi konvensional. “Taksi konvensional bertarif lebih tinggi dikarenakan ongkos membiayai segala operasional mulai dari gaji direksi, hingga mandor dan juga segala macam iuran karena berplat kuning sedangkan taksi berbasis online tidak begitu,” katanya.

Menurutnya ada beberapa kebijakan yang mestinya diterapkan seperti mengharuskan armada online itu berplat kuning dan segala ketentuan seperti halnya taksi konvensional. “Tapi kalaupun itu diterapkan, taksi konvensional tetap akan kalah karena besarnya cost mereka tadi. Karenanya mereka perlu inovasi kalau tidak mau kalah,” kata dia.

Menurutnya, hal ini lumrah terjadi dimana pasar bergerak dinamis apalagi bisnis transportasi adalah bisnis yang sangat ketat persaingannya. “Sama seperti saat pertama Bluebird masuk ke Palembang, taksi yang lain kan pada kalah saing,” pungkasnya. #ren