Jalan Macet, Pak Ogah Menjamur

12

unnamedBanyuasin, BP
Kemacetan dan kerusakan jalan di sejumlah kawasan Banyuasin, membuat menjamurnya ‘Pak Ogah’  jalanan yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat.
Seperti yang terjadi di sejumlah titik jalan di Banyuasin, di antaranya di kawasan jalan lintas Rambutan, jalan Tanjung api-api, jalan lintas timur dan sejumlah jalan lainnya.
Bermodalkan cangkul, ember, tanah seakan memperbaiki jalan berlubang besar itu dan memberi tanda pada pengendara agar berhati-hati.
Sebagai balas jasa, mereka mengimbau warga menyumbangkan uang receh, bahkan terkadang memaksa, khususnya untuk pengendara truk angkutan.
 Badan jalan yang banyak mengelupas membuat para pak ogah semakin menjamur. Mulai dari orang tua sampai balita, turun ke jalan berupaya membantu pengendara dengan berharap imbalan.
Di simpang tiga Talang Keramat-Kenten juga sama, namun di situ Pak Ogah tidak memperbaiki jalan rusak, layaknya polisi lalu lintas, mereka mengatur laju kendaraan di pertigaan itu. Tentunya dengan mengharapkan imbalan suka rela dari pengendara.
Heri (31) salah seorang sopir truk asal Suka Jadi kecamatan Talang Kelapa mengeluhkan, para Pak Ogah itu kerap melakukan pemalakan dengan pengendara truk. “Kalau tidak memberikan uang, bisa-bisa mobil dilempari batu,” jelasnya, Minggu (16/10).
Dia berharap di tempat-tempat rawan laka lantas dan kemacetan itu ditempatkan polisi yang memang resmi bertugas mengatur lalu lintas. “Atau kalau tidak, para Pak Ogah ini dikoordinir benar-benar oleh polisi atau Dishub guna mengatur lalu lintas. Dengan begitu, uang yang kami bayarkan bisa masuk retribusi dan kalau ada diantara mereka yang nakal, ada instansi yang menanggung jawabinya,” katanya.
Hal berbeda dikatakan Julianto (27) warga Kenten yang sering berkendara di pertigaan Talang Keramat. Menurutnya, aksi para Pak Ogah itu sangat membantu, agar tidak terjadi kemacetan. Kalau pun mereka meminta sumbangan atas jerih payahnya, bisa dimaklumi. “Lagi pula sepengetahuan saya, mereka tidak perna meminta secara langsung, apalagi memaksa. Saya tiap hari lewat jalan ini,” katanya.
Salah Seorang Pak Ogah yang mengaku bernama Agus membantah kalau mereka memalak kendaraan yang lewat. Dari pada nganggur tak keruan, lebih baik kami membantu masyarakat mengatur lalu lintas. “Saya kira ini pekerjaan halal, kami tidak memeras atau memaksa. Kalau masu kasih syukur, tidak ya silahkan,” katanya.
Terkait keluhan sopir truk yang mengaku sering dipalak, itu jarang sekali terjadi, kalaupun ada merupakan ulah oknum. “Lagi pula, sebenarnya, truk-truk besar itu tidak boleh melintas di Jalan ini,” katanya.
 Kepala Dishub kominfo Banyuasin Supriyadi mengakui pernah melihat aktivitas Pak Ogah ini, namun  pihaknya tidak memiliki wewenang untuk menertibkan “pak ogah”, karena itu merupakan tugas kepolisian. “Itu mungkin bentuk kepedulian masyarakat terhadap adanya kemacetan panjang yang terjadi akibat kerusakan jalan,” ungkapnya.
Dishubkominfo sendiri telah menyiagakan dua unit mobil derek di kompleks perkantoran Pemkab Banyuasin yang sewaktu-waktu bisa digunakan. “Apabila ada mobil yang terjebak dalam lubang atau mengalami kerusakan, agar tidak menimbulkan macet,” katanya. # mew
Baca:  Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan Arkoni-Azwar