Tiang Penyangga Cinde Berbahaya, Revitalisasi Dilanjutkan

28

pasar-cinde_20151217_134032Palembang, BP

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kembali melanjutkan revitalisasi dan renovasi Pasar Cinde yang beberapa waktu lalu sempat terkendala isu cagar budaya (heritage). Rencananya, tahun ini juga revitalisasi tersebut akan segera dilakukan.

 

Rektor Universitas Sriwijaya Aniss Saggaf yang menjadi konsultan akademisi di bidang konstruksi terkait reitalisasi pasar Cinde ini mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan 16 tahun lalu, bangunan tiang penyangga yang berada di Pasar Cinde sudah memasuki kategori berbahaya.

 

“Bangunan Pasar Cinde kontruksinya sudah tua, sewaktu-waktu akan menjadi musibah jika tak dilakukan pembenahan,” ujarnya, Senin (3/10).

 

Selain itu, Pasar Cinde sudah dua kali dipugar pada 1971 dan 1981, sehingga Pasar Cinde sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai cagar budaya.

Baca:  Pedagang Cinde Keluhkan Minimnya Sosialisasi

 

“Untuk penolakan masyarakat dan pedagang, sosialisasikan saja kepada masyarakat yang ingin bertahan di Pasar Cinde  Itu bisa diselesaikan dengan pendekatan secara kultur. Pedagang hanya tidak mau kehilangan tempat mencari rezeki, pemda harus menjamin (tidak kehilangan lapak berdagang-red) untuk mereka (pedagang-red),” tambahnya.

 

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin berujar, pihaknya tetap melakukan revitalisasi Pasar Cinde karena beberapa alasan. Selain nilai cagar budaya yang sudah hilang akibat pemugaran pada 1971 dan 1981 serta konstruksinya yang sudah berbahaya, Pasar Cinde termasuk ke dalam rancangan besar Pemprov Sumsel dalam menyambut Asian Games 2018.

Baca:  Struktur Pasar Cinde Harus Dikuatkan

 

“Pasar Cinde tepat berada di tengah kota, jadi harus segera dibenahi. Supaya Cinde yang saat ini kotor dan jorok, bisa bersih, sehat, serta lebih enak dipandang dan membuat nyaman para pengunjung pasar, kata Alex.

 

Untuk struktur bangunanya, pemprov tetap mempertahankan bentuk tiang cendawan yang merupakan bagian dari ciri khas dan cagar budaya pasar tersebut. Selain itu, di Pasar Cinde Modern nantinya akan terintegrasi dengan kereta cepat ringan atau light rail transit (LRT) dengan membangun skybridge penghubung dari pasar menuju stasiun.

 

Pihaknya merevitalisasi Pasar Cinde menggunakan sistem guna, bangun, serah atau build, operate, transfer (BOT). PT Magna Beatum, anak perusahaan Aldiron Group telah memenangkan tender BOT revitalisasi Pasar Cinde Modern dengan nilai investasi Rp225 miliar dengan masa BOT 30 tahun terhitung sejak tahun ini.

Baca:  Operasional Pasar Cinde Ditutup

 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Provinsi Sumsel Basyaruddin Akhmad mengatakan, desain untuk revitalisasi Pasar Cinde tetap sama dengan rencana semula. Pasar ini akan memiliki 12 lantai, dimana ada satu lantai yang dikoneksikan dengan stasiun LRT.

 

“Kami targetkan pembangunannya dimulai tahun ini juga, dengan dua minggu disiapkan siteplan terlebih dahulu. Disini akan menentukan apakah di dalam bangunan pasar ini memiliki basement atau tidak,” katanya. #idz