Prediksi Hujan Deras Pekan Ini, Waspadai Bencana

10

Kawasan padat penduduk terlihat diliputi awan mendung, di kawasan Purus, Padang, Sumatera Barat, Kamis (12/11). Memasuki musim penghujan, BPBD Sumbar mengimbau warga dan pemerintah daerah terutama di kawasan rawan longsor dan banjir seperti Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Pesisir Selatan, dan Kota Padang, untuk meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya bencana akibat tingginya intesitas hujan. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/nz/15
Musim penghujan, BPBD mengimbau warga dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya bencana akibat tingginya intesitas hujan. ANTARA FOTO

Palembang, BP

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika meminta kepada masyarakat di Sumatera Selatan, khususnya di bagian barat untuk waspada akan bencana banjir dan tanah longsor. BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kenten memprediksi selama beberapa hari kedepan Sumsel bakal dilanda hujan deras dan berpotensi longsor untuk sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kenten Mohammad Irdam mengatakan, saat ini hujan disertai angin kencang dan petir/kilat masih terjadi dan diprediksi berlangsung untuk beberapa hari kedepan.
Terutama di Kabupaten Muaraenim, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin serta di Empat Lawang, Pagaralam, Musirawas Utara, OKU Selatan.
“Daerah-daerah inilah yang harus berhati-hati. Hujan sering terjadi sore hingga malam hari, setelah pagi hingga siang hari udara panas,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini curah hujan cukup tinggi, penyebab terjadinya hujan karena tekanan udara rendah di barat daya Sumsel, disertai uapan tinggi sehingga banyak terbentuk awan penghujan. Tak hanya dibagian barat, tapi juga di daerah Palembang dan sekitarnya.
“Ini dapat menyebabkan banjir, pohon tumbang dan sebagainya. Secara umum, Sumsel sudah ada di musim penghujan pada September lalu, meski pada normalnya masuk di Oktober ini. Pergantian cuaca yang lebih awal ini juga menyebabkan terjadi cuaca ekstrim, hingga angin kencang,” tambahnya.
Irdam menjelaskan, tiupan angin kencang saat hujan deras turun menurutnya bisa mencapai kecepatan melebihi 35 knot. Kondisi ini sudah di atas normal. Baliho yang tidak kuat ataupun pohon-pohon tua rapuh, tentu akan mudah roboh akibat tiupan angin kencang yang kecepatannya di atas normal.
“Saat ini kecepatan angin masih normal, 5-10 knot. Jika di atas 25 knot artinya sudah berbahaya. Timbulnya angin kencang ini diakibatkan adanya pembentukan awan panas atau awan konventif. Biasanya pembentukan awan konventif itu, terlebih dulu cuacanya panas untuk menyerap uap dan barulah terjadi hujan yang disertai angin kencang,” jelasnya.
Anomali suhu laut yang terus meningkat di kawasan laut Sumatera, lanjut Irdam, berpotensi membawa uap air hingga terbentuk hujan menjadi penyebab musim hujan di tahun ini diperkirakan akan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
“Musim hujan akan berakhir di Mei tahun mendatang, artinya musim hujan akan lebih panjang,” lanjutnya.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatra Selatan Iriansyah mengatakan, sebagai bentuk antisipasi dalam memasuki musim penghujan ini pihaknya terus berkoordinasi dengan tiap kabupaten/kota, terutama untuk daerah rawan bencana banjir dan longsor.
“Longsor biasa terjadi di dataran tinggi, seperti di Pagaralam, Musirawas, Musirawas Utara, OKU Selatan, Empat Lawang, dan sekitarnya,” ujarnya.
Karenanya, koordinasi tiap daerah dengan masing-masing instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Sosial juga diutamakan. Sebab dalam penanganan kasus longsor, diperlukan alat berat, karena longsor yang terjadi biasanya menutupi jalan hingga perumahan.
“Kita sudah minta kepada tiap daerah untuk siaga. Mulai dari personel, peralatan evakuasi, alat berat dan sebagainya. Musibah tak bisa dielakkan karena geografis Sumsel sebagian juga berada di dataran tinggi,” tambahnya. #idz