Johan Anwar Ngaku Lupa Jumlah Pertanyaan Penyidik

13


unnamed
Johan Anwar keluar dari ruang penyidik Polda Sumsel

Palembang, BP

Setelah menjalani pemeriksaan secara marathon dari pukul 10.00, Senin  (19/9), akhirnya pukul 18.15 Johan Anwar keluar dari gedung Ditreskrimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus ) Polda Sumsel, Johan mengaku lupa berapa pertanyaan penyidik yang mencecarnya dari pagi hingga magrib. ”Saya hanya menjawab pertanyaan seputar kasus lahan kuburan tersebut,” katanya.
Menurut Johan Anwar, kedatangannya ke Polda Sumsel adalah bukti kalau dirinya adalah warga negara yang baik. ”Saya ini kan warga negara yang baik, itulah kenapa saya datang memenuhi panggilan pihak Ditreskrimsus Polda Sumsel pada hari ini,” ujarnya.
Johan Anwar juga mengatakan kalau pemeriksaan yang dilakukan terhadap dirinya tidak menggangu aktivitasnya sebagai Wakil Bupati. ”Pemanggilan dan pemeriksaan terhadap saya sesuai prosedur hukum, serta sama sekali tidak mengganggu pekerjaan,” katanya seraya menaiki mobil Toyota Fortuner BG 1955 milik kuasa hukumnya, Sayuti, SH, untuk kemudian meninggalkan gedung Mapolda Sumsel dengan diiringi mobil Toyota Fortuner warna hitam BG 1469 Z milik Johan Anwar.
Kasus ini sendiri pertama kali terungkap ‎berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Sumsel di mana ditemukan dugaan mark-up pengadaan lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) tahun 2012 sebesar Rp3,5 miliar.
Johan Anwar dijerat dengan pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 tahun 1999 diubah dengan Undang Undang No 20 tahun 2011 tentang perubahan atas UU RI No 31 Tahun 1999, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP dan pasal 3 undang- undang nomor 8 tahun 2010 ttentang tindak pidana pencucian uang.
Sebelumnya, majelis hakim yang diketuai Saiman SH MH, dan hakim dua Anggota yakni Junaida serta Sobandi SH, telah menjatuhkan vonis terhadap empat pejabat di lingkungan pemerintahan Kabupaten (Pemkab) OKU dalam kasus yang sama, keempatnya yakni Umirtom yang merupakan mantan sekda pemkab OKU, Ahmad Junaidi selaku mantan Asisten 1 Pemkab Kabupaten OKU Induk, Najamudin yang merupakan mantan Kepala Dinas Sosial Pemkab OKU serta Hidirman.
Keempat terdakwa divonis dengan hukuman yang. Berbeda, Umirton dan Ahmad Junaidi serta Najamudin divonis majelis hakim empat tahun penjara sedangkan pemilik lahan yakni Hidirman divonis tujuh tahun penjara.#osk