Mencegah Radikalisme Dengan Kompetisi Video

10

Palembang, BP

0909.15.HL.FerRendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan, menjadi salah satu faktor pemicu masuknya paham dan ideologi radikalisme dimasyarakat. Untuk mencegah hal tersebut, seluruh elemen diharapkan bersama-sama membangun dan memperkuat rasa cinta tanah air sejak dini.

Kasubdit Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Dr Hj Andi Intan Dulung didampingi pengurus FKPT Sumsel Dr Periansya, SE, MM, mengatakan, masyarakat dan remaja harus mendapat pemahaman ideologi sejak dini. Sehingga ketika berbagai ajaran dan paham radikalisme masuk di satu kawasan tertentu, mereka tidak menjadi korban dari ajaran tersebut.

“Yang penting saat ini bagaimana menguatkan generasi muda, agar lebih cinta tanah airnya dan memiliki pemahaman tinggi hingga tidak mudah dimasuki paham radikalisme,” kata Andi Intan ditemui di sela-sela acara dialog film sebagai gagasan damai kepada para siswa-siswi SMA-MA se Sumsel di Hotel Sintesa Peninsula, Kamis (8/9)

Dia mengungkapkan, kemiskinan dan kebodohan salah satu penyebab masuknya ajaran terorisme dan radikalisme. Daerah yang aman, sangat berpotensi besar berkembangnya ajaran tersebut. Remaja yang berpendidikan rendah dan berada dalam kawasan yang miskin menjadi target masuknya ajaran tersebut.

“Ini yang harus kita pahami bersama. Ketika seorang remaja mendapatkan ilmu dari seorang guru dan satu kitab pegangan. Kemungkinan akan dapat merubah sudut pandang remaja tersebut terhadap persoalan. Jika semakin dalam tertanam, maka aksi radikalisme dan terorisme akan berlangsung. Ini yang perlu diwaspadai,” katanya.

Dia mencontohkan, seperti di kawasan Indramayu ditemukan paham yang berbalut ajaran agama, yang memiliki keyakinan bahwa pahamnya lebih penting daripada menghormati dan berbakti pada orangtua.

”Jelas tidak ada satu agama pun di dunia ini yang memperbolehkan anak menzolimi orangtuanya. Nah ini terjadi di Indramayu, artinya ketika ideologi tersebut mengakar akan terjadi pemahaman yang sangat kuat,” ujarnya.

BNPT sendiri, tambah Andi Intan, berupaya memberikan pendidikan dan pemahaman bahwa tindakan dan ideologi radikalisme jelas merusak tatanan dan bertentangan dengan agama yang mengajarkan kedamaian. Salah satunya, lewat kompetisi video pendek tentang pentingnya pemahaman nilai-nilai kebangsaan untuk mencegah terorisme dan radikalisme yang telah dilaksanakan sebelumnya di Sumsel.

“Yang ditonton tadi adalah salah satu dari video pendek, yang diikutkan dalam seleksi tiga film terbaik yang akan dilombakan secara nasional pada November akan datang,” jelasnya.

Sementara itu, pengurus FKPT Sumsel Dr Periansya, SE, MM, menambahkan, sangat penting memberikan pendidikan dan pemahaman kepada para pelajar dan siswa bahwa ajaran terorisme dan radikalisme, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia. Salah satunya dengan nonton bareng film pendek yang digelar oleh FKPT di Hotel Sintesa Peninsula.

“Dan media sosial, dan film cukup memberi pengaruh besar untuk memberi pemahaman kepada para siswa dan masyarakat, untuk menjauhi terorisme dan radikalisme,” katanya.

Menurut Periansya, paham radikalisme muncul karena rendahnya pendidikan dan meningkatnya fikiran negatif terhadap persoalan yang ada disekitarnya. Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan munculnya gerakan terorisme dan radikalisme di masyarakat. Sedangkan pemenang kompetisi video pendek sebagai juara pertama SMKN 7 Palembang mendapat hadiah Rp5 juta, juara kedua SMAN 17 Palembang Rp2,5 juta, dan juara ketiga SMAN 1 Belitang mendapat uang tunai Rp1 juta.

#osk