Aksi Pembakaran Lahan Beralih Malam Hari

10

Polda Tangkap 10 Pelaku

BP/MARDIANSYAH KEBAKARAN LAHAN-Seorang petugas memadankan kebakaran lahan di Jengal, Banyuasin. Polda Sumsel sudah menangkap 10 pelaku pembakaran.
BP/MARDIANSYAH
Seorang petugas memadankan kebakaran lahan di Jengal, Banyuasin. Polda Sumsel sudah menangkap 10 pelaku pembakaran.

Palembang, BP

Pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti kucing-kucingan dengan petugas dan pihak keamanan. Aksi gencar operasi patroli Satgas pada siang hari dibalas oleh pelaku dengan beraksi malam hari. Tak mau kecolongan, Satgas pun menggelar patroli malam hari.

“Saat ini diduga pembakaran lahan oleh para pelaku banyak dilakukan pada malam hari. Hal itu akibat dari gencarnya operasi pemadaman kebakaran lahan di siang hari. Patroli di malam hari kita mulai gencarkan. Ini upaya agar kebakaran tidak meluas,” kata Dansatgas Karhutla Danrem 044/Gapo Kol Inf Kunto Arief Wibowo.

Ia mengatakan, pihaknya bersama jajaran kepolisian, masyarakat peduli api, Manggala Agni, dan semua perusahaan sudah maksimal upayakan pemadaman karhutla. Tim Satgas di lapangan, diakuinya, kesulitan memadamkan kebakaran karena ada beberapa lokasi kebakaran yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapainya.

“Kalau malam hari helikopter waterbombing tidak bisa beroperasi. Jika harus menunggu esok hari, kita khawatir kebakaran semakin luas, jadi tim Satgas tetap harus ke lapangan untuk memadamkan kebakaran tersebut,” tambahnya.

Baca:  Pemadaman Karhutla di Sumsel  Belum Maksimal,  Perlu Dukungan  Pemerintahan Provinsi ,  Kabupaten dan Kota  

Kunto menegaskan, memadamkan kebakaran tidaklah mudah apalagi jika harus dilakukan di malam hari. Sebab selain kendala medan dan jarak pandang, kendala sarana transportasi juga paling mempengaruhi.

“Dengan kendala ini, maka risiko petugas akan semakin besar. Kami upayakan sonar yang biasanya digunakan untuk mengukur gelombang di bawah air akan digunakan untuk penunjuk arah bagi petugas menunjuk ke lokasi kebakaran,” jelasnya.

Selain itu, juga ada modifikasi kendaraan, busa pemadam api, dan pakaian anti api juga tengah disiapkan untuk mendukung operasi di malah hari tersebut. Langkah itu dilakukan agar tidak ada korban yang mengenai petugas saat beroperasi di malam hari.

Saat ini pihaknya membutuhkan alat bantu penglihatan malam (night vision) untuk mencari titik api termasuk pelaku yang membakar lahan tersebut. Dari data Kepolisian Daerah Sumatera Selatan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) sudah ada tersangka 10 pelaku pembakar hutan dan lahan di sejumlah daerah sepanjang 2016 ini.

Baca:  Satgas Karhutla Sumsel Terus Lakukan Pemadaman

Biro Operasi Satgas Siaga Darurat Bencana Asap Kompol Muzir Cika mengatakan, 10 pelaku tersebut tertangkap di wilayah Kabupaten Ogan Ilir (OI), Muaraenim, dan Musi Banyuasin. Seluruh kejadian kebakaran yang disebabkan para pelaku masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan.

“Di antaranya mereka adalah pembakar lahan 3,5 hektar di Ogan Ilir, 7,25 hektar Musi Banyuasin, dan dua hektar Muaraenim. Saat ini motifnya belum diketahui pasti. Tapi diduga kuat alasan mereka membakar karena untuk membuka lahan,” tuturnya.

 

November Puncak Hujan

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Bandara SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan, saat ini Sumsel sudah mulai memasuki musim penghujan. Hal itu terlihat dari adanya pergerakan curah hujan meski masih dibawah 50 milimeter. Namun hal itu dinilai menjadi hal yang lebih baik untuk atasi munculnya titik panas di Sumatera Selatan.

“Curah hujan di Sumatera Selatan masih masuk kategori ringan hingga sedang, bervariasi di setiap wilayah. Sekarang juga sudah terlihat awan penghujan di beberapa daerah di Sumsel,” ungkapnya.

Baca:  Titik Panas Meluas, 15 Helikopter Dikerahkan di Sumsel

Pihaknya memperkirakan satu minggu kedepan, Sumsel masih dilanda hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Agus menuturkan, tahun 2016 ini adalah tahun dimana musim penghujan datang lebih awal sejak 30 tahun lalu.

“Ini karena ada fenomena global, pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik, sehingga keistimewaan tahun ini kita rasakan,” jelasnya.

Dirinya pun mengungkapkan, satu kabupaten di Sumsel yakni Muaraenim, tidak mengalami musim kemarau sama sekali. Hal itu dibuktikan dengan hujan yang terus menerus mengguyur setiap harinya.

“Kemarau mulai Juni lalu dan puncaknya kemarau tahun ini sudah lewat pada Juli lalu pada Tiga dasarian itu kurang dari 150 milimeter. Sementara Agustus mulai banyak hujan. Hari hujannya pun rata-rata lebih dari sepuluh hari berturut-turut di Muaraenim,” jelasnya.

Beberapa pekan mendatang pun Sumsel khususnya Palembang masih akan diguyur hujan meski dengan intensitas ringan dengan curah 10-20 milimeter. #idz