Perkebunan Wajib Punya Posko Karhutla

17

Hellikopter MI8 milik BNPB melakukan water booming diarea lahan gambut yang terbakar dikawasan Pemulutan Barat Ogan Ilir
Hellikopter MI8 milik BNPB melakukan water booming di area lahan gambut yang terbakar di kawasan Pemulutan Barat, Ogan Ilir.

Palembang, BP 

Titik api di Sumatera Selatan semakin bermunculan. Terbatasnya jam kerja satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi kendala dalam memadamkan api, terutama yang terjadi pada malam hari. Oleh karena itu, Satgas telah memutuskan untuk membentuk posko yang beroperasi selama 24 jam di setiap perusahaan perkebunan.

Komandan Resimen (Korem) 044/Gapo Kolonel Infantri Kunto Arif menegaskan, setiap perusahaan yang ada di Sumsel wajib miliki minimal satu posko pengendalian karhutla yang beroperasi selama 24 jam.

Kunto mengatakan, saat ini sangat diperlukan pengawasan tersendiri dari masing-masing pemilik lahan atau area perkebunan. Sebab titik api dan karhutla sudah mulai terjadi dan menyebar di banyak daerah di Sumsel.

“Semua perkebunan mulai besok (hari ini-red) sudah harus memiliki posko pengendalian yang dilengkapi juga dengan fasilitas pemadaman kebakaran. Posko ini harus bisa menguasai seluruh area perkebunan miliknya, harus memantau dan mengawasi agar tidak terjadi karhutla,” jelasnya usai menghimpun ratusan pengusaha perkebunan Sumsel di Griya Agung, Jumat (5/8).

Satgas Penanggulangan Karhutla Sumsel pun akan mulai melakukan pemantauan titik api secara realtime menggunakan layangan yang dilengkapi kamera dan fix wing drone. Selama ini, Kunto menuturkan, pemantauan titik api melalui satelit memiliki kendala waktu karena yang terpantau satelit bukanlah titik api yang sedang terbakar, namun pantauan selama 12 jam sebelumnya.

“Agar lebih efektif, kita terbangkan layangan besar berukuran 1 meter yang dilengkapi kamera. Penempatannya di beberapa lokasi yang rawan terbakar dan merupakan hamparan luas. Jadi dari jarak jauh kita bisa lihat dan pantau jika ada kebakaran,”

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan LAPAN untuk mengoperasikan fix wing drone di lokasi rawan terbakar. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Selatan Sigit Wibowo mengatakan, pihaknya akan mulai mengoperasikan fix wing drone tersebut pada Agustus ini. Hal itu sebagai upaya pemantauan di lokasi-lokasi yang sulit dicapai jalur darat namun masuk dalam kawasan rawan karhutla.

Pihaknya juga memaksimalkan penggunaan pantauan satelit milik LAPAN agar deteksi titik api lebih cepat terbaca serta memberikan informasi yang up to date.

Posko 24 Jam

Untuk pengoperasian posko 24 jam, Kunto menjelaskan, pihaknya memberi waktu paling lambat tiga hari kedepan untuk segera membangun dan melengkapi sarana serta prasarana pemadaman kebakaran di posko tersebut.

Selain itu setiap posko juga harus memiliki akses komunikasi dengan posko utama Satgas Penanggulangan Karhutla serta berkoordinasi dengan instansi terkait baik pemda, TNI dan Polri yang ada di daerahnya masing-masing.

Dirinya mengungkapkan, saat ini sudah banyak lahan yang terbakar diantaranya di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin dan sebagainya. Berdasar pengecekan di lapangan, semua terjadi di lahan perkebunan. Dominasi terjadi di lahan perkebunan masyarakat.

Selain pembentukan posko, pihaknya juga berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan perkebunan untuk mempercepat pemetaan wilayah lahan gambut.

“Tindakan preventif harus dilakukan, pengolahan lahan gambut dengan menebar cairan Bios 44 menjadi hal utama dalam menjaga agar lahan gambut di Sumsel tak mudah terbakar,” jelasnya.

Korem 044/Gapo terus berupaya menebar cairan Bios 44 di seluruh lahan gambut yang ada di Sumatra Selatan. Produksinya dari Korem 044/Gapo sendiri dimana dalam satu hari bisa diproduksi sebanyak 3-4 ton dan disuplai ke setiap daerah.

Cairan Bios 44 merupakan jenis paduan beberapa mikroorganisme yang disatukan berfungsi mampu memperkecil hingga menutupi rongga-rongga yang ada lahan gambut dalam tempo tertentu, nantinya lahan lahan tidak mudah terbakar.

Cairan Bios 44 setelah disiram di area gambut akan berkembang secara terus menerus menutupi rongga gambut yang pada saat kemarau mudah terbakar. Menurut Kunto, cairan Bios 44 itu tidak berbahaya bagi kehidupan di lokasi atau bagi manusia, bahkan bisa membuat subur lahan dan bisa menjadi pakan bagi ikan yang hidup di lahan gambut.

Pemetaan lahan wilayah menjadi hal penting juga bagi pengendalian karhutla di Sumatra Selatan. Pemetaan itu, ujarnya, sangat penting dalam penentuan batas wilayah suatu perusahaan satu dengan perusahaan lain, atau perusahaan dengan masyarakat, juga antara satu daerah dengan daerah lainnya. “Jadi kita bisa tahu ini lahan siapa. Jika terbakar, siapa yang akan bertanggung jawab atas itu,” jelasnya.

Danrem 044/Gapo Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo, S.IP juga menyatakan Dansatgas juga menyampaikan kepada seluruh perusahaan di wilayah Sumsel untuk menyerahkan data lahan yang dimilikinya sebagai bahan pemetaan wilayah. Hal ini agar pihaknya dapat dengan mudah mengidentifikasi lahan jika sedang terjadi kebakaran. Dansatgas memberi batas waktu sampai dengan akhir Agustus ini.

Seluruh data yang diperlukan sudah terkumpul. untuk mempercepat pengumpulan data  tersebut. Pihaknya menurunkan 350 personel TNI untuk membantu perusahaan dalam pengumpulan data lahan yang dimilikinya. “Saya kasih deadline hingga akhir Agustus data tersebut sudah ada sehingga bisa kita petakan,” katanya.#idz/osk