Produk Tiongkok Dominasi Pasar Sumsel

12

mainan anakPalembang, BP

Upaya negara tirai bambu (Tiongkok) melakukan devaluasi terhadap mata uang Yuan tahun lalu kini mulai menunjukkan dampaknya bagi neraca perdagangan khususnya di Sumsel. Dari nilai impor, dominasi Amerika Serikat yang selama ini memiliki andil terbesar bagi nilai impor di Sumsel sudah mulai tergeser.

Kepala BPS Sumsel Yos Rusdiansyah mengatakan realitanya cukup nyata, di mana kini bisa dilihat hampir seluruh jenis produk yang diperdagangkan di sejumlah pusat penjualan di Sumsel berlabel made in Tiongkok.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, total nilai impor periode Januari-Juni 2016 sebesar 749,39 juta dolar AS atau naik sekita 200 juta dolar AS di banding periode yang sama tahun 2015.

Dari nilai impor tersebut, negara asal impor terbesar yaitu Tiongkok dengan nilai impor sebesar 386,86 juta dolar AS, diikuti Amerika Serikat dengan nilai impor 50,09 juta dolar AS dan Jepang dengan nilai impor mencapai 55,19 juta dolar AS. “Dua tahun belakangan, Amerika selalu menjadi negera dengan nilai impor terbesar, tapi kini mulai digeser oleh Tiongkok,” katanya.

Dikatakanya, jika dibandingkan nilai impor Tiongkok mengalami lonjakan hingga dua kali lipat, di mana pada periode Januari -Juni 2015 nilainya sebesar 239,26 juta dolar AS pada periode serupa tahun ini melejit hingga 386,86 juta dolar AS. Kemudian peningkatan peran Tiongkok terhadap total impor Januari-Februari tahun ini mencapai 51,62 persen atau yang terbesar. “Artinya, separuh lebih total impor Sumsel kini berasal dari Tiongkok,” katanya.

Dia menambahkan, semakin banyak impor barang dari Tiongkok membuat jarak defisit perdagangan Sumsel dengan negeri tirai bambu tersebut makin melebar. “Impor makin meningkat tajam karena Tiongkok sengaja membuka pintu pelaku usahanya untuk menjamah pasar Internasional,” katanya.
Sementara di sisi ekspor sendiri hingga Juni 2016, kembali mengalami penurunan sebesar 32 persen dari periode serupa tahun lalu (yoy) dengan nilai ekspor yang tercatat sebesar 921,40 juta dolar AS. Nilai impor Sumsel ke Tiongkok pun turut mengalami hal serupa dengan penurunan 6,60 persen, dengannilai ekspor yang mampu dicacat sebesar 60,79 juta dolar AS. “Secara yoy nilai ekspor Sumsel ke Tiongkok merosot hamper 50 persen,” katanya.

Menurut Yos, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk menjaga neraca perdagangan tetap dalam kondisi baik. Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan mendorong produk-produk olahan yang bernilai tinggi. “Saat impor meningkat sebenarnya tidak ada masalah selama ekspor kita juga meningkat,” katanya.

Sementara itu, Ekonom Sumsel dari Universitas Sriwijaya Yan Sulistio mengatakan, Tiongkok merupakan salah satu dari 5 negara produksi barang terbesar yang masuk ke tanah air. Terlebih, kebijakan yang diterapkan di negera tersebut lebih mendorong pelaku usaha nya untuk mengekspor barang keluar negeri. “Maka dengan demikian, jika tidak ada batasan jelas terkait hal ini tentunya pelaku usaha akan kesulitan untuk berkembang dan memasarkan produk local mereka,” pungkasnya.#ren