Wong Palembang Jadi Menteri

9

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi
Budi Karya Sumadi

Palembang, BP

Budi Karya Sumadi yang merupakan wong Palembang akhirnya ditunjuk menggantikan Ignatius Jonan sebagai Menteri Perhubungan dalam perombakan (reshuffle) kabinet jilid kedua.

Alumnus SMA Xaverius 1 Palembang angkatan 75 ini diangkat menjadi Menteri Perhubungan, menggantikan Ignasius Jonan. Sebelum menjadi Menteri Perhubungan, Budi merupakan Direktur Utama Angkasa Pura II.

Sebetulnya, nama Budi Karya bukanlah nama baru. Namanya sempat santer disebut-sebut menjadi calon Menteri Perumahan Rakyat pada awal penyusunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Budi mengatakan setelah resmi menjabat Menhub, dirinya akan banyak melakukan pembenahan terutama dalam soal manajemen birokrasi dan sumber daya manusia (SDM).

“Kementerian itu intinya manajemen, bagaimana kita me-manage suatu organisasi, tidak jauh beda dengan me-manage departemen. Saya sudah pegang korporasi itu dari tahun 1994, pola itu yang akan kita lakukan,” ujar Budi usai dilantik di Istana Negara, Rabu (27/7).

“Artinya, ada kita bicara mengenai teknis, tapi kita juga ada masalah sumber daya manusia, keuangan dan sebagainya. Jadi itu suatu format yang sudah biasa saya lakukan,” lanjut dia.

Mantan Dirut PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ini mengaku mendapat dua tugas khusus dari Presiden Jokowi. Tugas tersebut yaitu membangun konektivitas transportasi darat, laut dan udara yang telah dijalankan oleh menteri sebelumnya.

“Memperbaiki konektivitas dari laut, udara, darat, kereta api. Dan juga bagaimana memberdayakan dan menghargai stakeholder alias pemangku kepentingan. Stakeholder itu adalah masyarakat nomor satu. Masyarakat harus mendapatkan layanan yang maksimal,” ujar Budi.

Selanjutnya, Jokowi juga meminta Budi untuk membenahi manajemen birokrasi menjadi lebih berorientasi pada pelayanan terhadap masyarakat. “Bagaimana kita me-manage lebih tangguh operator. Bagaimana kita berdayakan supaya operator lah yang melakukan pekerjaan. Kita melakukan manajemen terhadap operator itu sendiri,” kata pria kelahiran Palembang, 18 Desember 1956.

Terkait persoalan kemacetan yang kerap terjadi setiap musim mudik Lebaran, Budi mengaku belum bisa memaparkan gagasannya saat ini. Ia masih harus mempelajari berbagai persoalan-persoalan tersebut dengan jajarannya di Kementerian Perhubungan.

“Jadi, kalau itu saya tidak bisa menjawab sekarang, karena serah terimanya baru besok. Jadi saya harus pelajari dulu kasusnya,” Budi menandaskan.

Sebelum menjabat sebagai Direktur Utama Angkasa Pura II, Budi pernah menjadi Direktur Utama PT Jakarta Propertindo, Direktur Utama PT TIJA (2004-2013), Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (2004-2013), Komisaris PT Philindo (2001-2013), Direktur Keuangan PT TIJA (2001-2004), Direktur Keuangan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (2001-2004), Presiden Direktur PT Wisma Jaya Artek (1996-2001), Direktur Pengembangan PT Jaya Garden Polis (1994-2001), Direktur Keuangan PT Jaya Real Property Tbk (1994-2001), Direktur Keuangan PT Jaya Land (1994-2001), Wakil Direktur PT Jaya Land (1992-1994), General Manager PT Semarang Bukit Jaya Metro (1991-1992), Manager Marketing Property PT Pembangunan Jaya Ancol (1989-1991), Staf Dept Real Estate pada Business Development Pembangunan & Property Management PT Pembangunan Jaya (1982-1991), Asisten Perencana PT Pualam TMR Yogya (1980-1981), Asisten Dosen Jurusan Arsitek FT UGM (1979-1980), Ass. Perencana Design Center FT UGM (1979)

Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di tanah kelahiran, SD Muhamadiah (1969), SMP Negeri I (1972) dan SMA Xaverius (1975). Melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Jurusan Arsitektur dan lulus 1981. # osk